Senin, 20 Juli 2026 | 02:59
OPINI

Perang Iran Israel Memanas, Nubuat Yeremia Ingatkan Bahaya Besar Dunia

Perang Iran Israel Memanas, Nubuat Yeremia Ingatkan Bahaya Besar Dunia
Ilustrasi membaca Yeremia, Iran dan Israel seharusnya berdamai (Dok Askara/gemini)

ASKARA - Di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel, dunia seakan kembali menyaksikan siklus lama, kecurigaan, balas dendam, dan perang yang tak kunjung memberi kemenangan sejati. Namun jika menengok teks-teks kuno dalam tradisi kitab suci, justru tersimpan pesan yang paradoksal, bahwa hukuman dan kehancuran bukanlah akhir dari cerita, melainkan jalan menuju pemulihan.

Salah satu teks yang menarik untuk direnungkan adalah nubuat dalam Kitab Yeremia pasal 49 ayat 34-39. Dalam bagian itu, nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan mengenai Elam, sebuah wilayah kuno yang secara geografis berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Iran modern.

Nubuat itu keras. Disebutkan bahwa Tuhan akan mematahkan “busur Elam”, simbol kekuatan militer mereka. Penduduknya akan diserakkan ke empat penjuru bumi, ketakutan akan meliputi mereka, dan pedang musuh akan mengejar mereka. Gambaran ini menunjukkan bahwa bahkan bangsa yang kuat sekalipun tidak kebal terhadap kehancuran ketika konflik dan kekuasaan menjadi jalan utama.

Namun yang menarik, nubuat itu tidak berhenti pada hukuman. Pada bagian akhir, terdapat janji pemulihan, bahwa pada masa depan, keadaan Elam akan dipulihkan.

Di sinilah pesan moral dan spiritual yang sering terlupakan dalam konflik modern. Kitab suci tidak hanya berbicara tentang hukuman, tetapi juga tentang rekonsiliasi dan pemulihan. Bahkan bagi bangsa yang pernah mengalami kehancuran sekalipun.

Jika nubuat tersebut dibaca dalam konteks geopolitik hari ini, pesan yang muncul justru bukan legitimasi perang, melainkan peringatan terhadapnya. Perang hanya akan melahirkan penderitaan kolektif, penyebaran manusia, kehancuran kota, dan trauma lintas generasi.

Sejarah Timur Tengah telah berkali-kali membuktikan bahwa kemenangan militer jarang menghasilkan perdamaian yang langgeng. Yang muncul justru spiral konflik baru. Dalam konteks ini, baik Iran maupun Israel sebenarnya memiliki kesempatan untuk membaca ulang pesan spiritual yang sama: bahwa kekuatan militer bukanlah tujuan akhir sejarah.

Nubuat Yeremia menunjukkan bahwa Tuhan tidak hanya berdaulat atas satu bangsa, tetapi atas semua bangsa. Artinya, tidak ada bangsa yang memiliki monopoli atas kebenaran atau perlindungan ilahi.

Jika pesan ini benar-benar dipahami, maka konflik yang terus memanas antara Iran dan Israel seharusnya tidak berujung pada kehancuran yang lebih luas. Sebaliknya, ia bisa menjadi titik refleksi bahwa sejarah, agama, dan kemanusiaan sebenarnya mengarah pada satu tujuan yang sama, perdamaian.

Karena pada akhirnya, kitab suci tidak pernah menutup cerita dengan perang. Ia selalu menutupnya dengan harapan pemulihan.

 

 

Komentar