Huntara Tahap II Rampung, TRAMP Fokus Air Bersih dan Pemulihan Lingkungan
ASKARA - Pembangunan hunian sementara (huntara) tahap II bagi warga terdampak bencana di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, telah selesai dilaksanakan. Proyek ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan kawasan pascabencana yang dilakukan secara kolaboratif.
Anggota Tim Relawan Aksi Masyarakat Peduli (TRAMP), Muhammad Ismukandar Mandji, mengatakan saat ini terdapat empat unit huntara yang sedang dan telah digarap. Dua unit telah rampung sepenuhnya, sementara dua lainnya masih dalam tahap pengerjaan.
“Total ada empat huntara. Dua sudah kita selesaikan, dua lagi masih on progress,” ujar Ismukandar Mandji di lokasi, Selasa (3/2).
Ia menambahkan, keterlibatan personel Brimob di lapangan turut mempercepat proses pembangunan, terutama pada tahap akhir pengerjaan hunian. Dukungan tenaga dan pengamanan dinilai sangat membantu kelancaran kegiatan di wilayah terdampak.
Huntara tersebut dibangun oleh Yayasan TRAMP-FMMB sebagai bentuk komitmen pemulihan pascabencana di Tapanuli Selatan, khususnya bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat bencana alam.
Selain penyediaan hunian, TRAMP juga menyoroti kebutuhan mendesak lain, terutama ketersediaan air bersih. Saat ini, masih dibutuhkan pembangunan sumur air bersih di lima titik untuk memenuhi kebutuhan dasar warga penghuni huntara.
“Air bersih masih menjadi kebutuhan utama. Kita masih membutuhkan sumur di lima titik,” jelasnya.
Dalam jangka menengah, kawasan Batang Toru juga akan mendapatkan program penanganan sungai dari pemerintah pusat. Untuk satu tahun ke depan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) merencanakan pemasangan bronjong dan set pile di sepanjang Sungai Batang Toru guna mengurangi risiko bencana lanjutan.
Tak hanya fokus pada hunian dan infrastruktur, TRAMP bersama warga juga merencanakan pemulihan lingkungan. Setiap rumah huntara direncanakan akan ditanami pohon cemara atau pinus dengan tinggi sekitar satu meter sebagai bagian dari upaya penghijauan dan pemulihan ekosistem.
“Kita ingin membangun kembali desa yang sempat hilang, bukan hanya rumahnya, tapi juga lingkungannya,” ujar Ismukandar.
Melalui kerja intensif dan kolaborasi lintas pihak, TRAMP berharap Desa Garoga dapat kembali bangkit, tidak hanya sebagai kawasan hunian sementara, tetapi sebagai desa yang pulih secara sosial, ekologis, dan berkelanjutan.

Komentar