Paus Leo XIV Bersujud, Mengajarkan Arti Penyerahan Total
ASKARA - Perayaan Jumat Agung di Basilika Santo Petrus berlangsung khidmat saat Paus Leo XIV memulai liturgi dengan bersujud menelungkup di depan altar, sebuah tindakan yang dalam tradisi Katolik dikenal sebagai prostrasi atau prostasi.
Tindakan tersebut bukan sekadar gerakan fisik, melainkan ungkapan rohani yang mendalam. Dalam liturgi Gereja Katolik, prostrasi melambangkan kerendahan hati yang total serta penghormatan penuh terhadap misteri ilahi. Jika berlutut sudah menjadi tanda hormat, maka prostrasi dipahami sebagai bentuk penyerahan diri paling sempurna di hadapan Tuhan.
Prostrasi sendiri hanya dilakukan dalam momen-momen liturgi yang sangat sakral, seperti pada perayaan Jumat Agung, tahbisan imam atau diakon saat Litani Para Kudus, serta dalam upacara kaul hidup bakti bagi biarawan dan biarawati.
Pada Jumat Agung, Gereja Katolik memang tidak merayakan Misa Kudus. Sebagai gantinya, umat mengikuti Liturgi Sengsara Tuhan yang terdiri dari tiga bagian utama, yakni Liturgi Sabda yang memuncak pada pembacaan Kisah Sengsara menurut Santo Yohanes, penghormatan Salib, serta penerimaan Komuni Kudus.
Dalam perayaan tersebut, Roberto Pasolini, pengkhotbah Rumah Tangga Kepausan, menyampaikan homili yang menekankan makna mendalam dari jalan salib Kristus.
Ia mengingatkan bahwa sengsara dan wafat Yesus tidak dapat dipahami sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan puncak dari perjalanan hidup yang penuh ketaatan kepada kehendak Bapa. Jalan salib, menurutnya, adalah proses di mana Kristus belajar ketaatan yang paling sulit, yakni kasih kepada sesama, bahkan ketika yang dihadapi tampak sebagai musuh.
Lebih lanjut, Pasolini mengajak umat merenungkan bahwa salib merupakan puncak dari perjalanan kasih yang dibangun sepanjang hidup Yesus, yang senantiasa mendengarkan dan mengikuti suara Allah.
Perayaan Jumat Agung ini kembali menegaskan makna pengorbanan, kasih, dan penyerahan diri total, sebagaimana tercermin dalam simbol prostrasi yang dilakukan Paus di awal liturgi.

Komentar