Rabu, 17 Juni 2026 | 19:55
TRAVELLING

Open Top Tour Jakarta: Bukan Sekedar Perjalanan Keliling Kota

Open Top Tour Jakarta: Bukan Sekedar Perjalanan Keliling Kota
Bus pariwisata di Jakarta (Dok Tecno)

Oleh : Graece Tanus

ASKARA - Di tengah riuh metropolitan yang tak pernah benar-benar tidur, hadir sebuah cara baru untuk membaca wajah ibu kota: Open Top Tour (OTT). Program wisata yang digagas oleh TransJakarta ini menawarkan pengalaman sederhana namun memikat —menyusuri Jakarta dengan bus tingkat beratap terbuka, sambil memandang kota dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar perjalanan keliling kota, Open Top Tour adalah cara lain memahami bagaimana sejarah, budaya, dan modernitas Jakarta saling bertemu dalam satu lanskap urban.

Kali ini penulis akan mengulas perjalanan OTT menyusuri rute heritage yang  dimulai dari kawasan pusat kota dan membawa penumpang melewati sejumlah titik ikonik. Menikmati rute  heritage akan dimulai dari PosBloc yang dimasa lalu dikenal sebagai kantor PTT (Post, Telegraf, en Telepon) Belanda.

Perjalanan dari atas bus,
kita akan melihat Gedung Kesenian Jakarta (GKJ
) yang  berarsitektur kolonial.GKJ  telah menjadi panggung bagi berbagai pertunjukan seni sejak abad ke-19.
Sedikit berbelok mata akan segera menangkap hamparan lapangan luas di sekitar Lapangan Banteng—ruang publik bersejarah yang dahulu menjadi saksi berbagai fase kolonial hingga kemerdekaan. Dari sana, bus bergerak menuju kawasan salah satu simbol nasional Indonesia: Monumen Nasional atau yang akrab disebut Monas.Perjalanan menuju Monas kita akan melewati banyak gedung bersejarah seperti Gedung Pancasila,Gereja Immanuel ,Galeri Nasional,Kantor PLN sampai kawasan Tugu Tani.

Selanjutnya bus bergerak menuju kawasan Medan Merdeka.Di perjalanan ini kita  diajak berhenti dan menikmati serta berswa foto dengan latar belakang Monumen Nasional  setinggi 132 meter yang bukan hanya sebagai landmark kota, tetapi juga penanda ingatan kolektif tentang perjuangan bangsa.

Kembali bus bergerak melanjutkan perjalanan melewati kawasan Gambir.Tak jauh dari sana berdiri dua bangunan yang kerap disebut sebagai simbol harmoni keagamaan di Indonesia: Masjid Istiqlal dan Jakarta Katedral. Keduanya berdiri berdampingan, seakan menjadi metafora tentang keberagaman yang hidup berdampingan di jantung ibu kota. Dari dek atas bus, pemandangan ini terasa seperti potongan kecil dari narasi panjang tentang toleransi yang sering kali luput dari perhatian sehari-hari.

Perjalanan bersama OTT akan berakhir  di  kawasan seni dan budaya yang berhadapan langsung dengan Pasar Baru yang merupakan salah satu distrik perdagangan tertua di Jakarta. 

Perjalanan bersama OTT memang harus berakhir tapi membandingkan  nostalgia masa lalu dan masa kini ketika bus bergerak adalah pengalaman cara kita menikmati Jakarta yang berbeda.

Di sinilah kekuatan Open Top Tour sebenarnya terasa. Dari satu perjalanan singkat, wisatawan dapat melihat bagaimana Jakarta membentangkan dirinya sebagai kota dengan banyak lapisan: kota kolonial, kota perjuangan, kota budaya, sekaligus kota metropolitan yang terus bergerak maju.

Bus dengan atap terbuka itu pada akhirnya menjadi semacam ruang observasi bergerak. Ia mengajak orang memperlambat langkah, memandang kota yang biasanya hanya dilewati dengan tergesa-gesa. Dari dek atas, Jakarta terlihat bukan hanya sebagai kumpulan gedung dan jalan raya, tetapi sebagai cerita panjang tentang manusia, sejarah, dan perubahan.

Open Top Tour mengingatkan kita bahwa memahami kota tidak selalu harus melalui buku sejarah atau museum. Kadang, cukup dengan duduk di kursi bus terbuka, membiarkan angin kota menyapu wajah, dan menyaksikan bagaimana masa lalu dan masa depan berjalan berdampingan di jalan-jalan Jakarta.

 

 

Komentar