Kemendagri Dukung Penguatan Kebijakan Sampah Menuju Transisi Energi
ASKARA - Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri turut memperkuat kebijakan dan implementasi pengelolaan sampah berkelanjutan di Indonesia, khususnya melalui pengembangan Waste-to-Energy (WtE) dan Refuse-Derived Fuel (RDF) sebagai jembatan antara sektor persampahan dan agenda transisi energi nasional. Melalui rapat SIPA Legacy and Way Forward: Pengelolaan Sampah Hulu-Hilir dan Kontribusi pada Transisi Energi yang dilaksanakan secara hybrid, beberapa waktu lalu di Ruang Benny S. Muljana (BSM), Kementerian PPN/Bappenas.
Dalam rilis yang diterima redaksi, Selasa (7/7/2026), rapat tersebut dibuka oleh Deputi Bidang Infrastruktur dan dihadiri oleh Direktur Sistem dan Strategi Penyelenggaraan Infrastruktur Cipta Karya Kementerian PU, perwakilan Kemendagri, KLH, Kementerian ESDM, LH Provinsi DKI Jakarta dan Kadis LH Cilacap. Dari Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri diwakili oleh Perencana Ahli Muda, Anita Putri Rahayu.
Program Sustainable Infrastructure Programme in Asia (SIPA) merupakan kerja sama Kementerian PPN/Bappenas dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia sejak 2024, diinisiasi oleh United Nations Development Programme (OECD). Program ini menghadapi tantangan yang masih perlu ditindaklanjuti, aspek kebijakan/kelembagaan, kelayakan model bisnis, kesiapan infrastruktur, dan kepastian permintaan dari sektor industri sebagai pengguna akhir, sehingga capaian SIPA diposisikan bukan sebagai keluaran proyek yang berhenti begitu saja, melainkan sebagai basis referensi kebijakan (evidence-based policy) yang perlu terus dimanfaatkan pasca berakhirnya program.
Pada sesi Executive Dialog, disampaikan bahwa Kementerian ESDM yang telah memiliki unit organisasi baru (direktorat energi baru) khusus menangani isu sampah menjadi energi, dengan fokus utama mengatasi kondisi darurat sampah agar sampah yang tidak terolah menjadi tercecer ke sungai atau laut.
Pendekatannya dibagi dua skala yaitu volume timbulan sampah dengan skala besar melalui PSEL dan skala menengah melalui pirolisis yang mampu mengolah semua jenis sampah asal telah melalui pengendapan dan pemilahan (plastik menjadi minyak pirolisis, sisanya jadi bahan bakar). Pirolisis menghasilkan empat produk bernilai ekonomi: biocharcoal, gas, minyak yang diturunkan menjadi nafta, dan minyak bakar. Saat ini, ada enam kota lain yang tengah disiapkan untuk skema pirolisis selain Benowo, dengan produk turunan seperti BBMT (Bahan Bakar Minyak Terbarukan).
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta menyampaikan bahwa salah satu tantangan DKI adalah resistensi masyarakat terhadap istilah "sampah", sehingga perlu diarahkan program dengan branding yang lebih positif, kemudian untuk offtaker gas metana sebagai pengganti LPG yang masih terkendala regulasi. Sampah organik (dahan dan daun yang dicacah jadi kompos) melimpah namun belum memiliki offtaker yang memadai.

Komentar