Memperkuat Moderasi Beragama dan Pendidikan Bina Damai
Silaturahmi Romo Yos Bintoro ke Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku
ASKARA - Dalam rangkaian kunjungan kebangsaan dan dialog lintas iman di Kota Ambon, Romo Yos Bintoro, Pr., selaku Wakil Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) sekaligus Maheswara Madya Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), melaksanakan silaturahmi dengan jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku.
Kunjungan di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku ini disambut hangat oleh Ibu Farida Laisouw, Kepala Bidang Pendidikan Madrasah, Bernardus Fanulene, Pembimbing Masyarakat Katolik, serta Wayan Santika, Pembimbing Masyarakat Hindu.
Pertemuan berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kegembiraan. Berbagai gagasan strategis dibahas bersama, khususnya mengenai upaya membumikan nilai-nilai Pancasila dan moderasi beragama yang selama ini telah menjadi salah satu pilar penting dalam pembinaan kehidupan beragama di Maluku. Para peserta dialog sepakat bahwa moderasi beragama harus terus dikembangkan melalui pendidikan iman, pembinaan masyarakat, dan penguatan ruang-ruang dialog yang inklusif.
Dalam perbincangan tersebut juga mengemuka pentingnya memperkuat sinergi pelaksanaan tugas para Pembimbing Masyarakat (Bimas) di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Maluku. Salah satu potensi besar yang dinilai dapat terus dikembangkan adalah kolaborasi dengan umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri - yang dilayani oleh Keuskupan Umat Katolik TNI dan Polri yang berhimpun dalam Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI). Kehadiran OCI dipandang memiliki peran strategis dalam menjembatani nilai-nilai kebangsaan, pelayanan keagamaan, serta penguatan persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Perjumpaan tersebut juga dipahami sebagai salah satu bentuk pengejawantahan semangat Deklarasi Istiqlal, yang mendorong kerja sama lintas agama dan lintas institusi dalam membangun kehidupan bersama yang damai, berkeadaban, dan berorientasi pada kesejahteraan umat manusia. Dalam konteks itu, nilai-nilai ekoteologi dan kurikulum cinta yang menjadi program prioritas Kementerian Agama dipandang memiliki relevansi yang kuat untuk terus dikembangkan dalam kehidupan masyarakat Maluku yang plural.
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya memperkuat sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan nilai-nilai kebangsaan dalam membangun masyarakat Indonesia yang rukun, damai, dan berkeadaban. Dalam perspektif tersebut, moderasi beragama sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari aktualisasi nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara sekaligus pandangan hidup bangsa Indonesia.
Pancasila dan Moderasi Beragama
Dalam dialog yang berlangsung hangat, Romo Yos menegaskan bahwa pengalaman Maluku merupakan contoh nyata bagaimana nilai-nilai Pancasila bekerja dalam kehidupan masyarakat.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan penghormatan terhadap keyakinan setiap warga negara. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab mengingatkan bahwa martabat manusia harus ditempatkan di atas segala perbedaan identitas. Persatuan Indonesia menjadi fondasi bagi rekonsiliasi sosial, sedangkan musyawarah dan keadilan sosial menjadi jalan bersama untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Sebagai Maheswara Madya BPIP, Romo Yos memandang bahwa moderasi beragama pada hakikatnya adalah pengejawantahan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pendidikan moderasi beragama dan pendidikan Pancasila tidak boleh berjalan sendiri-sendiri, melainkan harus saling memperkuat dalam membentuk karakter generasi muda Indonesia.
Kurikulum Cinta Kasih dan Pendidikan Perdamaian
Perhatian khusus dalam pertemuan ini diberikan pada pengembangan *Kurikulum Cinta Kasih* yang saat ini menjadi salah satu arah pembinaan pendidikan di lingkungan Kementerian Agama.
Para peserta dialog melihat bahwa pengalaman konflik sosial yang pernah terjadi di Maluku memberikan pelajaran penting bahwa pendidikan perdamaian harus dimulai sejak usia dini. Anak-anak perlu dibentuk bukan hanya menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, kemampuan berdialog, semangat gotong royong, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Dalam konteks tersebut, Kurikulum Cinta Kasih dapat menjadi wahana strategis untuk mengintegrasikan nilai-nilai agama, nilai-nilai Pancasila, dan kearifan lokal Maluku seperti Pela Gandong serta semangat hidup orang basudara.
Melalui pendekatan ini, sekolah dan madrasah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan juga ruang pembentukan karakter perdamaian dan persaudaraan.
Dari Ambon untuk Indonesia
Menurut Romo Yos, Maluku memiliki modal sosial yang sangat berharga untuk menjadi laboratorium nasional moderasi beragama dan pendidikan perdamaian.
Pengalaman rekonsiliasi yang dibangun oleh para tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, akademisi, serta unsur TNI dan Polri menunjukkan bahwa perdamaian dapat tumbuh ketika masyarakat berani menempatkan kemanusiaan di atas perbedaan.
"Sebagai bangsa Pancasila, kita tidak dipanggil untuk menyeragamkan perbedaan, melainkan merawatnya dalam persaudaraan. Apa yang telah dibangun masyarakat Maluku selama lebih dari dua dekade terakhir merupakan pelajaran berharga bagi Indonesia dan bahkan dunia. Dari Ambon kita belajar bahwa perdamaian bukan hanya sebuah cita-cita, melainkan sebuah keputusan bersama yang harus terus dirawat melalui pendidikan, dialog, dan keteladanan," ungkap Romo Yos.
Ada benang merah yang sangat kuat dalam rangkaian kunjungan silaturahim Romo Yos Bintoro, di Kota Ambon. Semuanya bertemu pada satu titik yang sama, yakni merawat perdamaian melalui pembentukan karakter manusia.
Kalau dirangkum dalam satu kalimat besar, mungkin dapat dirumuskan demikian:
> "Perdamaian tidak lahir hanya dari berhentinya konflik, tetapi dari pendidikan hati yang terus-menerus menumbuhkan penghormatan terhadap martabat manusia, persaudaraan, dan cinta tanah air."
Dalam perspektif pembumian nilai-nilai Pancasila narasi Maluku menjadi sangat menarik karena terdapat tiga lapis kekuatan sosial yang bekerja bersama, yakni:
1. Kearifan Lokal dimana Pela Gandong, Latupati, dan semangat hidup orang basudara menjadi kekuatan kultur setempat.
2. Nilai Keagamaan dimana Moderasi beragama yang diinisiasi dalam Deklarasi Abu Dhabi, Deklarasi Istiqlal, Fratelli Tutti, dan pendidikan cinta kasih kurikulum integratif yang diusung Kemenag.
3. Nilai Kebangsaan yang menghadirkan nilai-nilai Pancasila sebagai rumah bersama yang mempersatukan seluruh perbedaan.
Ketika ketiga lapis ini bertemu, lahirlah apa yang oleh Paus Fransiskus disebut dalam Fratelli Tutti sebagai budaya persaudaraan sosial (social friendship). Bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi hidup saling menjaga sebagai saudara.
Romo Yos merumuskan sejatinya *"Maluku adalah Sekolah Perdamaian dari Timur Indonesia"*
Pengalaman Sabatical Journey ini seperti menyusun kepingan mozaik yang membentuk satu gambaran besar pada bangunan rekonsiolasi nasional dimana Indonesia yang damai dibangun bukan oleh satu kelompok, melainkan oleh orang-orang yang bersedia menjadi jembatan.
"Dari Ambon kita belajar: persaudaraan lebih kuat daripada luka sejarah."
Salam sehat, berlipah berkat.
+ Rm. Yos. Bintoro, Pr

Komentar