Senin, 20 Juli 2026 | 02:58
OPINI

Ayatollah Khamenei Tewas Dibom AS, Iran Siap Tiji Tibeh?

Ayatollah Khamenei Tewas Dibom AS, Iran Siap Tiji Tibeh?
Ilustrasi pesawat pembom membunuh Ayatolah Khameni (Dok Askara)

ASKARA - Klaim bahwa Ayatollah Ali Khamenei tewas akibat serangan bom Amerika, jika benar dan terkonfirmasi, akan menjadi titik balik paling dramatis dalam sejarah konflik modern antara Iran dan Amerika Serikat, serta sekutunya Israel. Bagi Teheran, itu bukan sekadar kehilangan pemimpin, melainkan simbol kedaulatan dan legitimasi ideologis negara.

Dalam konteks seperti itu, Iran dapat merasa memiliki alasan kuat untuk melancarkan respons besar-besaran. Bukan hanya sebagai balasan militer, tetapi sebagai pembuktian bahwa negara tersebut tidak akan tunduk pada tekanan eksternal. Di sinilah analogi sejarah Nusantara menjadi relevan: semangat "Tiji Tibeh."

Semboyan perjuangan Raden Mas Said, yang kemudian dikenal sebagai Mangkunegara I, bermakna "mati siji, mati kabeh" atau "mukti siji, mukti kabeh." Sebuah filosofi solidaritas total dalam menghadapi musuh yang dianggap mengancam eksistensi. Jika satu gugur, semua bangkit. Jika satu dihina, semua melawan.

Dalam perspektif geopolitik, kematian seorang pemimpin tertinggi akibat serangan asing bisa memicu konsolidasi internal luar biasa. Perbedaan faksi bisa mencair, oposisi bisa meredam kritik, dan nasionalisme melonjak. Tekanan eksternal sering kali justru menyatukan barisan.

Iran selama ini telah membangun jaringan pengaruh regional, baik melalui kekuatan militer konvensional, rudal balistik, drone, maupun jejaring sekutu non-negara. Jika kepemimpinan tertinggi dianggap menjadi korban langsung agresi, respons kolektif dari jaringan tersebut bukanlah hal yang mustahil. Polanya bisa menyerupai "Tiji Tibeh" versi geopolitik modern: satu diserang, banyak titik merespons.

Namun, di sinilah letak risiko terbesar. Semangat solidaritas total dalam dunia yang saling terhubung dapat berubah menjadi eskalasi tak terkendali. Serangan balasan terhadap negara-negara yang dianggap mendukung Amerika bisa menyeret kawasan Teluk, bahkan kekuatan global lain, ke dalam pusaran konflik yang lebih luas.

Apakah Iran akan memilih jalur eskalasi total atau strategi terukur? Itu bergantung pada kalkulasi elite politik dan militer di Teheran. Balasan besar memang dapat memperkuat citra ketegasan, tetapi juga berisiko membuka front perang yang melelahkan dan menghancurkan.

Sejarah mengajarkan bahwa solidaritas dalam menghadapi ancaman dapat menjadi sumber daya tahan luar biasa. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa perang tanpa batas sering kali meninggalkan luka generasi panjang. Jika semangat "Tiji Tibeh" benar-benar diadopsi dalam arti geopolitik, dunia harus bersiap menghadapi babak baru ketegangan global, di mana satu peristiwa dapat memicu gelombang respons berantai yang sulit dihentikan.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesarnya bukan hanya apakah Iran memiliki alasan untuk membalas, tetapi apakah dunia memiliki cukup kebijaksanaan untuk mencegah balasan itu berubah menjadi kobaran yang melampaui kendali siapa pun.

 

 

Komentar