Netanyahu dan Trump Berbeda Sikap soal Pasukan Darat di Iran
ASKARA – Perbedaan pandangan mulai terlihat antara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait strategi perang menghadapi Iran, khususnya soal kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Dalam pernyataan terbarunya, Netanyahu mengisyaratkan bahwa operasi militer tidak cukup hanya mengandalkan serangan udara. Ia membuka kemungkinan adanya keterlibatan pasukan darat untuk mencapai tujuan perang Israel.
“Sering dikatakan bahwa Anda tidak bisa memenangkan perang hanya dari udara. Itu benar. Anda bisa melakukan banyak hal dari udara, dan kami melakukannya, tetapi harus ada komponen darat juga,” ujar Netanyahu, Kamis (19/3).
Meski demikian, ia tidak merinci langkah konkret yang akan diambil, hanya menyebut bahwa terdapat “banyak kemungkinan” terkait operasi darat tersebut.
Berbeda dengan sikap Israel, Presiden AS Donald Trump secara tegas menolak kemungkinan pengerahan pasukan darat Amerika ke Iran. Dalam pernyataannya di Gedung Putih saat menerima kunjungan Perdana Menteri Jepang, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mengirim pasukan ke medan konflik tersebut.
“Saya tidak akan menempatkan pasukan di mana pun—dan jika saya melakukannya, saya tidak akan memberi tahu Anda,” kata Trump kepada wartawan.
Sebelumnya, Netanyahu mengungkapkan bahwa dirinya berkomunikasi secara intensif dengan Trump, bahkan hampir setiap hari sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu.
Meski kerja sama militer antara kedua negara terlihat erat sejak awal konflik, perbedaan sikap terkait strategi perang mulai memunculkan indikasi adanya celah dalam tujuan akhir masing-masing pihak.
Selain soal pasukan darat, perbedaan juga muncul terkait target serangan. Trump dilaporkan memperingatkan Israel agar tidak kembali menyerang fasilitas gas milik Iran. Netanyahu mengonfirmasi bahwa serangan awal terhadap ladang gas Iran pekan ini merupakan operasi sepihak Israel dan tidak mendapat persetujuan dari Washington.
Serangan tersebut diketahui berdampak pada lonjakan harga energi global, menambah tekanan di tengah situasi geopolitik yang semakin memanas.
Perbedaan pendekatan ini menandai dinamika baru dalam hubungan strategis AS dan Israel, yang selama ini dikenal solid, namun kini menghadapi tantangan dalam menyatukan arah kebijakan di tengah konflik yang terus berkembang.

Komentar