Tiket Pesawat Mahal, Pemerintah Didesak Keluarkan Kebijakan Atasi Monopoli Penerbangan di KTI
ASKARA-Kementerian Perhubungan (Kemenhub) didesak segera menerbitkan kebijakan strategis untuk memutus praktik monopoli dan duopoli rute penerbangan, khususnya di Kawasan Timur Indonesia (KTI) seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Desakan itu disampaikan anggota DPR RI daerah pemilihan (Dapil) Papua Barat Daya, Robert Joppy Kardinal, dalam keterangannya, Jumat (26/3/2026).
Dia menilai struktur industri penerbangan nasional saat ini sesungguhnya tidak sehat karena hanya didominasi dua kelompok besar, yakni Grup Lion dan Grup Garuda. Kondisi tersebut menurutnya membuat harga tiket pesawat sulit turun dan cenderung tidak rasional, terutama untuk rute-rute ke wilayah timur Indonesia.
Bahkan Robert melihat sebagian besar layanan penerbangan domestik, termasuk ke daerah terpencil, praktis dikuasai oleh maskapai dalam satu grup yang sama. Di Papua misalnya, rute-rute perintis hingga kota kecil hanya dilayani oleh Wings Air, Lion Air, dan Super Air Jet yang berada dalam satu payung bisnis.
Dia mencontohkan rute Jakarta-Sorong tiket harganya selangit, tembus Rp 15-20 juta sekali jalan. Robert menegaskan harga tiket menjadi mahal karena tidak ada kompetisi.
"Harga tiket menjadi mahal karena tidak ada kompetisi. Mau tidak mau harus beli, meskipun harganya bisa mencapai Rp15 juta sampai Rp20 juta untuk sekali jalan,” ujar politisi Partai Golkar ini.
Selain dominasi maskapai, Robert juga menyinggung keterbatasan armada maskapai milik Pemerintah seperti Garuda Indonesia dan Citilink yang dinilai tidak mampu menjangkau seluruh rute secara optimal.
"Garuda-Citilink (BUMN) tidak mampu atau sengaja dibuat tidak mampu ditambah lagi dengan aturan (regulator) sehingga terjadilah monopoli," katanya lagi.
Pihaknya juga menilai tidak semua rute harus dipaksakan dilayani oleh maskapai pelat merah. Karena itu, Robert meminta maskapai swasta lain bisa dilibatkan atasi persoalan ini.
“Garuda sebaiknya fokus pada rute gemuk dan menguntungkan saja. Jangan semua rute diambil, apalagi kalau justru membebani keuangan negara,” katanya.
Lebih jauh, dia mengungkap bahwa kondisi ini diperparah oleh praktik duopoli yang menciptakan “ilusi kompetisi”. Di balik banyaknya merek maskapai, perputaran pasar sebenarnya hanya berputar pada dua kelompok besar, sehingga ruang persaingan menjadi sempit.
Situasi tersebut menurutnya, berimplikasi langsung pada mahalnya tiket pesawat dan terbatasnya akses transportasi udara bagi masyarakat di wilayah kepulauan.
"Ini juga yang saya alami di dapil saya di Papua sana. Yang masuk ke kampung-kampung di Papua itu, yang ada kan hanya Susi Air. Akhirnya ya harganya sih suka-suka dia. Jadi tidak ada pilihan bagi masyarakat Papua, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, rakyat yang di kampung.kampung, mereka tidak punya opsi (maskapai) lain." sesalnya.
Sebagai solusi, Robert mendorong Kementerian Perhubungan membuka seluas-luasnya akses bagi maskapai swasta, bahkan termasuk dari luar negeri, untuk masuk melayani rute domestik di Indonesia, terutama di wilayah yang belum terlayani optimal.
“Kalau swasta dalam negeri belum mampu, buka saja untuk maskapai dari Singapura, Malaysia, Australia, bahkan Eropa atau China. Yang penting masyarakat punya pilihan dan harga bisa turun,” tegasnya.(dry)

Komentar