Senin, 20 Juli 2026 | 02:58
OPINI

Siapa Lebih Kuat: Iran, Amerika atau Israel?

Siapa Lebih Kuat: Iran, Amerika atau Israel?
Ilustrasi perang teluk di Timur Tengah (Dok Askara)

ASKARA – Pertanyaan mengenai siapa yang lebih kuat antara Iran, United States, dan Israel kembali mencuat di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah.

Bagi sebagian pengamat, jawabannya justru terlihat dari dinamika perang yang sedang berlangsung. Iran dinilai menunjukkan daya tahan militer yang besar karena harus menghadapi tekanan dari dua kekuatan besar sekaligus.

Konflik terbaru bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan militer terhadap berbagai target di Iran pada akhir Februari 2026. Serangan gabungan tersebut menargetkan fasilitas militer, infrastruktur strategis, serta sejumlah instalasi penting lainnya di Iran. 

Sejak saat itu, Iran melakukan serangan balasan dengan meluncurkan rudal dan drone ke berbagai target, termasuk wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk. 

Sejumlah negara Teluk seperti Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ikut terdampak karena di wilayah mereka terdapat pangkalan militer Amerika Serikat. Beberapa fasilitas militer dan infrastruktur di negara-negara tersebut juga menjadi sasaran serangan balasan Iran. 

Di sinilah muncul paradoks geopolitik yang banyak diperbincangkan. Di satu sisi, beberapa negara Teluk selama ini memberikan akses bagi pangkalan militer Amerika atau ruang udara untuk operasi militer di kawasan. Namun ketika wilayah mereka ikut terdampak serangan balasan, protes dan kecaman pun muncul.

Situasi tersebut memunculkan narasi yang berkembang di ruang publik: Iran dianggap sedang menghadapi tekanan dari koalisi kekuatan besar, sementara negara itu tetap bertahan tanpa membentuk aliansi militer formal seperti yang dimiliki pihak lawan.

Meski demikian, para analis menilai konflik ini jauh lebih kompleks daripada sekadar perbandingan kekuatan. Amerika Serikat memiliki jaringan aliansi militer global dan teknologi militer paling maju di dunia, sementara Israel dikenal memiliki kemampuan pertahanan udara dan intelijen yang sangat kuat.

Di sisi lain, Iran mengandalkan strategi perang asimetris, jaringan sekutu regional, serta kemampuan rudal jarak jauh untuk menyeimbangkan kekuatan tersebut.

Karena itu, perdebatan mengenai “siapa yang paling kuat” dalam konflik ini tidak hanya ditentukan oleh jumlah senjata atau kekuatan militer, tetapi juga oleh strategi, ketahanan politik, serta kemampuan bertahan dalam konflik jangka panjang.

 

 

Komentar