Tanah Kian Lelah, Praktisi Kopi Gayo Ingatkan Ancaman Penguasaan Lahan oleh Pihak Luar
ASKARA - Praktisi Kopi Arabika Gayo, Zaini, melontarkan peringatan keras kepada para petani kopi di dataran tinggi Gayo agar segera bertransformasi menuju pola pertanian modern dan berkelanjutan. Menurutnya, kerusakan kualitas tanah akibat penggunaan bahan kimia dalam jangka panjang serta rendahnya produktivitas dapat membuka peluang penguasaan lahan oleh pihak luar.
Pesan tersebut disampaikan Zaini saat menjadi narasumber dalam kegiatan Sekolah Lapang Pertanian Regeneratif yang diselenggarakan Kelompok Perhutanan Sosial Gayo Forest Natural Park dan difasilitasi Lembaga Ikatan Pemuda Gayo Antara (LIPGA), Sabtu (13/6/2026) malam. Kegiatan itu merupakan bagian dari perencanaan pembangunan Kebun Induk Kopi Arabika Gayo.
"Jangan hanya menjadi petani turun-temurun. Tanah kita sudah lelah. Kalau tidak berubah, bukan tidak mungkin kebun-kebun kita nantinya dikuasai pihak luar," ujar Zaini.
Tanah Mulai Kehilangan Kesuburan
Menurutnya, persoalan mendasar yang dihadapi kopi Gayo saat ini bukan semata fluktuasi harga, melainkan menurunnya kesehatan tanah akibat penggunaan herbisida dan pupuk kimia secara terus-menerus.
"Tanah sudah sakit. Banyak bakteri baik yang hilang karena residu bahan kimia. Padahal kesehatan tanah merupakan fondasi utama kualitas dan produktivitas kopi," katanya.
Zaini menjelaskan, tingkat keasaman (pH) tanah ideal bagi budidaya Kopi Arabika Gayo berada pada angka 6,5. Namun, hingga kini banyak petani belum memiliki alat pengukur pH tanah sehingga pengelolaan lahan masih dilakukan secara konvensional.
"Tanpa pH yang ideal, pupuk semahal apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal," tegasnya.
Ia juga menilai sistem budidaya yang selama ini berkembang di Gayo sebenarnya telah terbukti mampu menghasilkan kopi berkualitas. Karena itu, fokus utama saat ini adalah memulihkan kesuburan tanah dan mengembalikan keseimbangan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.
Ancaman Penguasaan Lahan
Zaini menilai rendahnya produktivitas kebun berpotensi mendorong petani menjual lahannya. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat menjadi pintu masuk bagi pihak luar untuk menguasai lahan-lahan produktif di kawasan Gayo.
"Kalau hasil kebun terus menurun dan petani tidak mampu bertahan, lama-kelamaan lahan bisa berpindah tangan. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal kedaulatan petani Gayo," katanya.
Ia optimistis produktivitas kopi dapat meningkat secara signifikan apabila petani menerapkan teknik budidaya yang tepat. Menurutnya, dengan pengelolaan modern, setiap batang kopi berpotensi menghasilkan hingga dua kilogram biji kopi kering.
Perlu Pengembangan dan Riset Serius
Tenaga Ahli Satgas Posko Rehab Rekon Aceh, Zam Zam Mubarak, menyambut baik berbagai masukan yang disampaikan Zaini. Menurutnya, upaya menjaga kualitas dan keberlanjutan Kopi Arabika Gayo sejalan dengan perlindungan indikasi geografis yang telah diakui secara internasional, termasuk di Uni Eropa.
"Pernyataan Pak Zaini sejalan dengan upaya perlindungan Kopi Arabika Gayo yang telah memiliki sertifikat Indikasi Geografis dan terdaftar di Uni Eropa. Kebijakan strategis dari pemerintah pusat sudah ada, sekarang yang dibutuhkan adalah langkah nyata dan berkelanjutan," ujarnya.
Zam Zam menambahkan, Kopi Arabika Gayo memiliki potensi besar untuk memperkuat perekonomian dan fiskal daerah. Oleh karena itu, pengembangan teknologi budidaya serta penelitian yang berkelanjutan dinilai menjadi kebutuhan mendesak.
"Pengembangan dan riset kopi harus dilakukan secara serius agar kopi Gayo tetap menjadi kebanggaan Aceh dan mampu memberikan kesejahteraan bagi petaninya," katanya.
Bagi para pegiat kopi Gayo, menjaga kesehatan tanah dan meningkatkan kapasitas petani bukan sekadar urusan produksi, melainkan bagian dari menjaga keberlanjutan salah satu komoditas unggulan Indonesia yang telah mendunia.

Komentar