Prof. Rokhmin Dahuri: Idul Adha Momentum Tumbuhkan Solidaritas Umat, Tangan di Atas Lebih Baik dari Tangan di Bawah
ASKARA – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menegaskan bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah momentum taqarrub ilallah sekaligus sarana menumbuhkan solidaritas umat.
“Idul Adha mengajarkan kita dua dimensi: hablun minallah dan hablun minannas. Salat meneguhkan hubungan kita dengan Allah, sedangkan kurban menguatkan kepedulian kita pada sesama,” ujar Prof. Rokhmin dalam tausiahnya yang dikutip dari berbagai sumber, Jum'at (29/5).
Ia mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Adha sebagai titik balik menyembelih ego, kesombongan, dan sifat rakus. “Tidak boleh ada kemewahan yang menindas kemiskinan. Islam adalah agama rahmat, dan rahmat itu hadir bila kita menghadirkan cinta kasih di tengah masyarakat.”
Prof. Rokhmin juga mengingatkan pesan Rasulullah SAW: “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.” Artinya, menjadi pemberi lebih mulia daripada menjadi peminta. “Spirit kurban harus melahirkan spirit berbagi. Bagikan daging kurban, santuni yang lemah, bantu korban bencana. Itulah wujud nyata solidaritas umat,” tegas Rektor Universitas UMMI Bogor ini.
Keteladanan Nabi Ibrahim & Tanggung Jawab Publik
Prof. Rokhmin meneladankan kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS sebagai bentuk totalitas ketaatan kepada Allah SWT. “Ikhlas, tunduk, dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya. Itulah esensi kurban.”
Dalam konteks kekinian, ia juga mendorong negara hadir mengawasi kualitas hewan kurban. “Bulog dan Badan Pangan Nasional harus pastikan hewan kurban yang beredar sehat dan layak. Ibadah kita jangan sampai cacat karena kelalaian.”
Kemudian, Prof. Rokhmin Dahuri berpesan: 1. Perkuat takwa: Kurban adalah bukti syukur atas nikmat Allah. 2. Tumbuhkan solidaritas: Jadikan Idul Adha momentum berbagi, bukan sekadar seremoni tahunan. 3. Jadi tangan di atas: Utamakan memberi, tolong-menolong, dan dahulukan yang membutuhkan. 4. Jaga amanah ibadah: Pastikan hewan kurban sehat, halal, dan distribusinya tepat sasaran.
“Yang sampai kepada Allah bukan daging dan darahnya, melainkan ketakwaan kita. Maka sembelihlah sifat hewani dalam diri, dan tumbuhkan solidaritas sebagai umat yang satu tubuh,” kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University.
Tiga Dimensi Idul Adha
Prof. Rokhmin Dahuri menekankan tiga dimensi penting Idul Adha: ketakwaan vertikal, solidaritas horizontal, dan tanggung jawab publik dalam menjamin ibadah kurban yang aman dan berkualitas.
1. Idul Adha: Ibadah Taqarrub dan Syukur
Dalam keterangannya, Prof. Rokhmin Dahuri menyebut Idul Adha sebagai refleksi untuk mendekatkan diri kepada Allah taqarrub ilallah. “Kurban disyariatkan bagi yang mampu sebagai bentuk syukur atas nikmat yang tak terhingga, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Kautsar: 1-3. Perintahnya jelas: dirikan salat dan berkurban,” ujarnya, mengutip pesan Rasulullah SAW bahwa orang yang mampu namun enggan berkurban diminta tidak mendekati tempat salat.
Bagi Prof. Rokhmin, Idul Adha punya dua dimensi: hablun minallah dan hablun minannas. Salat membangun hubungan dengan Allah, sedangkan kurban mengajarkan hubungan dengan sesama manusia. “Spirit kurban melahirkan spirit berbagi, terutama kepada yang lemah dan membutuhkan. Ini bukan hanya saat Idul Adha, tapi harus hidup setiap hari,” tegas Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI)
2. Menyembelih Ego, Menumbuhkan Kepedulian
Senada dengan semangat itu, Idul Adha dimaknai sebagai momentum “menyembelih egoisme dan keangkuhan sosial”. Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa kemewahan tidak boleh menindas kemiskinan. “Idul Adha adalah perayaan kemanusiaan. Islam tidak hanya mendorong ibadah individual, tapi membentuk masyarakat yang saling menguatkan,” ujarnya. Ia mengutip QS. Al-Hasyr: 9 tentang pentingnya mendahulukan orang lain walau diri dalam kesempitan.
3. Pengawasan Hewan Kurban: Amanah Negara
Selain makna spiritual, Prof. Rokhmin Dahuri menyoroti sisi tata kelola publik. Menjelang Idul Adha 2026, ia menekankan agar pemerintah mengintensifkan pengawasan hewan kurban yang beredar. “Bulog dan Badan Pangan Nasional harus memastikan hewan kurban yang sampai ke masyarakat benar-benar layak dan sehat. Tidak boleh ada hewan berpenyakit,” katanya dalam forum resmi yang dibagikan akun Pasukan Senayan.
Ia menambahkan, Bulog kini dimandatkan tidak hanya mengurus beras, tapi juga daging, gula, jagung, dan pangan strategis lain. “Bulog harus jadi tulang punggung logistik nasional, dari hulu ke hilir. Ini bagian dari menjamin ketakwaan kita tidak cacat karena kelalaian,” tegasnya.
4. Keteladanan Nabi Ibrahim: Tunduk dan Ikhlas
Prof. Rokhmin juga mengingatkan kisah Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS sebagai fondasi kurban. “Ini wujud mengagungkan Allah. Nabi Ibrahim ikhlas meninggalkan anak-istri di tempat tandus, lalu diperintah menyembelih Ismail. Mereka yakin Allah tidak akan menyia-nyiakan,” jelasnya. Dari kisah itu lahir pelajaran: tidak boleh mengagungkan apapun selain Allah, tidak boleh sombong, dan takbir adalah pengakuan hati kepada-Nya.
5. Idul Adha di Konteks Indonesia Hari Ini
Dalam konteks Indonesia, Prof. Rokhmin menilai Idul Adha harus jadi alarm moral. “Bangsa kita punya banyak kekuatan, tapi juga kelemahan. Kurban mengajarkan kita untuk berbagi dengan korban bencana, masyarakat miskin, dan yang membutuhkan,” paparnya.
Ia menutup tausiah dengan ajakan: “Jangan berhenti pada rutinitas tahunan. Jadikan Idul Adha titik balik memperkuat persaudaraan, memperluas kepedulian, dan menumbuhkan kasih sayang sosial. Islam itu rahmat, dan rahmat hanya hadir bila kita menghadirkan cinta di antara sesama”.

Komentar