Harga Pangan Menggila, Rakyat Kelaparan, Akankah Terjadi Revolusi di Iran?
ASKARA - Konflik yang terus memanas tidak hanya menghantam instalasi militer dan infrastruktur strategis, tetapi juga menekan dapur rakyat. Di tengah serangan udara dan ketegangan dengan Israel serta Amerika Serikat, harga bahan pangan di Iran dilaporkan melonjak tajam.
Di Pardis, kota dekat Teheran, harga beras dan kentang naik drastis sejak serangan dimulai. Dari Karaj, warga mengeluhkan sulitnya belanja daring karena pasokan terganggu dan harga hampir semua kebutuhan meningkat. Situasi ini menunjukkan satu hal: perang selalu lebih cepat menghantam pasar dibandingkan garis depan.
Pertanyaan krusialnya, apakah tekanan ekonomi ini akan mendorong rakyat turun ke jalan?
Sejarah Iran menunjukkan bahwa gejolak ekonomi kerap menjadi pemicu protes sosial. Inflasi tinggi, sanksi internasional, dan pelemahan mata uang dalam beberapa tahun terakhir telah menggerus daya beli masyarakat. Jika lonjakan harga pangan berlangsung lama dan distribusi tidak stabil, potensi ketidakpuasan publik akan semakin besar.
Namun Iran bukan negara tanpa pengalaman menghadapi tekanan. Pemerintah di Teheran memiliki perangkat keamanan domestik yang kuat serta pengalaman panjang mengelola demonstrasi. Dalam situasi perang, narasi patriotisme dan ancaman eksternal kerap digunakan untuk meredam perbedaan di dalam negeri. Ketika negara merasa diserang, solidaritas nasional bisa menguat, setidaknya dalam jangka pendek.
Masalahnya, solidaritas memiliki batas. Jika harga pangan terus naik, stok menipis, dan akses kebutuhan pokok terganggu, sentimen publik bisa berubah dari nasionalisme menjadi frustrasi. Ketahanan politik bukan hanya soal menahan gempuran luar, tetapi juga menjaga stabilitas perut rakyat sendiri.
Pemerintah Iran kini menghadapi dua medan sekaligus: medan militer dan medan sosial-ekonomi. Menahan tekanan Israel dan Amerika adalah satu perkara. Mengendalikan inflasi pangan dan menjaga kepercayaan publik adalah perkara lain yang tak kalah menentukan.
Pada akhirnya, stabilitas sebuah negara dalam perang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan rudal, tetapi oleh seberapa lama rakyat mampu bertahan dalam tekanan ekonomi. Jika dapur mulai padam, suara jalanan bisa menjadi ancaman yang lebih sulit diprediksi dibandingkan serangan udara.

Komentar