Kamis, 04 Juni 2026 | 09:08
NEWS

Ratusan Wanita di Armada Laut Amerika Siap Tempur Lawan Iran

Ratusan Wanita di Armada Laut Amerika Siap Tempur Lawan Iran
Ratusan wanita ikut armada perang AS ke Teluk Arab (Dok Askara)

ASKARA - Pengerahan armada besar United States Navy ke kawasan Teluk Persia tidak hanya melibatkan ribuan prajurit pria. Ratusan personel perempuan juga ikut berada di garis depan dalam operasi militer yang digelar di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Armada yang dikirim Amerika Serikat dipimpin kapal induk USS Abraham Lincoln beserta sejumlah kapal perusak dan kapal pendukung lainnya. Dalam satu kapal induk modern, jumlah personel bisa mencapai sekitar 5.000 orang, termasuk awak kapal dan satuan udara tempur.

Seiring perubahan kebijakan militer Amerika Serikat selama dua dekade terakhir, perempuan kini menjadi bagian penting dalam struktur kekuatan laut. Di armada kapal induk, jumlah personel perempuan biasanya berkisar 15 hingga 20 persen dari total kru, yang berarti ratusan wanita ikut bertugas dalam setiap pengerahan armada besar.

Mereka tidak hanya mengisi posisi administratif. Banyak di antaranya bertugas sebagai pilot jet tempur, teknisi pesawat, operator radar, analis intelijen, hingga perwira komando yang terlibat langsung dalam operasi tempur di laut.

Kehadiran perempuan dalam armada tempur modern menjadi gambaran perubahan besar dalam tubuh US Navy. Jika pada masa lalu kapal perang hampir sepenuhnya diisi pria, kini kapal induk Amerika menjadi salah satu unit militer paling beragam dengan personel dari berbagai latar belakang.

Pengerahan armada ke kawasan Teluk sendiri dilakukan sebagai bagian dari strategi Washington memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik di kawasan tersebut membuat armada laut AS terus disiagakan untuk menghadapi kemungkinan eskalasi konflik.

Dengan komposisi personel yang semakin inklusif, para perempuan di US Navy kini tidak lagi berada di belakang layar. Mereka berdiri sejajar dengan prajurit pria, siap menjalankan misi militer di salah satu kawasan paling sensitif di dunia.

 

 

Komentar