Rabu, 22 Juli 2026 | 04:26
TRAVELLING

Sambut Libur Nyepi dan Idul Fitri, Ini Rekomendasi Empat Destinasi Wisata di Lombok Tengah

Sambut Libur Nyepi dan Idul Fitri, Ini Rekomendasi Empat Destinasi Wisata di Lombok Tengah
Pemandangan di Bukit Merese, Kabupaten Lombok Tengah (Dok. Ronald)

ASKARA - Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang diperkirakan jatuh pada tanggal 20 dan 21 Maret 2026 mendatang terasa istimewa karena berdekatan dengan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, tepat pada 19 Maret 2026. Bagi masyarakat Indonesia momen hari raya keagamaan kerap dimanfaatkan sebagai waktu liburan bersama keluarga maupun sahabat.

Menyambut musim libur panjang mendatang Askara merangkum empat destinasi wisata berskala internasional yang bisa menjadi pilihan liburan keluarga, yang berlokasi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Kuta

Bagi pelancong internasional dan domestik Kawasan Kuta menjadi salah satu destinasi wajib ketika menyambangi Pulau Lombok. Berjarak satu jam perjalanan darat dari Kota Mataram, dan setengah jam dari Bandara Internasional Lombok yang terletak di Praya, Kuta menyajikan garis pantai indah berdampingan dengan Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika. Di kawasan ini pula berdiri bermacam fasilitas penginapan mulai dari kelas bungalow hingga hotel berbintang lengkap dengan pusat kuliner juga hiburan.

Pantai Tanjung Aan

Pantai Tanjung Aan terletak di sebelah timur Sirkuit Mandalika. Untuk mencapai pantai ini wisatawan bisa menyewa atau membawa kendaraan pribadi. Lokasinya yang menghadap langsung ke Samudera Hindia menjadikan pantai ini sebagai salah satu titik favorit wisatawan dunia. Ombaknya yang cenderung tenang ditambah garis pantai berpasir putih yang kontras dengan air jernihnya air laut manjadi magnet tersendiri bagi pengunjung untuk menghabiskan waktu di tempat ini.

Untuk menjangkau pantai ini pengunjung bisa berkendara memasuki gerbang Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dan menggunakan akses jalan dari sebelah Tenggara Sirkuit Mandalika. Informasi yang dihimpun oleh Askara, ke depannya wilayah pantai ini akan dibangun menjadi komplek resor mewah dan pusat wisata kelas dunia meniru Abu Dhabi, Persatuan Emirat Arab (PEA).

Bukit Merese

Berada tak jauh dari Pantai Tanjung Aan, Bukit Merese dapat dijangkau hanya lima menit dengan kendaraan bermotor. Bukit Merese merupakan sebuah tanjung yang terbentuk dari gugusan karang yang menjorok ke samudera. Lokasi ini menjadi “buruan wajib” bagi pelancong yang ingin mengabadikan atau sekedar menikmati momen terbenamnya matahari dipadu dengan hamparan luas lautan, hijaunya savana perbukitan, hingga Sirkuit Mandalika maupun Pantai Tanjung Aan yang nampak di kejauhan.

Di musim kemarau yang berkisar antara Agustus hingga September, Bukit Merese menawarkan sensasi “Golden Sunset” dengan gradasi warna jingga keemasan berlatar langit kebiruan. Menjelang malam pemandangan lautan di sekitar Bukit Merese makin dipercantik oleh kelip cahaya lampu dari perahu nelayan yang akan berangkat melaut.

Desa Sade

Destinasi berikut yang wajib dikunjungi saat musim liburan mendatang adalah Desa Sade. Tak hanya menawarkan keindahan alam, Kabupaten Lombok Tengah juga menjadi rumah bagi Suku Sasak yang mendirikan Desa Sade sejak tiga abad silam. Secara turun temurun masyarakat Sasak di tempat ini hidup berdampingan dengan moderenisasi sembari terus mempertahankan kearifan lokal. Di tempat ini wisatawan akan dipandu untuk menelusuri rumah-rumah tradisional yang masih menggunakan ilalang sebagai atap, berdinding anyaman bambu, dan berlantaikan tanah. Pengunjung terasa dibawa kembali ke suasana pemukiman masyarakat nusantara yang hidup di tempat ini ratusan tahun silam. Uniknya meski terbuat dari tanah lantai rumah di Desa Sade memiliki tingkat kekerasan yang hampir setara dengan lantai berbahan baku semen. Sebulan sekali lantai tanah akan dipel menggunakan kotoran sapi untuk menjaga kepadatannya.

Sebagai simbol masyarakat yang relijius di tengah pemukiman Desa Sade didirikan pula sebuah masjid tradisional didampingi satu menara pandang. Dari menara ini pengunjung bisa melihat pemandangan 360 derajat di sekeliling desa yang diapit oleh perkebunan jagung dan kapas.

Selain bergantung dari hasil pertanian roda perekonomian masyarakat Sade juga ditopang oleh penjualan produk kain dan aksesoris beraneka motif yang dibuat menggunakan teknik tenun tradisional. Bahan baku kain berasal dari kapas yang mereka pintal sendiri menjadi benang sebelum ditambahkan pewarna alami. Setiap kain menghabiskan waktu pengerjaan yang berbeda-beda bergantung kepada motif dan ukuran kain yang akan dibuat.  Sebagai masyarakat adat yang menganut sistem kekerabatan patrilineal hanya kaum wanita saja yang diperbolehkan untuk melakukan pekerjaan jenis ini.

 

 

Komentar