Kamis, 04 Juni 2026 | 09:28
NEWS

Ketegangan Iran-AS Memanas, Ancaman Serangan Kembali Muncul

Ketegangan Iran-AS Memanas, Ancaman Serangan Kembali Muncul
Ilustrasi ketegangan Amerika - Iran (Dok Askara)

ASKARA - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat pada Senin waktu setempat di tengah mandeknya perundingan terkait program nuklir Teheran.

Seorang pejabat Amerika Serikat dilaporkan menyebut proposal balasan terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik secara permanen masih belum memadai. Pejabat tersebut mengatakan negosiasi “tidak menunjukkan banyak kemajuan” dan memperingatkan bahwa jika Iran tidak lebih responsif, maka “percakapan akan dilakukan melalui bom.”

Sebelumnya, media Iran menggambarkan tuntutan Washington sebagai “berlebihan.” Namun di hari yang sama, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan Presiden AS Donald Trump disebut telah menyetujui pembekuan sementara sanksi terhadap ekspor minyak Iran selama perundingan nuklir berlangsung.

Jika laporan itu benar, langkah tersebut dinilai sebagai bentuk konsesi baru dari Washington. Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS disebut akan memberikan pengecualian sanksi selama proses negosiasi berjalan.

Sumber senior Iran juga mengatakan kepada Reuters bahwa Washington mulai menunjukkan fleksibilitas dengan mengizinkan Iran mempertahankan aktivitas nuklir damai dalam skala terbatas di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Situasi ini terjadi di tengah laporan bahwa Israel dan Amerika Serikat tengah mempersiapkan kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran dalam waktu dekat.

Presiden Donald Trump sehari sebelumnya memperingatkan bahwa “waktu terus berjalan” bagi Teheran untuk menyepakati kesepakatan baru, atau “tidak akan ada lagi yang tersisa dari mereka.”

Meski demikian, Trump sebelumnya beberapa kali menetapkan tenggat ultimatum terhadap Iran sebelum akhirnya melunak.

Survei New York Times/Siena yang dirilis Senin menunjukkan perang dengan Iran tidak populer di kalangan pemilih Amerika dan turut menekan tingkat popularitas Trump menjelang pemilu paruh waktu AS tahun ini. Tingkat persetujuan publik terhadap Trump dilaporkan turun menjadi 37 persen.

Dua pejabat Timur Tengah kepada New York Times mengatakan Amerika Serikat dan Israel kini tengah melakukan “persiapan intensif terbesar sejak gencatan senjata berlaku” untuk kemungkinan melanjutkan serangan ke Iran pekan ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga dijadwalkan menggelar rapat keamanan terbatas bersama sejumlah menteri senior dan penasihatnya pada Senin malam untuk membahas perkembangan situasi.

Dalam keterangannya kepada Axios, pejabat AS mengatakan langkah Iran mengajukan proposal balasan sebenarnya merupakan sinyal positif, tetapi perang bisa kembali pecah jika negosiasi tetap buntu.

“Saatnya Iran memberikan sedikit itikad baik. Kami membutuhkan pembicaraan yang nyata, kuat, dan rinci terkait program nuklir mereka. Jika itu tidak terjadi, maka pembicaraan akan dilakukan melalui bom, dan itu akan menjadi hal yang disayangkan,” ujar pejabat tersebut.

Dalam proposal sebelumnya yang ditolak Trump, Iran menolak menyerahkan stok uranium yang telah diperkaya hingga 60 persen dan tetap bersikeras mempertahankan “hak” untuk melakukan pengayaan uranium.

Iran membantah sedang mengembangkan senjata nuklir, meski tingkat pengayaan uranium yang dilakukan disebut telah melampaui kebutuhan sipil biasa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan kekhawatiran Teheran telah disampaikan kepada pihak Amerika melalui mediator Pakistan.

Ia juga menegaskan Iran tetap menuntut pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri serta pencabutan sanksi ekonomi yang telah berlangsung lama.

“Poin-poin tersebut merupakan tuntutan Iran yang secara tegas dipertahankan oleh tim negosiasi Iran dalam setiap putaran perundingan,” kata Baghaei.

 

Komentar