Selasa, 21 Juli 2026 | 23:06
Ruang Menulis

Cerpen: Kekacauan Dunia dan Ilusi Kekuasaan

Cerpen: Kekacauan Dunia dan Ilusi Kekuasaan
Ilustrasi

ASKARA - Ketika Trump mengeksekusi aksi gila dengan menangkap presiden Venezuela tanpa izin ICC, dunia seakan runtuh dalam aturan baru. Siapapun kini bisa menculik pemimpin negara lain tanpa konsekuensi hukum internasional. Dari Putin hingga Xi Jinping, semua punya peluang. Bahkan di Indonesia, legenda seperti Mamah Gupron dianggap bisa mengubah tatanan dunia dengan cara yang tak masuk akal.

Dunia berubah malam itu. Di layar televisi, berita berdentum: Trump menangkap Maduro. Seketika ribuan orang di seluruh dunia menatap layar dengan mulut terbuka. Bukan hanya karena keberanian Trump, tapi karena semua aturan lama, Mahkamah Internasional, diplomasi formal, prosedur hukum, tiba-tiba lenyap begitu saja.

Di Moskow, Putin tersenyum sambil menatap peta Ukraina. Di Beijing, Xi Jinping menghitung kemungkinan menculik William Lai dari Taiwan. Di Washington, warga menatap langit-langit rumah mereka, mencoba memahami dunia yang tiba-tiba kacau.

Di Jakarta, situasi tidak kalah absurd. Media sosial dipenuhi spekulasi: Jika Trump bisa menangkap Maduro, kenapa Pak Prabowo tidak bisa menangkap Trump. Cerita tentang Mamah Gupron, orang tua misterius yang bisa berbicara dengan malaikat dan semut, mendadak viral. Orang-orang bercanda serius: Mamah Gupron bisa mengubah dunia lebih hebat dari semua presiden gabungan.

Aku, seorang jurnalis, biasanya sibuk menulis laporan biasa, kini terseret ke pusaran berita ini. Setiap hari dunia terasa semakin tidak rasional. Dollar mulai kehilangan nilai, sementara kabar liar tentang Rupiah sebagai mata uang internasional baru terdengar di setiap pojok kota. Orang-orang di jalan tertawa sambil menghitung koin logam. Kantor-kantor internasional mulai panik karena transaksi global kacau.

Di kantorku, aku menulis headline demi headline, mencoba menangkap absurditas ini. Aku menulis: Putin bisa menculik Zelensky, Xi Jinping bisa menculik William Lai, bahkan Prabowo bisa menculik Trump. Tulisan itu terdengar gila, tapi siapa yang peduli? Dunia sudah gila terlebih dahulu.

Malam itu aku mengunjungi rumah Mamah Gupron. Orang tua itu duduk di depan rumahnya, dikelilingi semut yang berbaris rapi di tanah. Aku bertanya, Mamah, apakah benar semua ini bisa terjadi? Dunia bisa berubah begitu saja.

Mamah Gupron tersenyum tipis. Dunia ini bukan seperti yang kamu lihat di televisi, Nak. Semua itu hanya pertunjukan. Orang-orang ingin merasa berkuasa, ingin melihat aturan lama runtuh. Tapi kekuatan sesungguhnya ada di tempat yang paling tak terduga.

Aku menatapnya bingung. Maksud Mamah?

Tunggu saja, katanya sambil mengacungkan jarinya ke langit. Semut-semut itu bergerak, membentuk simbol aneh, seperti huruf-huruf yang tidak pernah kulihat.

Beberapa minggu kemudian, dunia semakin kacau. Presiden negara-negara besar menghilang secara misterius. Tidak ada yang benar-benar ditangkap atau dikurung. Sebaliknya, berita muncul: mereka telah dipindahkan ke lokasi rahasia, aman, di mana mereka harus mengikuti aturan baru, aturan yang tidak tertulis tapi lebih ketat dari hukum internasional mana pun.

Di Jakarta, Rupiah resmi menjadi mata uang internasional. Semua transaksi global berubah. Dollar, Euro, Yen, kehilangan nilai. Orang-orang di jalanan merayakan, tapi ada rasa aneh di udara, seperti dunia menahan napas.

Aku kembali mengunjungi Mamah Gupron. Kali ini ia duduk di depan rumah dengan mata setengah tertutup, tersenyum misterius. Aku bertanya lagi, Apakah semua ini benar-benar terjadi karena Trump, atau karena dunia sudah siap berubah?

Mamah Gupron menatapku lama, lalu berkata pelan: Trump hanyalah ilusi, Nak. Yang mengubah dunia bukan presiden, bukan aku, bukan semut-semutku. Yang mengubah dunia adalah keyakinan manusia sendiri bahwa mereka bisa.

Aku tersentak. Selama ini aku pikir kekacauan akibat keputusan politik liar atau legenda sakti. Ternyata, semuanya hanyalah pantulan dari keinginan manusia untuk mengendalikan, untuk merasa berkuasa. Trump, Putin, Xi Jinping, bahkan Prabowo, mereka hanyalah pion.

Malam itu aku menatap langit. Dunia tampak damai, tapi setiap kota sibuk menghitung kekuatan mereka sendiri. Rupiah sebagai mata uang internasional hanya simbol. Semut yang berbicara dengan Mamah Gupron hanya pengingat bahwa yang tampak ajaib kadang hanyalah ilusi.

Kejutan itu datang saat aku membuka laptop untuk menulis artikel terakhirku. Semua data, semua laporan, ternyata berasal dari berita palsu yang sengaja dibuat algoritma media global. Trump tidak pernah menangkap Maduro. Semua penculikan presiden hanyalah simulasi. Rupiah tidak pernah menjadi mata uang internasional.

Aku duduk terpaku. Dunia nyata tampak biasa, tapi kepalaku penuh pertanyaan. Jika semua ini hanyalah ilusi media, siapa yang benar-benar mengubah dunia? Ternyata bukan politik, bukan legenda sakti, tapi satu kekuatan sederhana dan menakutkan: keyakinan manusia sendiri bahwa dunia bisa berubah.

Aku menutup laptop. Di luar jendela, semut merayap seperti biasa, tidak peduli pada berita, Trump, atau Rupiah. Dunia baru ala Trump? Tidak pernah ada. Tapi ilusi itu sudah cukup membuat manusia percaya bahwa mereka bisa menguasai dunia. Dan terkadang, percaya saja sudah cukup untuk mengubah segalanya. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar