Rabu, 17 Juni 2026 | 22:28
Parodi

Malam Sincia: Tujuh Makan Wajib Demi Hoki

Malam Sincia: Tujuh Makan Wajib Demi Hoki
Makan malam bersama di Malam Sincia (Dok Askara)

ASKARA - Malam Sincia itu malam sakral. Sakral banget. Soalnya di malam ini, orang-orang yang biasanya diet, tiba-tiba mendadak jadi ahli filsafat: “Ini bukan rakus, ini tradisi.”

Di meja makan keluarga Tionghoa, malam Sincia bukan sekadar makan malam. Ini semacam “sidang tahunan” keluarga, lengkap dengan agenda: makan, ketawa, nostalgia, lalu ujung-ujungnya… rebutan pangsit terakhir.

Tapi tenang, semua makanan yang hadir punya makna. Jadi kalau kamu nambah 3 kali, kamu bisa bilang itu bukan nafsu, itu doa yang serius.

1. Ikan Utuh: Biar Rezeki Nggak Putus. Ikan disajikan utuh. Kepala sampai ekor.. Maknanya: rezeki lancar dari awal sampai akhir.

Praktiknya: yang makan kepala biasanya dianggap berwibawa…
padahal kadang cuma karena dia duluan nyamber. Dan uniknya, ikan kadang sengaja disisakan sedikit. Bukan karena nggak habis, tapi karena filosofi: “Biar rezeki ada sisanya.” (Ya iyalah, kalau habis semua namanya kelaparan besok.)

2. Mi Panjang Umur: Jangan Dipotong, Nanti Umur Pendek. Mi panjang umur itu pantang dipotong.. Maknanya: panjang umur. Efek samping: makannya jadi seperti uji kesabaran nasional.. Mi masuk mulut, ujungnya masih nongol. Kamu seret pelan-pelan… kayak narik kabel charger dari bawah kasur. Kalau putus? Tenang, bukan berarti umur kamu putus. Itu cuma berarti kamu kurang skill.

3. Pangsit: Bentuknya Kayak Emas, Isinya Kayak Harapan. Pangsit itu katanya lambang kemakmuran. Karena bentuknya mirip batangan emas kuno. Tapi realitanya, pangsit lebih mirip: “bantal mini isi daging”. Dan pangsit di malam Sincia itu rawan konflik kecil: siapa cepat, dia dapat.. Siapa lambat, dapat kuah.

4. Ayam Utuh: Biar Keluarga Tetap Lengkap. Ayam disajikan utuh. Maknanya: keluarga utuh. Tapi yang sering terjadi: keluarga utuh… ayamnya nggak utuh 10 menit kemudian. Biasanya bagian paha jadi “wilayah sengketa” tingkat tinggi. Kalau kamu lihat orang tua tiba-tiba jadi diplomatis, itu bukan karena bijak, itu karena dia mau bagian dada.

5. Kue Keranjang: Lengketnya Bukan Main. Kue keranjang itu manis dan lengket. Maknanya: rezeki lengket, keluarga lengket, hubungan lengket. Praktiknya: kue keranjang lengketnya bisa bikin gigi kamu merasa sedang kerja rodi. Kalau kamu makan kebanyakan, kamu bukan lagi senyum manis…, tapi senyum “mohon ampun” karena gigi nempel semua.

6. Jeruk Mandarin: Buah yang Paling Punya Aura Sultan. Jeruk mandarin itu wajib. Maknanya: hoki, kemakmuran, keberuntungan. Dan jeruk ini selalu tampil rapi, mengkilap, kayak habis skincare-an. Biasanya jeruk jadi simbol “semoga kaya”. Tapi kalau kamu dapatnya 2 biji doang, ya…, semoga kayanya bertahap.

7. Sayur Hijau: Penyeimbang Dosa Makan. Di antara semua menu penuh minyak, daging, kuah, dan kue manis…, muncullah sayur hijau. Maknanya: sehat, tumbuh, panjang rezeki.. Makna real: biar pencernaan nggak ngamuk. Sayur itu semacam “tim pemadam kebakaran” setelah pesta makanan.

Kesimpulan Malam Sincia. Malam Sincia itu sebenarnya ritual paling jujur di dunia. Karena semua orang bilang: “Ini tradisi.”

Padahal yang terjadi adalah: “Ini kesempatan makan enak tanpa rasa bersalah.”

Tapi di balik semua kelucuan itu, Sincia tetap punya inti yang hangat: orang pulang, keluarga berkumpul, dan meja makan jadi tempat doa.

Dan kalau pun kamu makan kebanyakan…ya itu juga doa. Doa agar besok masih kuat jalan.

Kiong Hie

Komentar