Rabu, 17 Juni 2026 | 19:23
NEWS

Walk for Peace

Ajakan Meditasi Bersama Bhikkhu Pannakara, Disiarkan Langsung dari Washington DC

11 Februari 2026

 Ajakan Meditasi Bersama Bhikkhu Pannakara, Disiarkan Langsung dari Washington DC
Ilustrasi meditasi bersama (Dok Askara)

ASKARA - Young Buddhist Association of Indonesia (YBA) mengundang masyarakat untuk mengikuti Peace Gathering pada 11 Februari 2026 pukul 14.00 waktu setempat di Lincoln Memorial, Washington D.C. Kegiatan ini juga akan disiarkan secara langsung agar dapat diikuti publik lebih luas, termasuk komunitas Buddhis dan pegiat perdamaian di berbagai negara.

Acara tersebut menjadi bagian dari puncak perjalanan “Walk for Peace”, sebuah aksi jalan kaki lintas negara bagian yang membawa pesan damai, persatuan, dan welas asih. Di tengah dunia yang kerap gaduh oleh konflik, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang hening yang mengingatkan bahwa kedamaian selalu punya jalan pulang.

Perjalanan spiritual ini dipimpin Bhikkhu Pannakara, yang memimpin rombongan 18 biksu dalam tradisi thudong, jalan kaki panjang yang disertai latihan meditasi dan kesadaran penuh. Mereka memulai perjalanan dari Texas pada 26 Oktober 2025, menempuh jarak sekitar 2.300 mil atau kurang lebih 3.700 kilometer.

Selama perjalanan, para biksu tidak hanya berjalan, tetapi juga menyampaikan pesan moral tentang keberanian menjaga batin tetap tenang di tengah hiruk-pikuk. Setiap langkah menjadi simbol latihan: mengurangi amarah, merawat welas asih, dan menolak kebencian yang sering menyelinap dalam kehidupan modern.

YBA menyebut Peace Gathering di Lincoln Memorial dipilih bukan tanpa alasan. Tempat ini dikenal sebagai simbol perjuangan kemanusiaan, persatuan, dan hak sipil di Amerika Serikat, sehingga dinilai tepat untuk menjadi panggung doa bersama lintas latar belakang, lintas bangsa, bahkan lintas keyakinan.

Selain sesi refleksi dan doa, panitia juga mengajak peserta mengikuti meditasi bersama sebagai inti acara. Ajakan ini ditekankan sebagai bentuk praktik sederhana yang dapat dilakukan siapa pun, sebagai cara memulihkan diri, sekaligus membangun energi damai yang dimulai dari dalam.

YBA berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi pengingat bahwa perdamaian bukan slogan, melainkan keputusan harian yang perlu dilatih. “Walk for Peace” pun ditutup bukan dengan gegap gempita, melainkan dengan kesunyian yang bermakna: bahwa dunia mungkin tidak selalu berubah cepat, tetapi hati manusia selalu bisa belajar menjadi lebih lembut.

 

 

Komentar