Rabu, 17 Juni 2026 | 21:26
NEWS

Saat Dua Agama Berpuasa

Ramadhan Bertemu Prapaskah, Kanjeng Yoga Ajak Tapa Brata Nasional

Ramadhan Bertemu Prapaskah, Kanjeng Yoga Ajak Tapa Brata Nasional
Ilustrasi tapa brata (Dok Askara)

ASKARA - Ada tahun-tahun yang berjalan biasa. Ada pula tahun-tahun yang terasa seperti mengetuk pintu batin.

Tahun ini, banyak orang merasakan getaran itu. Puasa Islam (Ramadhan) dimulai hampir beriringan dengan puasa Katolik dalam Masa Prapaskah. Dua jalan rohani yang berbeda, namun seperti bertemu di satu persimpangan yang sama, menahan diri, menata hati, dan kembali pada Tuhan.

Pengamat spiritual Kanjeng Yoga Hartanto menyebut momen ini sebagai "peringatan halus" bagi bangsa yang terlalu lama sibuk di luar, tetapi mulai rapuh di dalam.

"Ini bukan sekadar kebetulan kalender. Ini seperti ajakan semesta agar manusia kembali menyepi dari gaduhnya dunia," kata Kanjeng Yoga, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, ketika Ramadhan dan Prapaskah berjalan berdekatan, pesan yang muncul justru makin jelas, manusia sedang diminta menghidupkan kembali laku tua yang sering terlupakan, tapa brata.

Bagi Kanjeng Yoga, tapa brata bukan milik satu agama, bukan milik satu kelompok, dan bukan milik satu budaya. Tapa brata adalah bahasa universal yang dipahami jiwa manusia sejak dulu, mengurangi, menahan, dan membersihkan.

"Puasa itu bukan sekadar tidak makan dan minum. Puasa adalah latihan untuk mengalahkan diri sendiri. Dan di situlah tapa brata bekerja," ujarnya.

Ia menjelaskan, Ramadhan mengajarkan disiplin lahir dan batin, menahan lapar, menahan nafsu, menahan amarah, serta menguatkan empati. Sementara Prapaskah, dalam tradisi Katolik, mengajarkan pertobatan, pengendalian diri, dan pembaruan hidup menuju Paskah.

Keduanya, kata dia, memiliki inti yang sama, manusia diminta menjadi lebih sunyi, lebih jujur, dan lebih berbelas kasih.

"Kalau dua puasa besar ini beriringan, itu artinya banyak orang sedang menempuh jalan yang sama, jalan untuk menundukkan ego," tutur Kanjeng Yoga.

Namun ia mengingatkan, puasa sering gagal menjadi tapa brata jika hanya berhenti pada ritual. Banyak orang kuat menahan lapar, tapi lemah menahan lisan. Banyak orang tahan haus, tapi mudah melukai. Banyak orang bangga beribadah, tetapi tetap ringan merendahkan orang lain.

"Puasa yang hanya membuat kita sibuk menilai orang lain, itu bukan puasa. Itu hanya jeda makan," katanya.

Kanjeng Yoga menekankan, ukuran keberhasilan puasa tidak terletak pada seberapa ketat seseorang menahan makan, melainkan seberapa lembut ia setelahnya. Apakah ia lebih sabar? Apakah ia lebih jujur? Apakah ia lebih peka pada yang lemah?

"Tapa brata itu bukan soal menahan perut. Tapa brata itu soal menahan keserakahan. Menahan kebencian. Menahan keinginan untuk selalu benar," ucapnya.

Ia menyebut, dalam situasi sosial yang mudah terbelah, momen dua puasa besar yang beriringan semestinya menjadi ruang bersama untuk merawat Indonesia sebagai rumah.

Bukan rumah yang penuh teriakan, tetapi rumah yang penuh kesadaran.

"Kalau Ramadhan mengajarkan kita menahan diri, dan Prapaskah mengajarkan kita merendahkan hati, maka bangsa ini seharusnya ikut belajar, jangan cepat marah, jangan mudah memfitnah, jangan gampang menghakimi," ujarnya.

Ia juga menyinggung tantangan zaman digital yang membuat manusia semakin bising. Puasa, kata dia, seharusnya menjadi "detoks batin" dari kebiasaan buruk, adu komentar, adu hinaan, adu pamer, dan adu kebencian.

"Kita ini sering tidak lapar makanan, tapi lapar pengakuan. Tidak haus air, tapi haus pujian. Puasa datang untuk menyembuhkan itu," katanya.

Kanjeng Yoga menutup refleksinya dengan sebuah kalimat yang terdengar sederhana, tetapi menghantam pelan. "Yang paling berat dari puasa bukan menahan lapar. Yang paling berat adalah menahan diri agar tidak menjadi penyebab luka bagi orang lain."

 

Komentar