Rabu, 15 Juli 2026 | 23:00
NEWS

Cahaya Kuning Misterius Turun Tegak di Gunung Padang

Isyarat Langit Dibuka

Cahaya Kuning Misterius Turun Tegak di Gunung Padang
Ilustrasi cahaya kuning misterius (Dok Askara)

ASKARA - Senja belum sepenuhnya runtuh ketika langit di atas Gunung Padang menunjukkan tanda yang tak lazim. Dari balik awan tebal, seberkas cahaya kuning keemasan turun tegak lurus, lebar, tanpa suara, seolah dihantarkan langsung dari langit ke pusat bumi.

Fenomena yang terjadi belum lama ini, disaksikan langsung oleh rombongan kecil yang terdiri dari Romo Kolonel (Sus) Yos Bintoro, Pr, pengurus Keuskupan TNI-Polri (OCI) Kolonel Laut Pundjung Manoe, dua praktisi spiritual Adi Wibowo dan Dar Edi Yoga, serta seorang mahasiswa Unpad, Johanes Vianney Derda, saat melintasi kawasan menuju Situs Gunung Padang.

"Bukan petir. Tidak menyambar. Ia turun lurus, kuning, dan tenang," ungkap Adi Wibowo, yang mengaku langsung merasakan tekanan batin kuat ketika cahaya itu muncul.

Menurut Adi Wibowo, dalam pembacaan spiritualnya, cahaya tersebut bukan peristiwa alam semata. Ia menafsirkan kehadiran itu sebagai iringan energi astral yang bergerak dari timur Pulau Jawa hingga Bali, menuju Gunung Padang, menyatu dalam momentum spiritual yang baru saja digelar di kawasan tersebut.

"Ada rasa seolah Gunung Padang sedang menerima tamu lama. Bukan manusia," ujarnya singkat.

Sementara itu, Dar Edi Yoga menempatkan peristiwa tersebut dalam konteks yang lebih dalam. Ia menyebut cahaya kuning itu sebagai tanda komunikasi vertikal, hubungan langsung antara langit dan tanah Nusantara.

"Gunung Padang adalah titik tua. Ia menyimpan memori peradaban dan energi leluhur. Cahaya itu bukan datang tiba-tiba, tapi dipanggil oleh peristiwa batin yang terjadi di sekitarnya," kata Dar Edi Yoga, Jumat (6/1).

Ia menambahkan, warna kuning keemasan secara simbolik merepresentasikan kesadaran tinggi, kewibawaan, dan restu kosmik. "Jika cahayanya lurus dan tidak menyebar, itu pertanda pesan diarahkan ke satu titik penting," tegasnya.

Kesaksian tersebut diperkuat oleh Yusuf, juru pelihara Gunung Padang. Ia mengaku melihat cahaya serupa sekitar pukul 18.00 WIB. "Turunnya cepat tapi tidak liar. Seperti diturunkan, bukan jatuh," ungkapnya.

Gunung Padang kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai situs batu berundak, melainkan ruang perjumpaan antara sejarah, kekuatan alam, dan dimensi yang tak selalu dapat dijangkau nalar.

Bagi sebagian orang, cahaya kuning itu mungkin hanya fenomena langit. Namun bagi mereka yang hadir dan merasakan, peristiwa tersebut adalah isyarat: bahwa Gunung Padang masih hidup, masih berjaga, dan sesekali memilih cara sendiri untuk menyatakan keberadaannya.

 

 

Komentar