Romo Yos Bintoro: Majelis Latupati Benteng Perdamaian dan Persaudaraan Maluku
ASKARA - Romo Yos Bintoro, Pr menilai Majelis Latupati memiliki peran strategis dalam menjaga perdamaian, persaudaraan, dan keutuhan masyarakat Maluku pascakonflik sosial yang pernah mengguncang daerah tersebut pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Pandangan itu disampaikan Romo Yos usai bersilaturahmi dan berdiskusi dengan para Raja Negeri yang tergabung dalam Majelis Latupati di Ambon, beberapa waktu lalu, dalam rangkaian Sabatical Journey di Kepulauan Maluku dan Maluku Utara.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi forum berbagi pengalaman mengenai perjalanan panjang masyarakat Maluku dalam membangun kembali kepercayaan, memperkuat persaudaraan, serta merawat perdamaian yang lahir dari kearifan lokal.
"Kehadiran Majelis Latupati merupakan kekuatan penting dalam menjaga harmoni masyarakat Maluku. Mereka adalah para pemangku adat dan penjaga persaudaraan serahim yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku," kata Romo Yos, Rabu (24/6).
Dalam forum silaturahmi sekaligus Focus Group Discussion (FGD) tersebut, Romo Yos menyimak berbagai pengalaman yang disampaikan para Raja Negeri, di antaranya Raja Batu Merah yang beragama Islam dan Raja Amausu yang beragama Kristen.
Menurut Romo Yos, perjumpaan tersebut memperlihatkan betapa kuatnya semangat saling percaya yang berhasil dibangun para Latupati setelah konflik sosial berlalu.
"Pasca kerusuhan, para Latupati mampu menciptakan ruang kebersamaan untuk duduk bersama, saling percaya, berbicara terbuka tanpa rasa takut maupun intimidasi. Semua berangkat dari tekad yang sama, yaitu menjaga persatuan di atas tanah para raja di Maluku," ujarnya.
Romo Yos mengungkapkan salah satu pelajaran penting yang ia peroleh dari dialog tersebut adalah kenyataan bahwa ketika konflik terjadi, masyarakat adat justru menjadi garda terdepan dalam melindungi warga yang berbeda agama.
"'Dorang' berkonflik, tetapi masyarakat adat yang berbeda iman tetap menjadi pelindung bagi kelompok minoritas. Ini merupakan kesaksian nyata tentang kerukunan sejati di tengah konflik," katanya.
Dalam diskusi itu, para wakil Majelis Latupati juga mengingatkan, masyarakat Maluku sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar utama kehidupan bersama, yakni pemerintah, pemuka agama, dan tetua adat. Ketiga unsur tersebut menjadi penyangga utama stabilitas sosial dan budaya masyarakat Maluku.
Romo Yos menjelaskan, penguatan kembali Majelis Latupati pada 15 Februari 2003 menjadi salah satu tonggak penting dalam proses rekonsiliasi pascakonflik. Langkah tersebut mendapat dukungan berbagai tokoh nasional dan daerah yang meyakini bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui pendekatan keamanan dan politik semata, melainkan juga melalui budaya dan kearifan lokal.
Melalui revitalisasi Majelis Latupati, nilai-nilai Pela Gandong kembali dihidupkan sebagai fondasi persaudaraan lintas agama, lintas negeri, dan lintas komunitas.
Saat ini, sekitar 525 Raja Negeri masih menjalankan fungsi adat di berbagai wilayah Maluku. Mereka tidak hanya menjadi simbol tradisi, tetapi juga berperan aktif menjaga dialog, merawat rekonsiliasi, dan memperkuat kohesi sosial masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Romo Yos juga memaparkan konsep bina damai yang dikembangkan pakar perdamaian Johan Galtung. Menurutnya, praktik yang dijalankan para Raja Negeri sesungguhnya telah mencerminkan implementasi teori tersebut melalui pemberdayaan komunitas berbasis kearifan lokal.
"Para Latupati telah menghadirkan model bina damai melalui reformasi kesadaran, struktur, dan kultur masyarakat yang berakar pada nilai-nilai adat dan persaudaraan," jelasnya.
Romo Yos menilai pengalaman Maluku dalam membangun perdamaian memiliki nilai pembelajaran yang sangat penting bagi Indonesia yang majemuk. Ia bahkan menyebut nilai Pela Gandong sebagai contoh nyata semangat persaudaraan universal yang sejalan dengan ensiklik Fratelli Tutti yang digagas Paus Fransiskus.
"Jika Fratelli Tutti berbicara tentang persaudaraan universal bagi dunia, maka Pela Gandong adalah Fratelli Tutti yang telah lama hidup dan berakar di bumi Maluku," ujar Wakil Uskup Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) untuk umat Katolik di lingkungan TNI dan Polri tersebut.
Ia berharap semangat Pela Gandong, kebijaksanaan para Raja Negeri, dan peran Majelis Latupati terus menjadi fondasi dalam menjaga Maluku tetap damai, rukun, dan menjadi teladan kebhinekaan bagi Indonesia.
"Bina damai yang lahir dari kearifan lokal Maluku patut menjadi pembelajaran bagi bangsa. Persaudaraan yang dirawat akan melahirkan perdamaian, dan perdamaian akan menjadi fondasi kemajuan masyarakat serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," pungkasnya.

Komentar