Sabtu, 20 Juni 2026 | 07:51
NEWS

Di Ponpes Al-Zaytun Indramayu, Prof. Rokhmin: Pendidikan Islam Holistik sebagai Fondasi Indonesia Modern

Di Ponpes Al-Zaytun Indramayu, Prof. Rokhmin: Pendidikan Islam Holistik sebagai Fondasi Indonesia Modern
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.rd Institute)

ASKARA - Indramayu menjadi saksi sejarah ketika Pondok Pesantren Al-Zaytun dipenuhi ribuan pelaku didik—guru, kepala sekolah, pengasuh pondok, mahasiswa, wali siswa, hingga petani penyangga pangan—yang berjumlah sekitar 2.700 orang. Mereka berkumpul dalam Pelatihan Pelaku Didik bertema “Menuju Transformasi Revolusioner Pendidikan Berasrama, Demi Terwujudnya Indonesia Modern di Abad XXI dan Usia 100 Tahun Kemerdekaan.”  

Di hadapan lautan peserta, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., menegaskan bahwa sistem pendidikan Islam memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan zaman: ketertinggalan IPTEK, kemiskinan, krisis moral, ketimpangan sosial, hingga kerusakan lingkungan.  

Menurutnya, pendidikan Islam menekankan pendekatan holistik yang mengintegrasikan aspek intelektual (‘aqliyyah), spiritual (ruhiyyah), dan moral (akhlaqiyyah). “Sejak masa keemasan peradaban Islam, pendidikan menjadi fondasi kemajuan IPTEK dan peradaban global. Dari rahim pendidikan itu lahirlah tokoh-tokoh besar seperti Al-Ghazali, Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, dan Ibnu Al-Khawarizmi yang mengharmoniskan ilmu agama dan sains,” tandas Rektor Universitas UMMI Bogor ini.

Kehadiran Syaykh Al Zaytun Abdussalam Panji Gumilang beserta jajaran yayasan, rektor, dosen, hingga para pemimpin asrama pelajar menambah khidmat acara. Para petani yang tergabung dalam P3KPI (Perkumpulan Petani Penyangga Ketahanan Pangan Indonesia) pun turut hadir, menegaskan bahwa pendidikan Islam bukan hanya urusan kelas dan kitab, melainkan juga menyentuh aspek ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat.  

Momentum ini menjadi penegasan bahwa pendidikan Islam bukan sekadar tradisi, melainkan motor penggerak revolusi bangsa. Dengan integrasi ilmu, iman, dan akhlak, sistem pendidikan Islam diyakini mampu melahirkan generasi unggul yang siap membawa Indonesia menuju abad kejayaan di usia 100 tahun kemerdekaan.  

Pilar Revolusi Bangsa

Di hadapan ribuan guru, kepala sekolah, pengasuh pondok, mahasiswa, wali siswa, hingga petani penyangga pangan, Prof. Rokhmin memaparkan keunggulan pendidikan Islam: holistik (integral), pembentukan karakter (akhlak mulia), keseimbangan dunia-akhirat, dorongan keadilan sosial melalui zakat dan sedekah, serta berbasis nilai keberlanjutan.  

“Di tengah dominasi sistem pendidikan Barat yang cenderung sekuler dan berorientasi pasar, kita membutuhkan sistem pendidikan yang tidak hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan keseimbangan hidup manusia. Pendidikan Islam berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits, dengan tujuan utama membentuk insan kamil,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004.

Transformasi revolusioner pendidikan berasrama, menurutnya, harus diwujudkan melalui modernisasi kurikulum integratif, pemberdayaan santri dengan project based learning, digitalisasi sistem pembelajaran, peningkatan kompetensi guru, penciptaan lingkungan asrama yang aman dan inklusif, hingga partisipasi santri dalam kompetisi nasional dan internasional.  

Ponpes Al-Zaytun, lanjutnya, telah menjadi pionir dengan mengintegrasikan kurikulum diniyah dan pendidikan modern, membangun kapasitas global lewat penguasaan bahasa asing, serta mengembangkan kewirausahaan berbasis pertanian dan peternakan. 

“Jika sistem ini dijalankan konsisten dan berkelanjutan, Al-Zaytun akan menjadi role model pendidikan Islam yang sesuai dengan Islam, Pancasila, dan UUD 1945. Bahkan, menjadi benih unggul bagi kebangkitan umat Islam,” pungkasnya.

Komentar