Senin, 20 Juli 2026 | 21:06
Parodi

Kamera Siap Menyambut Presiden, Eh Yang Datang Cak Imin

Kamera Siap Menyambut Presiden, Eh Yang Datang Cak Imin
Ilustrasi HPN 2026 (Dok Askara)

ASKARA - Puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2026 digelar megah di Lapangan Masjid KP3B, Kota Serang, Minggu (8/2/2026). Lapangan penuh. Kamera berjajar. Mikrofon berdiri gagah seperti tiang bendera. Wartawan dari seluruh penjuru negeri hadir, membawa satu harapan klasik yang selalu diwariskan turun-temurun:

"Semoga Presiden datang."

Tapi ternyata, negara sedang menerapkan konsep baru, kehadiran versi hemat kuota.

Presiden tidak hadir langsung. Acara diwakili oleh Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin).

Di kalangan wartawan, ini semacam "breaking news" yang tidak perlu konferensi pers, semua tahu, semua paham, semua langsung menghela napas dengan gaya masing-masing.

Banten sudah bersiap. Serang sudah berdandan. KP3B sudah dipoles. Lapangan masjid sudah jadi panggung nasional.

Warga pun menanti, bukan hanya insan pers. Ada yang datang karena ingin melihat pemimpin negara secara langsung. Ada juga yang datang karena percaya, HPN itu momen langka, pers dan negara duduk satu meja, walau biasanya pers duduknya di pinggir, sambil merekam.

Namun ketika momen puncak tiba, yang hadir adalah wakil, Cak Imin.

Sebagian peserta berusaha tetap tenang, karena dalam budaya republik, kata "diwakili" adalah salah satu kata paling sering dipakai untuk menenangkan hati.

Pers Itu Penting, Tapi Jangan Terlalu Penting

HPN adalah panggung untuk merayakan pers, profesi yang tiap hari menjaga informasi tetap hidup, meski kadang harus menelan komentar pedas, tekanan ekonomi media, sampai ancaman di lapangan.

Karena itu, banyak yang menilai kehadiran Presiden seharusnya menjadi simbol sederhana, bahwa pers bukan hanya dipanggil saat negara butuh dukungan narasi.

Tapi rupanya, tahun ini pesan simboliknya berbeda.

Kalau biasanya pers disebut pilar keempat demokrasi, maka di HPN 2026 pers mendapat pelajaran baru, pilar keempat itu kuat, karena sudah terbiasa berdiri sendiri.

Wartawan Sudah Bela Negara, Kini Bela Diri dari Kekecewaan

Yang membuat suasana makin nyeleneh, sebelumnya wartawan sempat ikut berbagai kegiatan kebangsaan. Ada yang bilang itu bagian dari bela negara. Wartawan pun ikut. Dengan semangat. Dengan atribut. Dengan disiplin. Karena kalau wartawan tidak bela negara, nanti dibilang tidak nasionalis. Kalau wartawan terlalu kritis, nanti dibilang tidak sejuk. Kalau wartawan diam, nanti dibilang tidak berfungsi.

Tapi pada puncak acara HPN, sebagian wartawan mendadak menyadari satu hal, bela negara itu ternyata latihan paling efektif untuk bela perasaan.

HPN 2026 tetap berjalan meriah. Pidato disampaikan. Foto-foto diambil. Para pejabat hadir. Para wartawan tetap bekerja.

Namun ada satu momen yang sulit ditutupi, ketika kamera menyorot panggung, dan publik sadar, ada satu sosok yang ditunggu… tidak datang.

Kalau prakiraan cuaca menyebut "berawan," maka prakiraan acara HPN 2026 bisa dirangkum singkat, Lapangan ramai, tapi kehadiran Presiden berpotensi hujan harapan.

HPN Tetap HPN, Tapi Pers Punya Catatan

Di akhir acara, pers tetap pulang membawa liputan. Bukan hanya liputan acara, tapi liputan rasa. Karena wartawan adalah makhluk yang unik, kalau tidak diberi jawaban, ia akan mencari. kalau tidak diberi penjelasan, ia akan menulis,. Kalau ditinggal, ia tetap meliput. Dan mungkin itulah ironi paling manis di HPN 2026, Pers hadir penuh untuk negara. Negara hadir… lewat perwakilan.

 

 

Komentar