Rabu, 17 Juni 2026 | 19:40
Editorial

Mengapa Drone Iran Bisa Lolos dari Pertahanan Udara?

Mengapa Drone Iran Bisa Lolos dari Pertahanan Udara?
Ilustrasi perang Iran-Israel (Dok Askara)

ASKARA - Serangan drone yang menembus wilayah udara sejumlah negara di kawasan Teluk kembali memunculkan pertanyaan besar: mengapa sistem pertahanan udara modern yang bernilai miliaran dolar masih dapat ditembus oleh drone yang relatif sederhana?

Sejumlah analis militer menyebutkan bahwa salah satu faktor utama adalah karakteristik drone Iran yang berukuran kecil dan terbang rendah. Drone tipe Shahed misalnya, hanya memiliki bentang sayap sekitar dua hingga tiga meter. Ukuran yang kompak membuat pantulan radar sangat kecil sehingga sulit dideteksi oleh sistem radar konvensional.

Selain itu, drone tersebut juga memiliki jejak panas yang minim. Hal ini membuatnya tidak mudah ditangkap oleh sensor inframerah yang biasa digunakan dalam sistem pertahanan udara modern. Ditambah lagi, drone sering diterbangkan pada ketinggian rendah mengikuti kontur medan sehingga radar jarak jauh kerap terlambat mendeteksi keberadaannya.

Namun persoalannya tidak sesederhana ukuran drone semata.

Banyak pengamat militer menilai Iran kemungkinan menggunakan taktik serangan berlapis. Dalam skenario ini, rudal balistik, drone, dan bahkan umpan elektronik diluncurkan hampir bersamaan.

Tujuannya bukan hanya menghantam target, tetapi juga “membanjiri” sistem pertahanan udara lawan. Ketika radar dan sistem intersepsi harus menghadapi puluhan bahkan ratusan objek sekaligus, peluang sebagian drone untuk lolos menjadi jauh lebih besar.

Strategi ini dikenal sebagai swarm attack, di mana banyak drone murah diluncurkan sekaligus untuk menguras amunisi sistem pertahanan udara yang jauh lebih mahal.

Faktor lain yang jarang dibahas adalah koordinasi pertahanan udara regional. Negara-negara Teluk memiliki sistem radar dan pertahanan udara yang berbeda-beda, sebagian buatan Amerika, sebagian lagi dari Eropa.

Perbedaan sistem ini sering kali menimbulkan “blind spot” atau celah koordinasi dalam jaringan pertahanan udara bersama. Drone yang terbang rendah dapat memanfaatkan celah ini sebelum akhirnya terdeteksi terlalu dekat dengan target.

Ada pula persoalan ekonomi perang yang sering luput dari perhatian publik.

Satu unit drone kamikaze Iran seperti Shahed diperkirakan hanya berharga puluhan ribu dolar. Sementara rudal pencegat dalam sistem pertahanan udara dapat bernilai ratusan ribu hingga jutaan dolar per unit.

Artinya, secara matematis Iran hanya perlu meluncurkan drone murah dalam jumlah besar untuk memaksa lawan menghabiskan persenjataan mahal mereka.

Dalam jangka panjang, strategi ini dapat melemahkan daya tahan sistem pertahanan udara, terutama jika serangan dilakukan berulang kali.

Ada pula dugaan penggunaan teknologi perang elektronik yang belum sepenuhnya terungkap ke publik. Gangguan terhadap radar, sistem komunikasi, atau navigasi satelit dapat membuat sistem pertahanan udara terlambat merespons ancaman.

Jika benar terjadi, maka ini menunjukkan bahwa perang modern tidak lagi sekadar duel rudal dan pesawat tempur, tetapi juga pertarungan teknologi di spektrum elektronik.

Serangan drone Iran menunjukkan bahwa medan perang modern semakin bergeser. Senjata yang relatif murah, kecil, dan sederhana kini mampu menantang sistem pertahanan udara yang selama ini dianggap hampir tak tertembus.

Bagi banyak negara, kejadian ini menjadi peringatan serius bahwa konsep pertahanan udara harus berubah. Ancaman masa depan bukan hanya datang dari pesawat tempur atau rudal balistik, tetapi juga dari ratusan drone kecil yang muncul hampir tanpa terdeteksi.

Dan jika tren ini terus berkembang, maka perang di masa depan bisa saja lebih banyak ditentukan oleh drone berbiaya murah dibandingkan oleh senjata supercanggih bernilai miliaran dolar.

 

 

Komentar