Prof. Rokhmin Dahuri: Ayat Kauniyah dan Qauliyah, Jalan Ilmu dan Iman Menuju Indonesia Emas 2045
ASKARA – Rektor Universitas UMMI Bogor sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, tampil sebagai narasumber utama dalam Workshop Ayat-Ayat Kauniyah yang dirangkai dengan buka puasa bersama Majelis Pengurus Wilayah ICMI Orwil Khusus Bogor dan Majelis Daerah Kahmi Bogor, bekerja sama dengan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB, di IPB International Convention Center (IICC), Jumat (27/2).
Dalam kesempatan itu, Prof. Rokhmin membawakan makalah berjudul “Perspektif Al-Qur’an dalam Pembangunan Agro-Maritim Menuju Indonesia Emas 2045”. Ia menegaskan bahwa kunci kebahagiaan dan kesuksesan manusia, baik individu maupun bangsa, terletak pada pedoman hidup yang diturunkan Allah SWT: Islam, melalui Al-Qur’an dan Hadits sahih.
Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa ketika umat Islam menjalankan ajaran secara kaffah dan itibba’, kejayaan besar pernah diraih pada masa Golden Age of Moslem. Kini, momentum itu harus kembali dihidupkan dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an (Qauliyah) maupun yang terbentang di alam semesta (Kauniyah).
“Indonesia memiliki potensi agro-maritim yang luar biasa. Bila dikelola dengan ilmu, iman, dan nilai Qur’ani, maka cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan sekadar mimpi, melainkan keniscayaan,” ujar Anggota DPR RI periode 2024–2029 tersebut penuh semangat.
Prof. Rokhmin menegaskan pentingnya memahami ayat-ayat Allah sebagai fondasi pembangunan bangsa. Ia menjelaskan bahwa ayat kauniyah adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT berupa fenomena alam semesta, hukum-hukum fisika, dan sunnatullah yang mengatur jagad raya. Ayat ini menjadi bukti empiris eksistensi Sang Pencipta, yang harus direnungkan, dipelajari, dan disyukuri oleh manusia.
“Jika ayat qauliyah adalah wahyu tertulis (Al-Qur’an), maka ayat kauniyah adalah wahyu tersirat berupa alam semesta. Keduanya tidak mungkin bertentangan, karena sama-sama bersumber dari Allah,” tegasnya.
Ia mencontohkan peredaran planet, penciptaan manusia, tumbuhnya tanaman, hingga hukum fisika sebagai manifestasi ayat kauniyah. Dengan ilmu pengetahuan, manusia semakin mengenal Allah secara mendalam. Seiring kemajuan Iptek, kebenaran Al-Qur’an justru semakin terbukti dan tak terbantahkan.
Mengutip hipotesis Dr. Maurice Bucaille dalam bukunya “Bible, Al-Qur’an, and Science” (1976), Prof. Rokhmin menegaskan bahwa agama yang haq tidak mungkin bertentangan dengan sains. Bahkan, Al-Qur’an sendiri menyimpan keajaiban ilmiah: kata “laut” (Al-Bahr) disebut 32 kali, sementara “darat” (Al-Barr) hanya 13 kali. Fakta ini selaras dengan kondisi bumi, di mana 71,11% permukaannya adalah laut, sisanya daratan (Prof. Jennifer Hoffman, Ocean Science, 2007).
“Dengan membaca, mentadaburi, dan mengamalkan ayat-ayat Allah, baik qauliyah maupun kauniyah, kita dapat membangun Indonesia berbasis agro-maritim yang berdaya saing global, menuju cita-cita Indonesia Emas 2045,” katanya.
Pedoman Ilmu dan Iman untuk Indonesia Emas 2045
Anggota Dewan Pakar ICMI Pusat dan MN-KAHMI tersebut menegaskan bahwa Al-Qur’an bertabur ayat qauliyah dan kauniyah yang berkaitan erat dengan pembangunan agro-maritim.
Ia menjelaskan, ayat-ayat tersebut menjadi pedoman sekaligus inspirasi bagi umat manusia untuk mengelola sumber daya alam dengan iman, ilmu, dan tanggung jawab. Beberapa contoh yang ia paparkan antara lain:
- Air, hujan, dan iklim sebagai fondasi kehidupan dan produksi pangan (Q.S. 16:10–11; 15:22; 24:43).
- Pesisir dan estuari (barzakh) sebagai zona penyangga ekologi pesisir (Q.S. 55:19–20, 22).
- Ekonomi kelautan dan pelayaran, hasil laut halal, serta laut sebagai sumber rezeki dan konektivitas (Q.S. 5:96; 35:12; 45:12).
- Tata kelola dan larangan fasād, yakni larangan merusak darat dan laut (Q.S. 2:205; 7:56; 30:41).
- Panen dan anti-israf, menunaikan hak panen sekaligus menghindari pemborosan (Q.S. 6:141).
Menurutnya, ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi juga panduan komprehensif untuk tata kelola sumber daya alam, ekonomi, dan lingkungan. “Agro-maritim adalah jalan strategis bangsa. Jika kita berpijak pada nilai Qur’ani, maka pembangunan bukan sekadar mengejar pertumbuhan, tetapi menghadirkan keberkahan, keadilan sosial, dan keberlanjutan ekologis,” tegasnya.
Pembangunan sektor agro-maritim Indonesia harus berakar pada nilai-nilai Qur’ani yang terintegrasi antara wahyu tertulis (ayat qauliyah) dan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta (ayat kauniyah).
Menurut Prof. Rokhmin, Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang aspek spiritual, tetapi juga memberikan panduan komprehensif terkait tata kelola sumber daya alam, pembangunan ekonomi, serta kesejahteraan umat.
Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO itu menegaskan bahwa ayat qauliyah dan kauniyah berasal dari sumber yang sama, yakni Allah SWT, sehingga tidak mungkin bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan antara dimensi keimanan dan pendekatan ilmiah.
“Al-Qur’an bertabur ayat tentang air, hujan, tanah, laut, dan berbagai ekosistem yang menjadi fondasi pertanian dan kelautan. Ini bukan sekadar teks ibadah, tetapi juga panduan pembangunan,” ujar Prof. Rokhmin.
Ia menjelaskan, potensi agro-maritim Indonesia yang besar harus dikelola dengan pendekatan nilai agar tidak terjebak pada eksploitasi semata. Dalam perspektif Qur’ani, manusia berperan sebagai khalifah yang memikul amanah menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam.
Lima Prinsip Qur’ani Agro-Maritim
Prof. Rokhmin Dahuri,l merumuskan lima prinsip utama pembangunan agro-maritim berbasis nilai Qur’ani. Prinsip ini diyakini menjadi fondasi transformasi ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045.
1. Amanah (Khalifah) – Sumber daya alam adalah titipan Tuhan yang wajib dikelola secara bertanggung jawab, transparan, dan berpihak pada kesejahteraan petani serta nelayan.
2. Mizan (Keseimbangan) – Produksi harus menjaga daya dukung lingkungan, kesuburan tanah, kelestarian laut, dan keberlanjutan ekosistem.
3. Anti-Fasad (Tanpa Perusakan) – Eksploitasi yang merusak lingkungan bertentangan dengan ajaran Islam dan harus dihentikan.
4. Adil dan Maslahah – Distribusi manfaat ekonomi harus merata melalui reformasi tata niaga, penguatan koperasi, dan pemberdayaan UMKM sektor pangan dan perikanan.
5. Anti-Israf (Anti Pemborosan) – Efisiensi produksi dan distribusi menjadi kunci untuk mengurangi kehilangan hasil (food loss) serta memperkuat ketahanan pangan nasional.
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut menegaskan bahwa prinsip-prinsip Qur’ani ini bukan sekadar konsep spiritual, melainkan pedoman praktis yang relevan dengan tantangan modern. “Dengan amanah, keseimbangan, keadilan, dan efisiensi, kita bisa membangun ekonomi agro-maritim yang berkelanjutan, berdaya saing global, dan membawa maslahat bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya penuh keyakinan.
Jalan Berkah Menuju Indonesia Emas 2045
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa pembangunan agro-maritim tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan ekonomi semata, melainkan harus berpijak pada keadilan sosial dan keberlanjutan ekologis.
“Jika nilai Qur’ani menjadi fondasi kebijakan, maka pembangunan bukan hanya menghasilkan kemajuan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keberkahan dan kesejahteraan yang berkeadilan,” tegasnya.
Acara yang digelar bersama MPW ICMI Orwil Khusus Bogor, Majelis Daerah Kahmi Bogor, dan DKM Masjid Al-Hurriyah IPB ini menjadi ruang refleksi intelektual sekaligus spiritual. Workshop tersebut memperkuat paradigma pembangunan yang memadukan iman, ilmu pengetahuan, dan kebijakan publik dalam satu kesatuan visi strategis bangsa.
Selain Prof. Rokhmin, acara ini juga menghadirkan tokoh-tokoh nasional:
- Prof. Dr. Arif Satria, Kepala BRIN sekaligus Ketua Umum MPP ICMI, yang membuka acara dengan keynote speech.
- Prof. Dr. Evi Damayanti, Ketua Dewan Guru Besar IPB.
- Prof. Dr. Didin S. Damanhuri, Guru Besar FEM IPB dan Universitas Paramadina Jakarta.
- Tausiyah penuh hikmah disampaikan oleh Syekh Nasiruddin Ishom At-Tamady.
Workshop ini menjadi momentum penting: menyatukan cendekiawan Muslim, akademisi, dan masyarakat dalam refleksi bersama. Pesan Prof. Rokhmin mengingatkan bahwa pembangunan bangsa sejati bukan sekadar materi, melainkan perjalanan menuju keberkahan dan kemuliaan.

Komentar