Minggu, 05 Juli 2026 | 01:59
NEWS

Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Inovasi Garam Kristal Indramayu Menjadi Motor Penggerak Ekonomi Pesisir

Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Inovasi Garam Kristal Indramayu Menjadi Motor Penggerak Ekonomi Pesisir
Prof. Rokhmin Dahuri meninjau proses kristalisasi pada tambak garam kristal Indramayu (dok.inews Indramayu)

ASKARA - Sektor kelautan Indramayu kembali melahirkan terobosan. Produksi garam kristal di Kecamatan Juntinyuat kini menjadi sorotan pusat sebagai solusi peningkatan kesejahteraan petambak di pesisir utara. Pengembangan teknologi ini dikelola secara kolaboratif oleh Yayasan Sas Nalendra Darma Raga bersama kelompok petambak setempat.

Dalam peninjauan lapangan pada Kamis (7/5), Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. D. Ir. Rokhmin Dahuri MS, menyebut inovasi produksi garam kristal oleh petani setempat sebagai langkah revolusioner yang layak dikembangkan secara luas.  

“Buat saya ini breakthrough atau terobosan yang bagus. Selama ini produksi garam dengan metode konvensional melalui penguapan biasa hanya sekitar 70 ton per hektare per tahun,” ujar Prof. Rokhmin, Kamis (7/5).  

Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu menekankan empat pilar penting agar garam kristal Indramayu tidak berhenti sebagai eksperimen:  

Efisiensi Tinggi: Metode ini dinilai lebih produktif dibanding cara tradisional. Jika metode penguapan biasa menghasilkan 70 ton/hektar, inovasi baru ini diproyeksikan mampu melampaui standar nasional.  

Orientasi Bisnis: Inovasi hanya akan bertahan jika terbukti menguntungkan. Fokus utama adalah memastikan para petambak mendapatkan nilai tambah finansial yang nyata.  

Dukungan Pemerintah: Tugas pemerintah bukan menjadi pebisnis, melainkan “jodoh” atau matchmaker yang mempertemukan inovasi lokal dengan sektor industri besar.  

Kemandirian Nasional: Melalui standardisasi kualitas yang lebih baik, garam Indramayu diharapkan mampu memenuhi kebutuhan industri dan mewujudkan kemandirian garam nasional.  

Prof. Rokhmin Dahuri menekankan, bahwa dunia inovasi perikanan terus mengalami transformasi guna mengejar efisiensi hasil. Ia membandingkan bagaimana intervensi teknologi, mulai dari penggunaan media geomembran hingga teknik ulir yang digagas pemerintah, telah memberikan dampak nyata pada peningkatan tonase panen para petambak.

Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam 10 tahun terakhir mencoba metode lain seperti geomembran dan teknik ulir. Menurutnya, inovasi garam kristal berpotensi melampaui capaian teknologi geomembran dan teknik ulir yang sebelumnya mampu meningkatkan produktivitas hingga 120 ton per hektare per tahun.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam 10 tahun terakhir mencoba metode lain seperti geomembran dan teknik ulir. Itu bisa meningkatkan produktivitas menjadi sekitar 120 ton per hektare per tahun,” katanya.

Pernyataan itu bukan sekadar pujian,  Ketua Umum Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) ini menegaskan jika diterapkan secara masif, teknologi ini bisa menjadi motor penggerak ekonomi pesisir. "Menata kesejahteraan dari butiran garam yang selama ini dianggap sederhana," tegas Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Namun, di balik kilau kristal itu, terselip ironi. Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa banyak hasil penelitian di Indonesia berhenti di tahap invensi. “Kalau tidak ada dukungan komersialisasi, inovasi bisa mandek. Pemerintah harus memperkuat hilirisasi agar prototipe masyarakat berkembang menjadi industri nyata,” tegas Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.

Di negara maju, riset bertemu pasar, inovator bertemu industri. Di Indonesia, riset sering kali bertemu birokrasi. Garam kristal Juntinyuat bisa menjadi simbol harapan baru, atau sekadar catatan kaki dalam sejarah panjang riset yang tak pernah matang.  

Prof. Rokhmin menambahkan, penerapan teknologi serupa di Indonesia masih terbatas, baru ditemukan di beberapa wilayah Indramayu seperti Losarang dan Krangkeng. Ia berjanji, potensi besar ini akan dibawa ke tingkat kementerian agar mendapatkan dukungan program yang lebih intensif.  “Kalau tidak dibantu, inovasi seperti ini bisa tidak berkembang, agar tidak dibiarkan berjalan sendiri,” ujarnya.  

Kini, kisah garam kristal Juntinyuat bukan hanya tentang produktivitas yang melonjak, tetapi juga tentang pertarungan klasik antara inovasi rakyat dan sistem yang lamban. Sebuah drama pesisir yang menunggu babak baru: apakah pemerintah benar-benar menata kristal harapan ini menjadi industri, atau membiarkannya larut bersama ombak birokrasi.

Komentar