Kamis, 04 Juni 2026 | 05:00
COMMUNITY

Lailatul Qadar Dan Kesadaran Iman

Lailatul Qadar Dan Kesadaran Iman
Ilustrasi

ASKARA - Fenomena umat yang terjaga semalaman demi euforia dunia namun tertidur saat malam paling mulia dalam Islam adalah cermin kealpaan spiritual yang kian nyata. Lailatul Qadar datang membawa cahaya petunjuk, tetapi sering terlewat karena lalai menjaga shalat dan waktu. Dari sinilah Al-Qur’an dan hadis menuntun manusia agar kembali menata iman, amal, dan kesungguhan hati.

Narasi tentang umat yang tertidur pada Lailatul Qadar tetapi bergadang pada malam tahun baru bukan sekadar sindiran, melainkan potret kegamangan ruhani. Malam yang oleh Allah ditetapkan lebih baik dari seribu bulan sering berlalu tanpa doa, istighfar, dan sujud, sementara malam pergantian kalender masehi disambut dengan pesta, suara riuh, dan kelalaian hingga tertinggal shalat Subuh. Padahal, ukuran kemuliaan sebuah malam bukan pada hiruk pikuknya, melainkan pada sejauh mana malam itu mendekatkan manusia kepada Rabb-nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kemuliaan Lailatul Qadar:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3).
Ayat ini menegaskan bahwa satu malam yang dihidupkan dengan iman dan ibadah nilainya melampaui umur panjang yang kosong dari ketaatan. Namun, betapa ironis ketika malam seagung ini justru diisi dengan tidur panjang tanpa zikir, sementara malam duniawi diisi dengan begadang tanpa manfaat akhirat.

Lebih lanjut Allah menggambarkan turunnya rahmat dan ketenangan pada malam tersebut:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 4–5).
Turunnya malaikat adalah simbol limpahan rahmat, ampunan, dan doa yang diijabah. Namun semua itu hanya diraih oleh hati yang terjaga, bukan oleh jiwa yang terlelap karena lalai.

Keterpurukan umat sering berawal dari kelalaian terhadap shalat, terutama shalat Subuh dan Isya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan dengan sabda yang tegas dan jujur. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda:
لَيْسَ صَلاَةٌ أَثْقَلَ عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ صَلاَةِ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا
“Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang munafik daripada shalat Subuh dan Isya. Seandainya mereka mengetahui pahala keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (HR. Bukhari no. 657 dan Muslim no. 651).
Hadis ini bukan untuk menuduh, tetapi sebagai cermin agar setiap mukmin bertanya pada dirinya sendiri: di mana posisi shalat dalam hidupku.

Begadang demi hiburan hingga lalai shalat Subuh menunjukkan terbaliknya skala prioritas. Padahal Allah telah mengingatkan:
إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 103).
Waktu shalat bukan sekadar jadwal, melainkan ikatan janji antara hamba dan Tuhannya. Ketika janji itu diremehkan, maka jangan heran jika keberkahan hidup perlahan tercabut.

Lailatul Qadar mengajarkan bahwa kebangkitan umat dimulai dari kesadaran individu untuk memuliakan waktu, menjaga shalat, dan menghidupkan malam dengan doa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa mendirikan Lailatul Qadar dengan penuh iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ampunan ini adalah modal besar untuk memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat.

Maka benar jika dikatakan, jangan heran melihat sebab-sebab kebinasaan dan keterpurukan ketika malam mulia diabaikan, sementara malam sia-sia dirayakan. Namun Islam selalu membuka pintu harapan. Selama Subuh masih terbit dan hati masih mau kembali, rahmat Allah lebih luas dari dosa-dosa manusia. Kesadaran untuk memuliakan Lailatul Qadar dan menjaga shalat, khususnya Subuh dan Isya, adalah langkah awal kebangkitan iman. Dari sinilah cahaya Al-Qur’an kembali menerangi jalan hidup, mengangkat derajat, dan menuntun umat menuju kemuliaan yang hakiki. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar