Sentuhan Kemanusiaan dan Harapan di Balik Terapi Pijat Om Piet
ASKARA - Di tengah keterbatasan akses dan beratnya beban merawat pasien lansia, kisah-kisah kemanusiaan masih terus hidup. Salah satunya datang dari Pieter Dasion atau yang akrab disapa Om Piet, seorang praktisi terapi pijat dan akupresur yang dikenal membantu pasien dengan pendekatan sentuhan di titik-titik tubuh.
Om Piet membagikan pengalaman menyentuh saat mengunjungi pasangan lansia di kawasan Cikunir, Bekasi, pada 16 April 2026 malam. Seorang pria berusia 74 tahun terbaring akibat stroke, dengan kondisi tubuh sebelah kiri lumpuh total. Aktivitas dasar seperti makan pun harus dibantu menggunakan selang (sonde), sementara kebutuhan lain bergantung penuh pada sang istri, yang juga telah berusia lanjut.
"Yang paling menyentuh bukan hanya kondisi sakitnya, tapi bagaimana istrinya merawat seorang diri. Ini bukan hal yang ringan," ungkap Om Piet, Sabtu (18/4).
Ia menggambarkan bagaimana sang istri harus mengangkat tubuh suaminya setiap hari, hingga berdampak pada kondisi fisiknya sendiri. Tanpa bantuan keluarga atau tenaga medis khusus, perawatan dilakukan dengan penuh ketekunan, meski dalam keterbatasan.
Dalam kunjungan tersebut, Om Piet mencoba memberikan terapi dengan metode stimulasi melalui pijatan pada titik-titik tertentu, termasuk rangsangan pada sistem saraf dan otak. Ia menyadari bahwa terapi ini bukan solusi instan, tetapi sebagai upaya membangkitkan respons tubuh pasien.
"Awalnya terasa sakit bagi pasien, itu wajar. Tapi setelah dirangsang, ada respons yang mulai muncul," jelas alumni Fakultas Teknik UI ini.
Hasilnya, meski belum signifikan, memberikan secercah harapan. Pasien mulai menunjukkan kemampuan menggerakkan fungsi tertentu, seperti menjulurkan lidah dan minum menggunakan sedotan.
"Ini tanda ada respons saraf. Harapan itu masih ada," katanya.
Namun Om Piet tetap mengingatkan pentingnya kehati-hatian dalam penanganan pasien stroke, khususnya terkait pemberian makanan dan minuman.
"Kalau belum ada izin medis, jangan dipaksakan makan lewat mulut. Itu bisa berbahaya," tegasnya.
Kisah ini, menurutnya, kontras dengan pengalaman lain yang ia temui sehari sebelumnya di wilayah Pancoran, Jakarta Selatan. Seorang lansia perempuan berusia 84 tahun yang juga mengalami keterbatasan fisik, justru mendapatkan dukungan penuh dari keluarga.
"Dirawat dengan baik oleh anak-anaknya. Itu membuat kondisi mental dan fisiknya jauh lebih terjaga," ujar pensiunan Kompas Gramedia Group yang murah senyum ini.
Dua potret berbeda ini menjadi refleksi sosial tentang pentingnya dukungan keluarga dan lingkungan dalam merawat lansia.
Tak hanya itu, Om Piet juga membagikan pengalaman lain terkait pasien dengan penyakit kronis. Seorang pria berusia 68 tahun yang mengalami diabetes dan gangguan ginjal, menurutnya menunjukkan perbaikan signifikan setelah menjalani terapi.
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, kadar HbA1C pasien yang sebelumnya mencapai angka 9, turun menjadi 5,6. Sementara kadar kreatinin yang sempat tinggi, kembali ke angka normal.
"Dia sendiri tidak percaya dengan hasilnya. Tapi saya selalu bilang, ini bagian dari proses. Tubuh punya kemampuan untuk merespons jika dirangsang dengan tepat," jelas Om Piet.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa terapi pijat dan akupresur bukanlah pengganti pengobatan medis, melainkan pelengkap yang harus dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.
Lebih dari sekadar terapi, Om Piet melihat apa yang ia lakukan sebagai bentuk kepedulian sosial. Ia menekankan pentingnya empati, terutama kepada mereka yang menjalani masa tua dalam keterbatasan.
"Ada yang beruntung dirawat keluarga, ada yang harus berjuang berdua saja. Dari situ saya belajar, kesehatan itu bukan hanya soal fisik, tapi juga dukungan dan kasih sayang," tuturnya.
Ia pun mengajak masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap kondisi di sekitar, serta terus menjaga kesehatan sejak dini.
"Selagi masih bisa, mari berbagi. Harapan untuk sehat itu selalu ada, tapi kepedulian sesama juga sama pentingnya," pungkasnya.

Komentar