John Gebze: Senja Wasur Mengajarkan Makna Hidup dalam Kesederhanaan
ASKARA - Tokoh masyarakat Papua Selatan, John Gluba Gebze, membagikan refleksi kehidupan masyarakat adat di Wasur II, Merauke, melalui sebuah renungan senja yang sarat makna tentang kesederhanaan, harapan, dan keteguhan menjalani hidup.
Dalam pesannya, Sabtu (27/6/2026), John Gluba Gebze menggambarkan bahwa sebagaimana bumi terus berputar pada porosnya, kehidupan manusia pun terus berjalan mengikuti perjalanan waktu, dari fajar hingga senja, dari siang menuju malam.
"Dunia terus bergulir mengikuti poros rotasinya, hingga memasuki senja menuju malam. Manusia terus bergulat membentuk diri menuju harapan masing-masing," ungkapnya.
Menurut John Gluba Gebze, masyarakat adat di Wasur menjalani kehidupan dengan apa adanya. Mereka bekerja setiap hari bukan semata-mata mengejar kekayaan, melainkan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara layak sesuai kemampuan yang dimiliki.
"Mereka tidak berpikir tentang target yang muluk-muluk, tetapi bagaimana memenuhi kecukupan dari apa yang sedang dikerjakan dan ditekuni," katanya.
Ia menuturkan, kehidupan masyarakat adat mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dari banyaknya harta benda. Kesederhanaan, rasa syukur, serta kebersamaan dalam keluarga dan komunitas menjadi nilai yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
John Gluba Gebze juga mengingatkan bahwa pergantian hari tidak selalu mengubah kehidupan setiap orang. Bagi sebagian masyarakat di pelosok Papua Selatan, rutinitas yang sama terus dijalani dengan penuh kesabaran, mulai dari bekerja, beristirahat, hingga kembali menyambut fajar keesokan harinya.
"Hari boleh berganti, tetapi mereka tetap menjalani hidup dengan semangat yang sama. Hingga pada waktunya, ketika seseorang menutup usia, ia akan dikenang dan ditangisi oleh keluarga serta kaumnya," ujarnya.
Melalui renungan bertajuk "Renungan Senja dari Padepokan Wasur II Merauke", John Gluba Gebze mengajak masyarakat untuk memaknai kehidupan secara lebih mendalam. Menurutnya, setiap perjalanan hidup memiliki arti tersendiri, dan kesederhanaan yang dijalani dengan rasa syukur merupakan kekayaan yang tidak selalu dapat diukur dengan materi.
"Bagi masyarakat Wasur, hidup adalah tentang menjaga harapan, bekerja dengan tulus, dan menerima setiap pergantian waktu sebagai anugerah dari Sang Pencipta," tutupnya.

Komentar