Prof. Rokhmin Dahuri Dorong Optimalisasi Pariwisata Ciayumajakuning sebagai Motor Ekonomi Baru Jawa Barat
ASKARA — Ketua Umum Paguyuban Dulur Cirebonan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS menegaskan perlunya langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi besar sektor pariwisata di kawasan Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Hal tersebut disampaikan dalam Halal Bihalal akbar Dulur Cirebonan yang digelar di Ballroom Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gedung Mina Bahari III, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (5/4).
Menurut Anggota Komisi IV DPR RI itu, selama ini potensi pariwisata Ciayumajakuning belum dikelola secara maksimal sehingga belum mampu menjadi kekuatan ekonomi riil yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. “Kawasan ini jangan hanya sekadar memiliki potensi, tetapi harus bisa menciptakan lapangan kerja dan menjadi mesin penggerak ekonomi daerah yang kuat,” tegasnya.
Prof. Rokhmin yang juga Rektor Universitas UMMI Bogor menjelaskan, Ciayumajakuning memiliki daya tarik wisata yang sangat lengkap. Cirebon dan Indramayu unggul dengan wisata pesisir, sementara Kuningan dan Majalengka menawarkan wisata pegunungan dengan udara sejuk. Selain itu, wilayah ini kaya akan wisata budaya, religi, serta kuliner khas yang menjadi identitas daerah.
Ia menambahkan, integrasi antara sektor pariwisata dengan sektor ekonomi lain seperti agrikultur dan komoditas unggulan daerah akan menciptakan nilai tambah signifikan bagi perekonomian lokal.
“Sinergi lintas sektor adalah kunci. Pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah, tetapi harus melibatkan masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan pemimpin daerah. Semua harus bergerak bersama,” ujarnya.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menyoroti sejumlah destinasi unggulan. Di Cirebon, kawasan pesisir terus berkembang dengan proyek waterfront city di bekas Taman Ade Irma Suryani. Indramayu memiliki pesona pantai seperti Tirtamaya dan Eretan. Sementara Kuningan dan Majalengka menawarkan wisata pegunungan yang menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ia menekankan bahwa Ciayumajakuning memiliki posisi strategis sebagai simpul pertumbuhan baru di Pulau Jawa, didukung oleh infrastruktur yang terus berkembang serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini diyakini mampu menjadi pusat ekonomi baru yang berdaya saing tinggi.
“Pariwisata Ciayumajakuning bukan hanya tentang keindahan alam dan budaya, tetapi juga tentang masa depan ekonomi daerah. Jika dikelola dengan baik, kawasan ini akan menjadi lokomotif kesejahteraan masyarakat Jawa Barat,” ujarnya.
Acara ini semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah tokoh nasional lintas bidang, antara lain:
- H. R. Agung Laksono (Ketua DPR RI Periode 2004–2009)
- Laksamana TNI (Purn.) Dr. Ade Supandi, S.E., M.A.P. (Kepala Staf Angkatan Laut ke-25 Periode 2014–2018)
- Dr. Ir. Hj. Endang Setyawati Thohari, DESS., M.Sc. (Anggota Komisi IV DPR RI)
- Dave Akbarshah Fikarno Laksono, M.E. (Anggota DPR RI / Kadin Indonesia)
- Dr. Ir. H. E. Herman Khaeron, M.Si. (Sekjen Partai Demokrat / Anggota DPR RI)
- Ade Triaji Kusumah, S.E., M.Si. (Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, KLHK)
- Prof. Dr. Komarudin, M.Si. (Rektor Universitas Negeri Jakarta)
- Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd (Ketua Umum PGRI)
- Prof. Dr. Ir. H. Mochamad Hasjim Bintoro, M.Agr. (Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University)
- Maliki Heru Santosa & Pak Ardan (Mantan Inspektur Jenderal Kemendagri RI)
- Prof. Yuddi Chrisnandi (Menteri PAN-RB)
Kehadiran para tokoh tersebut menunjukkan dukungan luas terhadap gagasan Prof. Rokhmin Dahuri dalam menjadikan Ciayumajakuning sebagai simpul pertumbuhan baru di Pulau Jawa. Dengan infrastruktur yang terus berkembang dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, kawasan ini diyakini mampu menjadi pusat ekonomi baru yang berdaya saing tinggi.
“Pembangunan tidak bisa hanya bertumpu pada pemerintah. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan pemimpin daerah. Semua harus bergerak bersama,” tegas Prof. Rokhmin, yang pernah menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004.

Komentar