Romo Yos: Pela Gandong Wujud Nyata Fratelli Tutti
ASKARA - Di tengah semangat menjaga persaudaraan dan perdamaian yang telah lama menjadi denyut kehidupan masyarakat Maluku, Romo Yos Bintoro, Pr., melakukan silaturahmi dengan para perwakilan Majelis Latupati di Kota Ambon, Jumat (5/6/2026).
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan itu menjadi ruang dialog untuk berbagi pengalaman, harapan, serta refleksi mengenai perjalanan panjang masyarakat Maluku dalam merawat harmoni sosial pascakonflik dan menjaga warisan budaya yang menjadi fondasi kehidupan bersama.
Dalam perbincangan tersebut, para wakil Majelis Latupati mengingatkan bahwa kekuatan masyarakat Maluku sejak dahulu bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pemerintah, pemuka agama, dan para tetua adat. Ketiganya ibarat tiga tungku yang menopang kehidupan masyarakat agar tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan zaman.
Menurut mereka, kehadiran kembali Majelis Latupati sebagai wadah para Raja dan pemimpin adat negeri-negeri di Maluku memiliki arti strategis dalam proses rekonsiliasi pascakonflik sosial yang pernah melanda Maluku pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Momentum penting penguatan kembali lembaga adat tersebut terjadi pada 15 Februari 2003. Saat itu, sejumlah tokoh nasional dan daerah yang memiliki komitmen kuat terhadap perdamaian memberikan dukungan terhadap revitalisasi peran Majelis Latupati, di antaranya Drs. Muhammad Yusuf Kalla, Prof. Ichsan Malik, dan Prof. Dr. Abidin Wakano, M.Ag., bersama berbagai tokoh masyarakat lainnya.
Mereka menyadari bahwa penyelesaian konflik tidak cukup dilakukan melalui pendekatan keamanan dan politik semata. Kearifan budaya lokal dan peran adat menjadi bagian penting dalam membangun kembali kepercayaan serta persaudaraan yang sempat retak.
Melalui Majelis Latupati, nilai-nilai luhur Pela Gandong kembali dihidupkan sebagai fondasi persaudaraan lintas negeri, lintas agama, dan lintas komunitas. Nilai tersebut mengingatkan bahwa masyarakat Maluku sesungguhnya berasal dari akar persaudaraan yang sama sehingga perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling menjauh ataupun bermusuhan.
Para wakil Majelis Latupati juga menyampaikan bahwa hingga kini terdapat sekitar 525 Raja Negeri yang masih menjalankan fungsi adat dan menjadi penjaga nilai-nilai budaya di berbagai wilayah Kepulauan Maluku. Keberadaan mereka tidak hanya sebagai simbol tradisi, tetapi juga menjadi kekuatan sosial yang menjaga dialog, mendorong rekonsiliasi, dan merawat keharmonisan masyarakat.
Romo Yos menilai pertemuan tersebut meninggalkan kesan mendalam. Di tengah arus modernisasi, perubahan sosial, dan derasnya informasi yang dapat memicu berbagai gesekan, peran lembaga adat tetap relevan dan dibutuhkan.
"Majelis Latupati membuktikan bahwa perdamaian yang sejati tidak hanya dibangun melalui kesepakatan formal, tetapi juga melalui penghormatan terhadap identitas budaya, penghargaan terhadap martabat manusia, dan kesediaan untuk merawat persaudaraan sebagai warisan bersama," ujarnya, Selasa (23/6).
Menurut Romo Yos, pengalaman Maluku juga memiliki keselarasan dengan pesan yang disampaikan Paus Fransiskus dalam ensiklik Fratelli Tutti atau Kita Semua Bersaudara. Dalam dokumen tersebut, Paus mengajak seluruh umat manusia membangun budaya perjumpaan (culture of encounter), saling mendengarkan, menghormati perbedaan, dan berjalan bersama demi perdamaian.
Bagi Romo Yos, apa yang telah dilakukan masyarakat Maluku melalui revitalisasi Majelis Latupati dan penguatan kembali nilai Pela Gandong merupakan contoh nyata semangat persaudaraan universal yang diajarkan Gereja.
"Jika Fratelli Tutti berbicara tentang persaudaraan universal bagi dunia, maka Pela Gandong adalah Fratelli Tutti yang telah lama hidup dan berakar di bumi Maluku," ungkapnya.
Ia menambahkan, Maluku yang damai hari ini merupakan buah dari dialog panjang, doa, pengorbanan, serta kerja sama antara pemerintah, tokoh agama, pemimpin adat, dan seluruh elemen masyarakat.
Karena itu, perdamaian harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi muda agar semangat ale rasa beta rasa tidak hanya menjadi slogan, tetapi benar-benar menjadi cara hidup masyarakat Maluku.
Silaturahmi tersebut semakin meneguhkan keyakinan bahwa persaudaraan adalah kekuatan terbesar masyarakat Maluku. Ketika persaudaraan dijaga, damai akan tumbuh. Ketika damai tumbuh, pembangunan akan berkembang. Dan ketika masyarakat hidup dalam persaudaraan, Maluku akan terus menjadi berkat bagi Indonesia dan dunia.

Komentar