Jumat, 19 Juni 2026 | 07:31
COMMUNITY

Dari Den Haag ke PBB Mengelola Krisis Air Dunia

Dari Den Haag ke PBB Mengelola Krisis Air Dunia
Retno Marsudi (ai)

ASKARA - Dua puluh lima tahun lalu, Retno Marsudi hanyalah seorang diplomat karier yang bertugas menangani urusan ekonomi Indonesia di Belanda. Namanya belum dikenal luas publik. Namun pada 2024, perempuan yang meniti karier dari jenjang bawah diplomasi itu dipercaya Perserikatan Bangsa Bangsa menjadi Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Air. Perjalanan tersebut bukan sekadar kisah sukses individu, melainkan cermin bagaimana kompetensi, konsistensi, dan reputasi internasional dapat mengantarkan seorang diplomat Indonesia ke pusat tata kelola isu global yang semakin strategis.

Retno Lestari Priansari Marsudi lahir di Semarang, Jawa Tengah, pada 27 November 1962. Setelah menyelesaikan pendidikan Hubungan Internasional di Universitas Gadjah Mada, ia bergabung dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia pada 1986. Kariernya berkembang melalui jalur diplomasi profesional yang relatif panjang dan bertahap, jauh sebelum publik mengenalnya sebagai Menteri Luar Negeri perempuan pertama dalam sejarah Indonesia. Fakta mengenai latar belakang dan perjalanan karier awal Retno dapat ditemukan dalam profil resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta artikel "Retno Marsudi" yang dipublikasikan Encyclopaedia Britannica dan diperbarui pada 2025.

Salah satu fase penting dalam perjalanan diplomatiknya terjadi ketika ia ditugaskan sebagai Sekretaris Satu Bidang Ekonomi di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda, pada periode 1997 hingga 2001. Penugasan tersebut berlangsung pada masa yang sangat krusial karena Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi Asia yang mengguncang stabilitas nasional. Dalam situasi seperti itu, diplomasi ekonomi menjadi instrumen penting untuk menjaga kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia. Data mengenai penugasan Retno di Den Haag tercantum dalam profil resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia yang diperbarui pada 2024.

Jabatan sebagai sekretaris bidang ekonomi mungkin tidak terdengar prestisius dibanding posisi menteri atau duta besar. Namun justru dari posisi inilah Retno memperoleh pengalaman yang kelak membentuk perspektif globalnya. Diplomasi ekonomi mengharuskan seorang diplomat memahami investasi, perdagangan, pembangunan, dan hubungan bilateral secara mendalam. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia menghadapi isu yang lebih kompleks pada jenjang karier berikutnya.

Kemampuan dan rekam jejaknya kemudian mendapat pengakuan. Pada 2003, Retno dipercaya menjadi Direktur Eropa Barat di Kementerian Luar Negeri. Dua tahun kemudian, ia ditunjuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Norwegia dan Islandia. Penugasan ini menjadi titik penting karena Norwegia merupakan salah satu negara yang aktif dalam diplomasi lingkungan, perubahan iklim, dan pembangunan berkelanjutan. Informasi tersebut tercatat dalam profil resmi Retno Marsudi yang dipublikasikan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta artikel "Retno Marsudi Appointed as UN Special Envoy on Water" yang diterbitkan United Nations pada 13 September 2024.

Puncak karier nasional Retno terjadi ketika Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Luar Negeri pada Oktober 2014. Penunjukan itu mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya Indonesia memiliki Menteri Luar Negeri perempuan. Retno kemudian menjabat selama dua periode pemerintahan hingga Oktober 2024, menjadikannya salah satu Menteri Luar Negeri dengan masa jabatan terpanjang dalam era reformasi. 

Selama satu dekade memimpin diplomasi Indonesia, Retno menghadapi berbagai tantangan global. Mulai dari perlindungan warga negara Indonesia di luar negeri, diplomasi ekonomi, pandemi Covid 19, konflik geopolitik, hingga perjuangan diplomatik Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina. Dalam banyak forum internasional, ia dikenal sebagai diplomat yang tenang, tegas, dan konsisten memperjuangkan prinsip multilateralisme. 

Namun pencapaian terbesar Retno setelah meninggalkan kabinet justru datang dari panggung global. Pada 13 September 2024, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa António Guterres mengumumkan penunjukan Retno Marsudi sebagai United Nations Secretary General's Special Envoy on Water atau Utusan Khusus PBB untuk Air. Penugasan tersebut mulai berlaku efektif pada 1 November 2024. 

Penunjukan ini bukan sekadar penghargaan atas perjalanan karier seorang diplomat. Jabatan tersebut lahir di tengah meningkatnya kekhawatiran dunia terhadap krisis air global. Menurut laporan UNESCO berjudul "United Nations World Water Development Report 2024 Water for Prosperity and Peace" yang diterbitkan pada Maret 2024, sekitar 2,2 miliar penduduk dunia masih hidup tanpa akses terhadap air minum yang aman. Krisis iklim memperburuk situasi melalui kekeringan, banjir, dan menurunnya kualitas sumber daya air di berbagai kawasan.

Di sinilah makna strategis pengangkatan Retno menjadi penting. PBB membutuhkan figur yang mampu menjembatani kepentingan negara maju dan negara berkembang dalam isu air yang semakin kompleks. Air bukan lagi sekadar persoalan lingkungan hidup. Ia telah menjadi isu ekonomi, pembangunan, kesehatan, pangan, energi, bahkan keamanan internasional. Tantangan tersebut membutuhkan kemampuan diplomasi tingkat tinggi yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari pengalaman Retno.

Bagi Indonesia, penunjukan ini juga memiliki nilai simbolik dan strategis. Selama beberapa dekade, posisi posisi penting dalam organisasi internasional lebih sering diisi tokoh dari negara negara Barat. Kehadiran seorang diplomat perempuan Indonesia dalam jabatan baru yang sangat strategis menunjukkan meningkatnya pengakuan dunia terhadap kapasitas diplomasi Indonesia. 

Meski demikian, jabatan baru tersebut juga membawa tantangan besar. Krisis air merupakan salah satu persoalan global yang paling sulit diselesaikan karena menyangkut kepentingan lintas negara, kebutuhan pembangunan, dan dampak perubahan iklim. Tidak ada solusi tunggal untuk mengatasi persoalan tersebut. Retno harus mampu membangun konsensus internasional di tengah kepentingan politik dan ekonomi yang sering kali saling bertentangan.

Di luar berbagai pencapaian diplomatiknya, Retno tetap dikenal sebagai sosok yang sederhana dan humanis. Ia menjalani kehidupan keluarga bersama suaminya, Agus Marsudi, seorang arsitek, dan membesarkan dua anak di tengah kesibukan diplomasi internasional. Karakter pribadi yang rendah hati dan tidak berlebihan dalam membangun citra publik turut memperkuat reputasinya di dalam maupun luar negeri. Informasi tersebut dimuat dalam berbagai profil tokoh yang diterbitkan Kompas.com dan Tempo.co sepanjang 2024.

Kisah Retno Marsudi pada akhirnya bukan hanya tentang seorang perempuan yang berhasil mencapai posisi tinggi dalam pemerintahan dan organisasi internasional. Kisah ini adalah refleksi tentang bagaimana profesionalisme, integritas, dan ketekunan dapat menghasilkan kepercayaan yang melampaui batas negara. Dari seorang sekretaris bidang ekonomi di Den Haag hingga menjadi Utusan Khusus PBB untuk Air, perjalanan Retno menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia mampu melahirkan tokoh yang diperhitungkan di panggung dunia. Di tengah ancaman krisis air yang semakin nyata, kehadirannya di jantung tata kelola global menjadi lebih dari sekadar prestasi pribadi. Ia menjadi simbol meningkatnya peran Indonesia dalam menjawab tantangan besar abad ke 21.

Komentar