Dari Aceh Hingga Papua, Koran Cetak Ini Bertahan Puluhan Tahun
ASKARA - Di tengah gempuran digitalisasi media, sejumlah surat kabar cetak di berbagai daerah Indonesia tetap bertahan dan bahkan telah melampaui usia lebih dari tiga dekade. Keberadaan mereka menjadi bukti bahwa pers cetak masih memiliki peran penting sebagai penjaga informasi dan sejarah lokal.
Di wilayah Aceh, harian Serambi Indonesia menjadi salah satu media yang telah lama hadir melayani masyarakat. Sementara di Medan, terdapat beberapa koran senior seperti Waspada, Sinar Indonesia Baru, Analisa, dan Medan Pos.
Di Sumatera Barat, eksistensi media cetak juga terlihat dari kehadiran Harian Haluan, Singgalang, serta Padang Ekspres. Sementara itu di Jambi, Jambi Independent tetap menjadi salah satu referensi informasi masyarakat.
Di Bengkulu, Rakyat Bengkulu masih bertahan, sedangkan di Palembang terdapat Sriwijaya Post dan Sumatera Ekspres yang telah lama menjadi bagian dari ekosistem pers lokal. Adapun di Lampung, Lampung Post dikenal sebagai salah satu koran tertua di daerah tersebut.
Di ibu kota, sejumlah media nasional seperti Tempo, Media Indonesia, Kompas, Sindo, Rakyat Merdeka, serta The Jakarta Post juga telah melampaui usia panjang dan tetap eksis hingga kini.
Di Pulau Jawa, koran legendaris seperti Pikiran Rakyat di Bandung, Suara Merdeka di Semarang, serta Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta menjadi saksi perjalanan panjang dunia pers nasional.
Sementara itu di Surabaya, beberapa media seperti Surabaya Pagi, Jawa Pos, Suara Surabaya, dan Koran Surabaya masih dikenal luas oleh masyarakat.
Di kawasan timur Indonesia, eksistensi pers cetak juga tetap terjaga melalui Harian Fajar di Makassar, Bali Post dan Nusa Bali di Bali, serta Siwalima dan Suara Maluku di Maluku.
Adapun di Sulawesi Utara terdapat Manado Post, sementara di Papua, Cenderawasih Pos menjadi salah satu media cetak yang telah lama berkiprah.
Keberadaan koran-koran ini mendapat apresiasi dari Tenaga Ahli Dewan Pers, Winarto. Karena media ini tidak hanya menjadi media penyampai informasi, tetapi juga penjaga memori kolektif masyarakat di daerah masing-masing. Di tengah perubahan zaman, mereka terus beradaptasi agar tetap relevan tanpa meninggalkan akar jurnalistik yang telah dibangun selama puluhan tahun.
"Salut buat media cetak yang masih bertahan puluhan tahun di tengah disrupsi teknologi," kata Winarto, Tenaga Ahli Dewan Pers Komisi Pendataan dan Verifikasi Media, Sabtu (21/3).

Komentar