Minggu, 12 Juli 2026 | 13:25
NEWS

Stok Beras Melimpah, Alex Indra Minta Pemerintah Rumuskan Peta Ekspor Beras Petani

Stok Beras Melimpah, Alex Indra Minta Pemerintah Rumuskan Peta Ekspor Beras Petani
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman. (dok)

ASKARA-Pemerintah diminta mulai merumuskan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri, seiring berlimpahnya stok beras yang mencapai angka 3,53 juta ton di akhir Desember 2025 lalu.

Permintaan ini disampaikan Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman saat bersilaturahmi bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore (7/3/2026).

“Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global,” kata Alex.

Hadir pada kegiatan yang disertai agenda buka puasa Ramadhan 1447 H/2026 M itu, perwakilan penyuluh dari sejumlah daerah di Sumbar. Hadir pula Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti berserta jajaran.

Pada kesempatan itu Alex mengapresiasi langkah inovatif dari petani dari Sumatera Barat, Ir Djoni yang berhasil menurunkan biaya produksi dengan metode Sawah Pokok Murah.

"Dengan metode yang telah diujicobakan seluruh kabupaten/kota di Sumbar ini, hasil panen tidak kalah dengan metode konvensional. Padahal, metode ini tidak melalui pengolahan tanah yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam," ujar Alex.

Menurutnya, metode ini juga memvutuh pemupukan kimia serta penyemprotan pestisida maupun fungsida. Bahkan, cuaca kemarau juga tak terlalu jadi rintangan. Sehingga, makin memperkecil potensi gagal panen karena faktor cuaca.

“Walaupun topografi daerahnya perbukitan --sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama,” ungkap Alex yang juga Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat.

Nah inovasi tersebut ujarnya telah dilaksanakan secara massif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya karena biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini,” tambah Alex.

Dengan inovasi itu yang masib menyisakan problem adalah cara mengatasi angka patahan (broken) ataupun menir (pecahan kecil) beras. Menurut Alex, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah melalui BRIN dan dunia perguruan tinggi melalui riset-riset berkelanjutan.

“Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen,” ungkap Alex.

Kalau problem ini tidak diatasi, pihaknya memprediksikan beras Indonesia bakal sulit menembus pasar berarti global. Kalau hal itu terjadi, Alex yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI menyakini program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, akan menghadapi kendala cukup pelik.

“Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab,” tegas Alex. (dry)

Komentar