Rabu, 22 Juli 2026 | 04:28
NEWS

30 Jam di Jurang Maut, Tim SAR Bertahan Demi Korban Pesawat

30 Jam di Jurang Maut, Tim SAR Bertahan Demi Korban Pesawat
Upaya awal evakuasi dilakukan dengan menarik jenazah ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter (Dok Basarnas)

ASKARA - Proses evakuasi korban pertama kecelakaan pesawat ATR 42-500 rute Yogyakarta-Makassar di kawasan Pegunungan Bulu Saraung, wilayah Maros, Pangkep, Sulawesi Selatan, berlangsung penuh tantangan. Tim SAR gabungan harus bertahan hingga 30 jam di medan ekstrem demi menjaga keselamatan personel dan jenazah korban.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Makassar selaku SAR Mission Coordinator (SMC), Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan teknik khusus mengingat lokasi pesawat berada di jurang curam dengan kedalaman ratusan meter.

Tim SAR menurunkan tali hingga sekitar 100 meter dari punggungan yang tidak jauh dari titik awal pesawat menghantam lereng gunung. Proses rappeling menggunakan peralatan khusus memerlukan kehati-hatian tinggi karena medan licin dan terbatasnya ruang gerak.

Sebanyak 10 personel gabungan dari Basarnas Makassar, Kopasgat TNI AU, BPBD Kota Makassar, Brimob, Pramuka Peduli, dan Jasdam diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan mengikuti alur air dan serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter.

Salah satu rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi, mengungkapkan bahwa korban pertama ditemukan pada pukul 13.43 WITA dalam kondisi tersangkut di dahan pohon. Korban berjenis kelamin laki-laki dan berada di lokasi dengan kemiringan sekitar 30 derajat, tepat di bibir tebing.

“Proses penanganan jenazah membutuhkan waktu sekitar satu jam karena posisi korban cukup berbahaya,” ujar Rusmadi, dalam keterangan, Selasa (20/1).

Upaya awal evakuasi dilakukan dengan menarik jenazah ke arah atas sejauh kurang lebih 60 meter. Namun, keterbatasan tenaga, peralatan, serta hujan deras yang terus mengguyur lokasi memaksa tim melakukan evaluasi cepat.

Tim kemudian memutuskan mengubah jalur evakuasi ke arah bawah menuju kampung terdekat yang dinilai lebih memungkinkan. Sayangnya, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras, kabut tebal, dan suhu dingin membuat pergerakan tim sangat terbatas.

Demi keselamatan, tim memutuskan bertahan di lereng tebing yang berbatu dan rawan longsor. Selama kurang lebih 30 jam, seluruh personel tetap berada di lokasi bersama jenazah sambil menunggu kondisi memungkinkan untuk dilanjutkan.

“Kami harus bermalam di lereng tebing dengan kondisi yang sangat tidak bersahabat. Keselamatan personel menjadi pertimbangan utama,” kata Rusmadi.

Pada keesokan harinya, Senin (19/1), dilakukan estafet evakuasi. Jenazah diserahkan kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan risiko keselamatan tim pertama sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.

Proses evakuasi kemudian diteruskan oleh tim kedua menuju area persawahan Kampung Lampeso dengan waktu tempuh sekitar 20 jam. Selanjutnya dilakukan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso, sebelum dibawa melalui jalur setapak sejauh kurang lebih 15 kilometer dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 5 kilometer menuju jalan poros Kecamatan Cenrana.

Jenazah selanjutnya direncanakan dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk proses identifikasi oleh tim DVI.

Hingga berita ini diturunkan, korban pertama masih berada di wilayah Lampeso dan proses evakuasi lanjutan terus dipantau sesuai perkembangan di lapangan.

 

Komentar