Selasa, 21 Juli 2026 | 18:08
NEWS

BRIN-UGM Gelar Dialog Nasional Ekonomi Biru, Prof. Rokhmin Dahuri: Biodiversitas Laut Kunci Indonesia Emas 2045

BRIN-UGM Gelar Dialog Nasional Ekonomi Biru, Prof. Rokhmin Dahuri: Biodiversitas Laut Kunci Indonesia Emas 2045
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.rd institute)

ASKARA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar National Policy Dialogue bertajuk “Kedaulatan Kelautan Berbasis Kekayaan Hayati Kelautan: Orkestrasi Pengetahuan, Inovasi, dan Geopolitik dalam Ekonomi Biru Indonesia” di Universitas Gadjah Mada, Kamis (22/5).  

Forum strategis ini mempertemukan akademisi, peneliti, pemangku kebijakan, hingga pelaku industri untuk merumuskan arah pembangunan ekonomi biru nasional. Fokusnya: memanfaatkan kekayaan hayati laut Indonesia secara berkelanjutan, inovatif, dan berdaulat di tengah dinamika geopolitik global serta tantangan perubahan iklim.  

Salah satu pemateri kunci, Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS memaparkan transformasi pemanfaatan biodiversitas laut berbasis inovasi menuju Indonesia Emas 2045.  

Menurut Guru Besar IPB University itu, Indonesia memiliki keunggulan komparatif luar biasa sebagai negara dengan biodiversitas laut terbesar di dunia.

Ia menegaskan, biodiversitas laut tidak hanya menghasilkan pangan konvensional, tetapi juga berpotensi besar dalam pengembangan pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioenergi, biomaterial, hingga industri bioteknologi kelautan. Karena itu, sektor kelautan harus menjadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus fondasi kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan bangsa.

Namun potensi tersebut harus ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif. Caranya lewat penguatan riset, inovasi teknologi, hilirisasi industri, dan pembangunan ekonomi biru berbasis ilmu pengetahuan.  

“Biodiversitas laut tidak hanya menghasilkan pangan konvensional. Potensinya besar untuk pangan fungsional, farmasi, kosmetik, bioenergi, biomaterial, hingga industri bioteknologi kelautan,” tegas Prof. Rokhmin.  

Karena itu, ia menyebut sektor kelautan harus jadi salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Sekaligus fondasi kedaulatan pangan, energi, dan kesehatan bangsa.  

Hilirisasi Lemah hingga Overfishing  

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin juga mengurai tantangan pembangunan sektor kelautan. Mulai dari rendahnya hilirisasi industri, lemahnya riset dan inovasi, minimnya akses permodalan nelayan dan UMKM.  

Ancaman lain: overfishing, pencemaran laut, dan perubahan iklim global yang makin nyata dampaknya.  

Untuk menjawab tantangan itu, Prof. Rokhmin menawarkan strategi transformasi ekonomi biru berbasis inovasi:  

1. Modernisasi akuakultur dan perikanan tangkap agar lebih produktif dan berkelanjutan.   

2. Penguatan industri bioteknologi kelautan untuk nilai tambah tinggi.   

3. Hilirisasi komoditas kelautan supaya tidak lagi ekspor bahan mentah.   

4. Pengembangan industri farmasi laut dan bioenergi dari kekayaan hayati.   

5. Penguatan SDM dan riset sebagai tulang punggung inovasi.   

6. Perluasan skema blue finance dan kawasan industri biru untuk pembiayaan dan ekosistem industri.   

Orkestrasi Menuju Poros Maritim Dunia  

Forum ini diharapkan jadi langkah konkret memperkuat orkestrasi pengetahuan, inovasi, dan geopolitik kelautan Indonesia. Tujuannya jelas: mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia yang maju, berdaulat, dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.  

Dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan 70% wilayah berupa laut, ekonomi biru bukan lagi pilihan. Melainkan keniscayaan jika Indonesia ingin naik kelas menjadi negara maju berbasis sumber daya laut.  

Komentar