Senin, 03 Agustus 2026 | 00:39
COMMUNITY

Lentera Digital PKBM Angsa Laut Buka Akses Teknologi Orang Papua

Lentera Digital PKBM Angsa Laut Buka Akses Teknologi Orang Papua
Suasana belajar mengajar di PKBM Angsa Laut Pokjar Kampung Buti, Kelurahan Samkai, Merauke (Dok Winona)

ASKARA - Di tengah keterbatasan fasilitas belajar, semangat untuk menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi terus menyala di ujung timur Indonesia. Kisah inspiratif itu hadir dari PKBM Angsa Laut Pokjar Buti, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, yang mengembangkan pembelajaran berbasis gawai bagi warga belajar Program Paket.

PKBM Angsa Laut yang berdiri sejak 2012 kini memiliki dua kelompok belajar, yakni di Kampung Buti dan Kelurahan Karang Indah. Pendiri PKBM Angsa Laut, Pristia Wardanni, S.Sos.I., Gr., atau akrab disapa Tia, menuturkan bahwa inovasi tersebut bertujuan membekali warga belajar dengan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi digital.

"Target dari program ini agar warga belajar Program Paket yang mayoritas merupakan Orang Asli Papua (OAP) dengan usia rata-rata 23 tahun ke atas memiliki kemampuan beradaptasi dengan dunia teknologi," ujar Tia saat ditemui di lokasi kegiatan belajar mengajar, Rabu (3/6/2026).

Meski proses belajar berlangsung di ruang sederhana beratap seng dan sebagian peserta harus belajar dengan posisi melantai, semangat mereka untuk mengenal teknologi tidak surut. Bahkan, para peserta yang mayoritas OAP menunjukkan antusiasme tinggi saat mulai menggunakan telepon pintar sebagai media pembelajaran.

Tia, yang sehari-hari juga mengajar di SMP BP Al-Munawaroh, secara perlahan mengajak peserta didiknya meninggalkan metode belajar konvensional dengan mencatat di buku dan beralih memanfaatkan gawai yang mereka miliki.

Untuk mendukung proses tersebut, ia memperkenalkan berbagai aplikasi pembelajaran interaktif seperti Quizizz dan Wordwall. Melalui aplikasi tersebut, materi pelajaran yang sebelumnya dianggap rumit dapat disajikan secara visual, menarik, dan lebih mudah dipahami oleh peserta didik dewasa.

Namun, perjalanan menuju digitalisasi pembelajaran tidak berlangsung tanpa tantangan. Banyak peserta yang baru pertama kali berinteraksi dengan aplikasi digital mengalami kebingungan dan bahkan sempat mengalami "culture shock" karena faktor usia.

Beberapa peserta, termasuk para mama-mama Papua, terlihat ragu saat harus mengoperasikan gawai dan memilih jawaban pada aplikasi pembelajaran.

Situasi itu membuat Tia harus bekerja ekstra memberikan pendampingan satu per satu. Dengan penuh kesabaran, ia berpindah dari satu peserta ke peserta lainnya untuk membantu mereka memahami cara menggunakan aplikasi.

"Ayo Mama, pelan-pelan saja, sentuh pilihan warna yang ini. Mama pasti bisa," kata Tia memberi semangat kepada salah seorang peserta yang kesulitan.

Usaha tersebut membuahkan hasil. Ketegangan yang sempat terasa di ruang belajar sederhana itu berubah menjadi kegembiraan ketika salah satu peserta berhasil menjawab soal dengan benar dan gawainya mengeluarkan bunyi animasi penanda skor.

Sorak sorai dan tawa pun pecah di dalam kelas. Rasa takut terhadap teknologi perlahan menghilang dan berganti dengan semangat belajar serta kompetisi sehat. Para peserta bahkan mulai saling membantu ketika ada rekan mereka yang mengalami kesulitan.

Kegiatan belajar yang berlangsung setiap Senin, Rabu, dan Jumat pukul 14.00 hingga 17.00 WIT itu dikelola Tia bersama suaminya, Busura Kelderak, yang juga menjadi tutor pendamping.

Bagi Tia, keberhasilan pembelajaran digital di PKBM Angsa Laut menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan tidak harus menunggu fasilitas yang serba lengkap atau gedung yang megah.

"Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar, kreativitas dalam mengajar, dan kesabaran dalam mendampingi," ujarnya.

Menjelang akhir pembelajaran pukul 17.00 WIT, senyum puas tampak menghiasi wajah para warga belajar. Momentum tersebut menjadi bukti nyata bahwa teknologi dapat menjadi jembatan inklusi pendidikan yang membuka kesempatan belajar lebih luas bagi Orang Asli Papua.

Di bawah atap sederhana dan beralaskan terpal, PKBM Angsa Laut membuktikan bahwa digitalisasi pendidikan dapat tumbuh dari tempat yang paling sederhana sekalipun, selama ada dedikasi dan kepedulian untuk mencerdaskan sesama.

 

Komentar