Stop Riset Setengah Hati! Prof. Rokhmin Bongkar Kunci World-Class Research di USK Banda Aceh
ASKARA – Rektor Universitas UMMI Bogor sekaligus Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., menyampaikan kuliah umum (Studium Generale) di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Senin (9/2/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia membawakan makalah berjudul “Peningkatan Peran USK dalam Menghasilkan SDM Unggul dan Inovasi, dan Pembangunan Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045”.
Prof. Rokhmin menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi melalui program Kampus Berdampak, kebijakan baru Kemendiksaintek sejak 2025. Menurutnya, jika program Kampus Merdeka (2019–2024) menekankan fleksibilitas pembelajaran, maka Kampus Berdampak menekankan aksi nyata yang berkontribusi pada pembangunan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan unggul, tetapi harus menjadi agen perubahan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegas Anggota Komisi IV DPR RI itu.
Ia juga menyoroti urgensi penguasaan digital skill untuk menghadapi disrupsi teknologi. Ia mengingatkan bahwa tanpa kemampuan beradaptasi, individu maupun negara berisiko tertinggal dan kehilangan daya saing, yang dapat memicu pengangguran struktural dan stagnasi ekonomi.
Prof. Rokhmin menjelaskan adanya pergeseran besar struktur lapangan kerja global hingga 2030. Pekerjaan berbasis teknologi, layanan, dan kebutuhan dasar manusia akan tumbuh, sementara pekerjaan rutin dan administratif cenderung menurun karena otomatisasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya reskilling dan upskilling agar tenaga kerja Indonesia siap menghadapi perubahan pasar kerja.
“Temuan ini menegaskan urgensi reskilling dan upskilling, agar tenaga kerja mampu beradaptasi dengan perubahan pasar kerja dan meminimalkan dampak pengangguran struktural di masa depan,” ujarnya.
Riset USK untuk Indonesia Emas 2045
Prof. Rokhmin menekankan pentingnya transformasi perguruan tinggi melalui program Kampus Berdampak. Menurutnya, kebijakan yang baik harus lahir dari riset yang kuat, dan riset yang berdampak harus terhubung langsung dengan proses pembuatan kebijakan. Ia kemudian menyodorkan arah riset USK untuk mendukung cita-cita Indonesia Emas 2045:
Ia juga menegaskan bahwa kebijakan yang baik harus lahir dari riset yang kuat, dan riset yang berdampak harus terhubung langsung dengan proses pembuatan kebijakan.
Terkait hal tersebut, Prof. Rokhmin menyodorkan arah riset USK untuk mendukung Indonesia Emas 2045.Yakni:
1. Setiap aktivitas riset harus ditujukan untuk: (1) memecahkan permasalahan bangsa dan dunia saat ini maupun di masa depan; (2) pendayagunaan potensi pembangunan (SDA, SDM, dan posisi geoekonomi) bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kedaulatan bangsa; dan (3)sesuai dengan kebutuhan pasar dan dinamika pembangunan (market and development-oriented research).
• Asta Cita: pangan, energi, farmasi, air, hilirisasi dan industrialisasi, blue economy, green economy, dan digital economy).
• Arah Riset USK untuk mendukung Indonesia Emas 2045.
“Output riset semacam ini pasti layak publikasi di Jurnal Ilmiah nasional maupun internasional,” kata Prof. Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO (Asosiasi Pemerintah Daerah Pesisir dan Kepulauan se Indonesia).
2. Para peneliti USK harus meningkatkan kapasitasnya agar mampu menghasilkan hasil riset yang inovatif dan sesuai kebutuhan konsumen (pasar) di dalam maupun luar negeri: Arah riset USK untuk mendukung Indonesia Emas 20245: invensi yang mencapai technological readiness.
3. Para peneliti USK harus melibatkan (bekerjasama dengan) pihak industri dan pemerintah (users) sejak tahap perencanaan, implementasi, industrialisasi (scaling up) sampai pemasaran hasil R & D.
4. Pemerintah harus menyediakan infrastruktur, sarana, dan anggaran (> 3% PDB) penelitian yang mencukupi; serta memberikan kesejahteraan dan penghargaan kepada para peneliti seperti halnya (benchmarking) di negara-negara maju atau emerging economies lainnya yang lebih maju dan makmur.
5. Pemerintah dan masyarakat menjamin kesejahteraan serta lebih menghargai peneliti, ilmuwan, dosen, dan guru sebagaimana di emerging economies yang lebih maju atau di negara industri maju dan kaya.
“Output riset semacam ini pasti layak publikasi di jurnal ilmiah nasional maupun internasional,” ujar Prof. Rokhmin yang juga Ketua Dewan Pakar ASPEKSINDO.
Dorong Riset Kelas Dunia
Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa penelitian berkualitas tinggi (world-class research) berperan sentral dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, pembangunan sosial-ekonomi, serta penciptaan IPTEK global.
Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, mulai dari keterbatasan pendanaan, akses teknologi, infrastruktur riset, hingga jejaring akademik global.
“Sayangnya, di sebagian besar universitas Indonesia, para dosen peneliti masih menghadapi banyak keterbatasan untuk melaksanakan riset berkelas dunia,” ujar Prof. Rokhmin yang juga anggota International Scientific Advisory Board of Center for Coastal and Ocean Development, University of Bremen, Germany.
Sebagai solusi, ia menyoroti pentingnya kombinasi keahlian manusia dengan kecerdasan buatan (AI). Salah satu contoh adalah platform “Cactus” yang dikembangkan perusahaan Edigate, mitra Global Research Council (GRC), yang dapat membantu mempercepat proses riset dan publikasi ilmiah.
Di akhir makalahnya, Prof. Rokhmin menekankan urgensi kolaborasi lintas sektor melalui model Pentahelix. Model ini mensinergikan akademisi, industri, pemerintah, komunitas, dan media dalam menciptakan ekosistem riset dan pengabdian masyarakat berbasis IPTEK, kreativitas, dan inovasi.
“Pentahelix merupakan sebuah model kerjasama inovatif yang mensinergikan Akademisi, Bisnis, Pemerintah, Komunitas, dan Media untuk menciptakan ekosistem kerjasama berbasis IPTEK, kreativitas, dan inovasi,” tegasnya.
Dengan gagasan tersebut, Prof. Rokhmin menutup kuliah umum dengan pesan bahwa riset kelas dunia, pemanfaatan teknologi AI, dan kolaborasi Pentahelix adalah kunci bagi perguruan tinggi Indonesia untuk berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Komentar