Selasa, 21 Juli 2026 | 23:06
Ruang Menulis

Cerpen: Berkas Lamaran Yang Terlambat Menjadi Manusia

Cerpen: Berkas Lamaran Yang Terlambat Menjadi Manusia
Ilustrasi

ASKARA - Siang itu, seorang lelaki datang tanpa membawa map lamaran atau surat rekomendasi apa pun. Ia hanya membawa wajah lelah, suara yang tertahan, dan kebutuhan sederhana untuk didengar. Aku mengira ia sekadar ingin bercerita tentang nasib buruknya. Aku tidak tahu, setiap kata yang ia ucapkan perlahan sedang membuka sesuatu yang selama ini sengaja aku abaikan.

Pintu ruanganku diketuk pelan.

Tidak seperti tamu lain yang biasanya mengetuk dengan mantap, ketukan itu terdengar ragu, seolah yang mengetuk sendiri tidak yakin apakah ia pantas masuk atau tidak.

Ketika kubuka, seorang lelaki berdiri di depan. Bajunya rapi, tetapi rapi yang dipaksakan. Rambutnya disisir, namun jelas terlihat sudah lama tidak ke tukang cukur. Sepatunya bersih, tetapi solnya mulai tipis. Wajahnya bukan wajah pemalas, justru wajah orang yang terlalu lama berjuang sendirian.

Maaf, bisa minta waktu sebentar?

Nada suaranya sopan, tetapi berat. Aku mempersilahkannya masuk.

Ia duduk di kursi depan meja kerjaku, tetapi duduknya tidak benar benar duduk. Tubuhnya tegang, kedua tangannya saling menggenggam kuat di pangkuan. Matanya berkeliling ruangan sebentar, lalu kembali menatap lantai.

Beberapa detik pertama diisi keheningan. Aku menunggunya bicara.

Dan ketika akhirnya ia mulai, kata katanya mengalir pelan, seperti air dari kran yang lama tidak dibuka.

Ia bercerita bahwa ia baru saja terkena efisiensi. Perusahaannya melakukan pengurangan karyawan. Usianya tidak lagi dianggap produktif. Pengalamannya panjang, tetapi tidak lagi dianggap relevan. Ia sudah mendatangi banyak tempat, mengirim banyak lamaran, menunggu banyak panggilan yang tidak pernah datang.

Aku mendengarkan, meski di sudut meja, mataku sempat menangkap map cokelat yang sejak pagi belum sempat kubereskan.

Aku punya anak, punya istri, katanya lirih.

Lalu ia berhenti. Menelan sesuatu di tenggorokannya.

Aku kemarin sudah telepon bapak, bicara dengan istri, minta maaf karena gagal.

Kalimat itu keluar seperti beban yang terlalu lama ditahan. Kepalanya langsung menunduk. Bahunya sedikit bergetar. Ia berusaha keras agar tidak menangis di hadapanku, orang yang bahkan baru dikenalnya beberapa menit.

Aku tidak tahu harus berkata apa. Kalimat penghibur terasa hambar di kepala. Sabar, pasti ada jalan, semua terdengar ringan ketika dihadapkan pada wajah lelaki ini.

Akhirnya aku hanya diam. Mendengarkan. Memberinya ruang untuk berbicara. Memberinya izin untuk rapuh.

Ia bercerita tentang anaknya yang mulai bertanya kenapa ayahnya lebih sering di rumah. Tentang istrinya yang diam diam menjual beberapa barang kecil tanpa sepengetahuannya. Tentang ayahnya yang sudah tua, yang tetap menyemangatinya lewat telepon dengan suara bergetar.

Semakin lama ia bicara, semakin aku merasa tidak nyaman dengan diriku sendiri.

Jam di dinding berdetak pelan. Waktu terasa berjalan lambat.

Sesekali aku mengangguk. Sesekali hanya menatapnya dengan penuh perhatian. Aku tidak menyela. Tidak menggurui. Tidak menghakimi.

Ia berhenti bercerita ketika napasnya mulai berat. Ruangan kembali sunyi.

Ia mengusap wajahnya pelan, lalu tersenyum tipis.

Maaf ya, jadi banyak bercerita.

Tidak apa apa, jawabku.

Ia berdiri perlahan. Mengucapkan terima kasih berkali kali, seolah aku telah memberinya sesuatu yang besar.

Ia melangkah menuju pintu. Tangannya sudah memegang gagang ketika ia berhenti dan menoleh.

Terima kasih sudah mau mendengar. Biasanya orang buru buru memberi saran. Bapak tadi hanya diam, tapi rasanya lebih lega.

Ia tersenyum, kali ini lebih tulus, lalu keluar.

Pintu tertutup pelan. Ruangan terasa lebih berat.

Aku masih duduk, memandangi pintu itu cukup lama.

Perlahan, aku membuka laci meja kerjaku.

Di dalamnya ada map cokelat yang tadi sempat kulihat.

Map itu berisi beberapa berkas lamaran kerja.

Di paling atas, ada satu berkas dengan foto lelaki yang baru saja keluar dari ruanganku.

Wajah yang sama. Nama yang sama.

Berkas itu sudah ada di mejaku sejak tiga hari lalu.

Ia pernah melamar ke tempat ini.

Dan aku yang memutuskan menolaknya.

Alasannya sederhana. Usia. Tidak sesuai kriteria. Tidak relevan dengan kebutuhan perusahaan.

Tadi, selama ia bercerita, ia tidak pernah menyebut bahwa ia datang untuk melamar kerja.

Ia datang hanya untuk didengar.

Ia tidak tahu bahwa orang yang mendengarkannya adalah orang yang kemarin menggugurkan harapannya.

Tanganku terasa dingin.

Dadaku sesak, tetapi kali ini bukan karena iba.

Melainkan rasa bersalah yang perlahan naik ke tenggorokan.

Untuk pertama kalinya, aku menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah kupikirkan.

Selama ini aku menilai berkas.

Hari ini, aku melihat manusia.

Komentar