Surat Yang Disembunyikan Di Lemari Tua
ASKARA - Orang orang di gang kami selalu merasa tahu apa yang terjadi di rumah tetangga. Suara piring jatuh, pintu dibanting, atau nada bicara yang meninggi sering menjadi bahan cerita sore hari. Namun tidak ada yang benar benar tahu apa yang berlangsung di balik pintu yang tertutup rapat, terutama di rumah Saka dan Mira yang terlihat tenang selama bertahun tahun.
Aku tinggal dua rumah dari mereka. Setiap pagi, Saka berangkat kerja dengan kemeja rapi, wajah tanpa ekspresi. Mira menyapu halaman, menyiram tanaman, lalu masuk kembali tanpa banyak bicara. Senyumnya tipis, seperti orang yang sedang menghemat tenaga untuk bertahan hidup.
Perubahan mulai terasa setahun terakhir. Pintu rumah mereka lebih sering tertutup. Televisi jarang terdengar. Jika ada suara, biasanya nada tinggi yang cepat menghilang begitu ada langkah kaki melewati pagar.
Suatu sore, aku melihat Mira duduk lama di teras tanpa melakukan apa apa. Tangannya memegang ponsel, tapi tatapannya kosong. Ketika aku menyapanya, ia tersenyum kaku.
“Tidak apa apa, Bu,” katanya pelan.
1 spasi
Kalimat itu sering ia ucapkan. Terlalu sering untuk sesuatu yang benar benar tidak apa apa.
Beberapa hari kemudian, aku melihatnya di warung kopi ujung gang. Ia duduk berhadapan dengan seorang lelaki berkacamata, berpakaian rapi, membawa map cokelat tebal. Mereka berbicara pelan, serius. Tidak tampak seperti orang yang sedang berkencan. Lebih seperti orang yang sedang membicarakan sesuatu yang berat.
Namun cerita yang beredar berbeda.
Ada yang melihat mereka duduk berdua. Ada yang melihat Mira menunduk lama. Ada yang melihat lelaki itu mengangguk angguk. Cerita berubah bentuk sebelum sore berganti malam.
Keesokan harinya, Raka pulang lebih cepat dari biasanya. Wajahnya tegang. Pintu rumah dibuka keras. Suaranya terdengar sampai ke jalan.
“Apa maksudmu bertemu dia?”
Mira tidak menjawab keras. Suaranya rendah tapi jelas.
“Kita sudah lama tidak bersama, Saka.”
Kalimat itu seperti memercikkan minyak ke api. Saka keluar rumah, melihat ke arah jalan seolah mencari seseorang. Napasnya memburu, matanya merah.
“Belum sah cerai, tapi sudah jalan dengan lelaki lain?” teriaknya.
Beberapa tetangga keluar rumah. Aku berdiri di pagar. Suasana menegang. Mira berdiri di teras, memegang tiang, wajahnya pucat tapi tidak mundur.
“Saka, cukup,” katanya.
Namun Saka seperti tidak mendengar. Ia berbicara tentang harga diri, tentang dipermalukan, tentang pengkhianatan. Kata katanya tumpah tanpa kendali.
Ketua RT datang memisahkan. Saka didorong masuk rumah. Mira duduk di kursi teras, menutup wajahnya. Kami mengira itu hanya pertengkaran biasa yang kebetulan terdengar keras.
Ternyata itu baru permukaan.
Dua hari kemudian, lelaki berkacamata itu datang lagi. Kali ini siang hari, ketika Raka bekerja. Ia berbicara dengan Mira di teras. Aku bisa melihat dari kejauhan, Mira menandatangani beberapa lembar kertas. Tangannya gemetar.
Sore harinya, Mira datang ke rumahku. Wajahnya letih tapi seperti orang yang baru melepaskan beban berat.
“Itu mediator dari bantuan hukum,” katanya pelan. “Sudah lama saya mengurus ini.”
Aku terdiam. Ia mulai bercerita, perlahan, seperti orang yang baru belajar membuka suara setelah bertahun tahun diam.
Tentang tahun tahun awal pernikahan yang baik. Tentang bagaimana Saka pelan pelan berubah posesif. Tentang bentakan yang makin sering. Tentang larangan keluar rumah tanpa izin. Tentang rasa takut yang tumbuh tanpa disadari.
“Yang paling berat bukan dipukul,” ucapnya lirih. “Yang paling berat merasa tidak punya hak bicara.”
Ia sudah mengajukan gugatan cerai hampir setahun lalu. Sidang berjalan tanpa kehadiran Saka. Prosesnya lama, melelahkan. Ia menyembunyikan semuanya karena takut reaksi suaminya.
Lalu ia berkata sesuatu yang membuatku tercekat.
“Putusan cerainya sebenarnya sudah keluar dua bulan lalu.”
Aku mengernyit. “Lalu?”
Mira menatap kosong.
“Saya baru tahu hari ini.”
Ternyata dua bulan lalu, Saka memintanya menandatangani sebuah berkas. Ia bilang itu surat perbankan yang perlu tanda tangan istrinya. Mira menandatangani tanpa membaca, seperti biasa.
Hari ini mediator menunjukkan salinannya. Itu adalah tanda terima putusan cerai dari pengadilan.
Tanda tangan itu milik Mira.
Tanggalnya dua bulan lalu.
Artinya, sejak saat itu, perceraian mereka sudah sah secara hukum.
Dan Saka sengaja menyembunyikannya.
Malam berikutnya, keributan besar terjadi. Kali ini lebih keras dari sebelumnya. Saka menemukan berkas salinan yang dibawa mediator. Ia berteriak, membanting lemari, mengacak isi meja kerjanya.
Dari rumahku terdengar suaranya pecah.
“Kamu menipu saya!”
Mira menjawab dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya. Tegas. Tidak gemetar.
“Yang menipu itu kamu, Saka.”
Hening panjang mengikuti.
Beberapa menit kemudian, suara lemari tua di kamar mereka dibuka keras. Kayunya berderit. Kertas kertas berjatuhan.
Di situlah semua rahasia selama ini disimpan.
Surat putusan pengadilan yang terlipat rapi. Disembunyikan di antara map map lama.
Saka marah bukan karena Mira bertemu lelaki lain.
Saka marah karena Mira akhirnya tahu bahwa dirinya sudah bukan istrinya sejak dua bulan lalu.
Selama ini ia mempertahankan kemarahan itu untuk sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ia miliki.
Pagi harinya, Mira keluar rumah membawa koper kecil. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi senyum kaku. Tidak ada lagi tatapan kosong.
Orang orang di gang masih membicarakan tentang lelaki berkacamata itu. Tentang dugaan perselingkuhan. Tentang kemarahan Saka.
Mereka tidak tahu bahwa inti ceritanya bukan itu.
Inti ceritanya ada di dalam lemari tua yang semalam dibongkar paksa.
Di tumpukan kertas yang selama ini menyimpan kebenaran.
Dan pada seorang suami yang mengamuk karena merasa dikhianati, padahal yang ia takutkan sebenarnya hanya satu hal.
Ia tidak pernah siap menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan istrinya jauh sebelum pertengkaran itu terjadi.

Komentar