Minggu, 05 Juli 2026 | 00:36
NEWS

Paus Leo XIV Kunjungi Lampedusa, Serukan Belas Kasih bagi Para Migran

Paus Leo XIV Kunjungi Lampedusa, Serukan Belas Kasih bagi Para Migran
Paus Leo XIV melakukan kunjungan pastoral ke Pulau Lampedusa, Italia selatan (Dok Vatican)

ASKARA - Paus Leo XIV melakukan kunjungan pastoral ke Pulau Lampedusa, Italia selatan, Sabtu (4/7/2026), dengan membawa pesan kuat tentang kemanusiaan, solidaritas, dan kepedulian terhadap para migran serta pengungsi yang mempertaruhkan nyawa menyeberangi Laut Mediterania.

Lampedusa memiliki makna khusus bagi Gereja Katolik karena merupakan tujuan perjalanan apostolik pertama Paus Fransiskus di luar Roma setelah terpilih pada 2013. Melalui kunjungan ini, Paus Leo XIV melanjutkan warisan kepedulian Gereja terhadap para korban migrasi.

Setibanya di pulau tersebut, Paus terlebih dahulu berziarah ke pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan terakhir para korban tenggelam di Laut Mediterania. Di lokasi itu dimakamkan korban dari berbagai latar belakang agama, usia, dan kebangsaan yang meninggal saat mencari kehidupan yang lebih baik.

Selanjutnya, Paus mengunjungi monumen Gateway to Europe, simbol harapan bagi para migran yang tiba melalui jalur laut, sebelum bertemu dengan sebuah keluarga migran di Dermaga Favarolo. Dermaga tersebut untuk sementara diberi nama Dermaga Paus Fransiskus sebagai bentuk penghormatan terhadap pendahulunya.

Puncak kunjungan ditandai dengan perayaan Misa Kudus di lapangan olahraga Lampedusa yang dihadiri ribuan umat dan warga setempat.

Dalam homilinya, Paus Leo XIV mengibaratkan Lampedusa sebagai jalan berbahaya dari Yerusalem menuju Yerikho dalam perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati. Menurutnya, pulau itu menjadi saksi ribuan orang yang menjadi korban kekerasan, perdagangan manusia, kemiskinan, dan peperangan.

"Di sini kalian tidak hanya melihat satu orang yang dirampok dan ditinggalkan setengah mati, tetapi ribuan manusia yang kehilangan segalanya saat mencari harapan baru," ujar Paus.

Ia juga mengenang mereka yang tidak pernah berhasil mencapai daratan karena meninggal di tengah laut. Menurut Paus, penderitaan mereka merupakan panggilan moral bagi dunia untuk menghadirkan kepedulian dan bantuan nyata.

"Sebelum pertimbangan ideologi atau kepentingan apa pun, perjumpaan dengan mereka yang kehilangan segalanya memanggil kita untuk mendekat dan menunjukkan belas kasih," tegasnya.

Paus Leo XIV turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Lampedusa yang selama bertahun-tahun membuka hati bagi para migran.

"Saya datang untuk mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudari di Lampedusa atas solidaritas yang telah ditunjukkan. Di tempat ini, mukjizat belas kasih terus terjadi," katanya.

Mengakhiri homilinya, Paus mengajak dunia membangun "peradaban kasih" (civilization of love) sebagaimana dicita-citakan para pendahulunya, yakni Santo Yohanes XXIII, Santo Paulus VI, Santo Yohanes Paulus II, dan diteruskan oleh Paus Fransiskus.

Menurut Paus Leo XIV, penderitaan para migran hendaknya menjadi panggilan bagi seluruh bangsa untuk menghadirkan kebijakan yang lebih manusiawi, adil, dan berlandaskan kasih, sehingga dunia mampu menjawab krisis kemanusiaan dengan semangat persaudaraan universal.

 

Komentar