Rabu, 01 Juli 2026 | 19:46
OPINI

Waspada AI Slop, Bukan sembarang Selop

Waspada AI Slop, Bukan sembarang Selop
Ilustrasi Waspada AI Slop, Bukan sembarang Selop (Dok Askara)

Oleh: Prof. Ismunandar

ASKARA - Dahulu, otoritas pengetahuan bersumber dari segelintir skolar. Socrates, sang filsuf yang tak pernah menuliskan satu kata pun sepanjang hidupnya, sempat dengan tajam mempertanyakan kebiasaan menulis. Dalam Phaedrus, melalui alegori raja Thamus yang menolak penemuan dewa Theuth, ia mengkhawatirkan bahwa tulisan akan merusak ingatan — membuat orang bergantung pada catatan eksternal ketimbang memori sejati — dan menciptakan ilusi kebijaksanaan, bukan substansi yang sesungguhnya. Ironisnya, kekhawatiran akan “pengetahuan instan” itu kini menjadi nyata di era yang justru paling demokratis dalam sejarah manusia.

Demokratisasi pengetahuan dimulai dari mesin cetak Gutenberg pada abad ke-15, yang mendobrak monopoli Gereja Katolik dan kaum terpelajar atas produksi dan distribusi teks. Sebelumnya, buku adalah benda langka yang disalin tangan oleh biarawan — mahal, lambat, dan kerap mengandung kesalahan transkrip. Mesin cetak mengakhiri semua itu. Gelombang ini kemudian meledak lebih jauh pasca-Perang Dunia II, terutama di Barat, ketika GI Bill di Amerika Serikat memicu gelombang besar pendaftar universitas yang belum pernah terjadi sebelumnya, sebelum akhirnya internet hadir dan membuat siapa pun — tanpa syarat gelar atau modal percetakan — bisa menjadi penerbit. Proses ini membebaskan, tetapi juga membuka pintu yang tidak bisa lagi ditutup.

Jika dulu kita harus mencari kebenaran di buku tebal di rak perpustakaan sunyi, kini kita harus menyaringnya dari lautan konten yang deras dan berisik. Puncak dari kekhawatiran Socrates kini terwujud dalam bentuk baru yang memiliki nama resmi: AI slop.” Kamus Merriam-Webster memilih kata ini sebagai Word of the Year 2025 — didefinisikan sebagai “digital content of low quality that is produced usually in quantity by means of artificial intelligence.” Ini adalah banjir konten artifisial berkualitas rendah — generatif, cepat, dan murahan — yang memenuhi linimasa media sosial dan hasil pencarian. Fenomena ini bukan lagi sekadar hoaks konvensional, melainkan polusi kognitif berskala industri. Ketika rekomendasi konten sepenuhnya dikendalikan algoritma AI dan kita disuguhi video atau artikel yang tampak masuk akal tetapi kosong orisinalitas, otoritas kebenaran menjadi kabur. Akibatnya, konsumen kewalahan oleh kuantitas, sementara kreator profesional yang orisinal tenggelam dalam kebisingan.

Lantas, bagaimana sikap kita? Jangan bernostalgia pada masa pra-internet yang eksklusif dan elitis — akses terbuka adalah pencapaian peradaban yang tidak mungkin diputar balik. Tetapi tegaskan kembali nilai “suara”: bahwa di balik setiap teks yang layak dibaca, ada manusia yang mempertaruhkan sesuatu. Pertama, kita harus membedakan informasi dan otoritas. AI sangat hebat dalam memproduksi informasi — merangkum, mengatur ulang, mensintesis dari miliaran sumber. Tetapi ia tidak — atau setidaknya belum — memiliki pengalaman subjektif atau taruhan moral atas tulisannya. Tulisan otoritatif lahir dari siksaan pemikiran manusia, dari keunikan perspektif yang dipertaruhkan, dari apa yang dalam tradisi esai disebut sebagai voice yang otentik: suara yang berani salah, berani tidak sempurna, berani bertanggung jawab atas klaimnya.

 

Kedua, kita membutuhkan literasi konten yang lebih agresif dari sebelumnya. Di era ini, keterampilan paling berharga bukan lagi mencari informasi, melainkan menyaringnya. Kita perlu menjadi kurator bagi diri sendiri: mendukung platform yang mewajibkan pelabelan konten AI, mengembangkan refleks untuk bertanya “siapa yang menulis ini dan apa yang ia pertaruhkan?”, dan secara sadar lebih menghargai tulisan yang “berdarah-darah” — yang menampakkan jejak pergulatan manusiawi — daripada yang mulus sempurna.

Socrates keliru soal tulisan. Tulisan tidak membunuh ingatan — peradaban justru lahir darinya, dan ironi terbesar adalah bahwa kita mengetahui keberatan Socrates terhadap tulisan itu sendiri justru melalui tulisan Plato, muridnya. Tetapi Socrates benar soal ilusi kebijaksanaan: bahaya terbesar bukan datang dari teknologi itu sendiri, melainkan dari kemalasan kita untuk berhenti mencari kebenaran yang otoritatif dan orisinal.

Di tengah gempuran slop yang semakin terorganisir dan semakin murah untuk diproduksi, suara manusia yang jujur, tidak sempurna, dan berani menanggung konsekuensi adalah oase. Bukan karena ia bebas dari kesalahan — justru sebaliknya. Ia berharga karena ada seseorang yang bersedia salah atas namanya sendiri.

 

 

Komentar