Gunung Padang Bergetar, Raja Ratu Nusantara Berkumpul Menata Takdir Alam
ASKARA - Di tengah meningkatnya bencana ekologis yang melanda berbagai wilayah Nusantara, praktisi spiritual Cahaya Adi Wibowo menyampaikan pesan reflektif bernuansa mistis dari Situs Megalitikum Gunung Padang. Menurutnya, kawasan punden berundak di puncak Gunung Padang merupakan ruang sakral tempat berlangsungnya pertemuan energi para Raja dan Ratu Nusantara dalam dimensi sukma.
Dalam penuturan spiritualnya, Cahaya Adi Wibowo menggambarkan puncak Gunung Padang sebagai “singgasana cahaya”, tempat para penjaga peradaban Nusantara turun dan melingkar di sekitar meja batu kuno. Pertemuan tersebut, menurutnya, merupakan upaya penyatuan energi leluhur untuk menyembuhkan Ibu Pertiwi yang tengah mengalami luka mendalam akibat rusaknya keseimbangan alam.
“Di bawah tatapan langit Cianjur, energi itu berkumpul. Meja batu bergetar secara halus, seolah menyalurkan pesan lama yang kembali dibangunkan: bahwa Nusantara sedang kehilangan jati dirinya,” ujar Adi Wibowo, Kamis (22/1).
Ia menilai bencana alam yang terjadi belakangan ini tidak semata peristiwa fisik, melainkan cerminan disharmoni antara manusia dan alam. Dalam narasi batinnya, pesan leluhur yang muncul dari Gunung Padang menyerukan agar bangsa ini kembali pada akar budi pekerti, kearifan kosmik, dan tata hidup yang selaras dengan alam semesta.
Gunung Padang, yang dikenal sebagai situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara, dalam pandangan Cahaya bukan hanya peninggalan sejarah, melainkan simpul energi peradaban. Punden berundak dipahami sebagai struktur kesadaran, tempat komunikasi antara dimensi manusia dan dimensi sukma berlangsung.
“Pemulihan Nusantara tidak hanya soal kebijakan atau teknologi, tetapi juga soal kesadaran. Jika hubungan dengan alam dipulihkan, kejayaan akan mengikuti,” katanya.
Refleksi spiritual ini menjadi bagian dari pandangan alternatif yang berkembang di tengah masyarakat, khususnya mereka yang memaknai Gunung Padang sebagai pusat energi leluhur dan simbol peradaban Nusantara. Di luar kajian ilmiah, situs ini terus hidup dalam ingatan kolektif sebagai ruang sakral yang menyimpan pesan-pesan batin bagi generasi masa kini.

Komentar