Rabu, 17 Juni 2026 | 17:58
Ruang Menulis

Cerpen: Bingkai Tikus Botol dan Aku

Cerpen: Bingkai Tikus Botol dan Aku
Ilustrasi

ASKARA - Foto itu selalu muncul lagi di layar ponselku setiap kali grup keluarga ramai membahas harga beras, pajak, dan hidup yang kian sempit. Seekor tikus terjerat papan lem, di samping botol minuman kosong. Banyak yang tertawa. Aku tidak. Foto itu adalah bingkai tentang rumahku, tentang kebiasaan menilai, dan tentang perangkap yang sering kita sebut keadilan.

Aku selalu memulai kisah ini dari foto. Bukan karena fotonya indah, melainkan karena ia jujur. Seekor tikus pithi berwarna cokelat kusam tergeletak di papan lem. Matanya sayu, napasnya berat, bulunya kusut. Di sampingnya ada botol kecil dengan tutup terbuka, isinya tinggal sisa. Latar belakangnya lantai rumahku sendiri, keramik retak yang tak pernah benar benar sempat diperbaiki.

Mereka yang melihat foto itu tertawa. Ada yang menyebutnya tikus alkoholik. Ada yang menimpali dengan nasihat singkat tentang nafsu dan akibat. Aku membaca satu per satu tanpa ikut menambahkan apa pun. Mereka hanya melihat satu bingkai. Mereka tidak tahu bagaimana cerita ini dimulai.

Berhari hari tikus itu berkeliaran di rumahku. Aku menyebutnya pithi karena tubuhnya kecil dan gesit. Umpan keju tidak disentuhnya. Ikan pindang ia biarkan mengering. Daging sisa hari raya pun tak ia lirik. Setiap pagi aku menemukan jejak kakinya di sudut dapur, bekas gigitan di karung beras, dan decit tipis yang terdengar seperti ejekan di tengah malam.

Aku marah. Bukan hanya pada tikus itu, tetapi pada keadaan yang membuatku harus menghitung beras per gelas. Aku merasa sebagai korban. Rumah ini terasa semakin sempit oleh kecemasan. Aku menilai diri sendiri sebagai orang yang taat, tertib, dan tak merugikan siapa pun. Dalam benakku, yang salah selalu ada di luar diriku.

Suatu malam aku duduk sendirian di ruang tengah. Televisi menyala dengan suara berita yang menumpuk. Tentang uang rakyat, tentang orang orang rapi yang lolos dari jerat, tentang kata tikus yang diulang ulang seperti cap. Aku mematikan suara televisi. Kepalaku penuh. Tanganku meraba lemari dan menemukan botol minuman yang lama tersimpan. Hadiah lama yang tak pernah kubuka.

Entah dorongan apa yang membuatku meletakkan botol itu di lantai, tepat di jalur pithi biasa melintas. Di sampingnya kupasang papan lem. Aku tidak berharap banyak. Ini lebih seperti percobaan kecil untuk membungkam rasa jengkel.

Tidak lama kemudian terdengar bunyi berisik. Aku bergegas ke dapur. Pithi terperangkap. Moncongnya basah. Kakinya menempel. Botol itu terguling dengan cairan berkurang. Aku berdiri kaku. Ada rasa menang yang cepat menguap. Ada iba yang tidak sempat tumbuh. Dadaku terasa kosong.

Aku mengambil foto. Bukan untuk pamer. Lebih sebagai bukti bahwa sesuatu telah terjadi. Setelah itu aku mencuci tangan dan kembali duduk. Lantai terasa lebih dingin dari biasanya. Aku menatap foto itu lama sekali. Dalam bingkai kecil, ada cerita tentang pilihan dan umpan.

Keesokan hari foto itu beredar. Komentar berdatangan. Tawa, sindiran, dan kalimat tentang betapa mudahnya menjebak tikus kecil. Ada yang menulis bahwa seandainya tikus perusak uang rakyat semudah ini ditangkap, hidup akan lebih ringan. Aku membaca sambil mengangguk, seolah setuju, seolah berada di sisi yang benar.

Malam berikutnya aku sulit tidur. Aku memikirkan botol itu. Bukan tentang minumannya, melainkan tentang fungsi botol sebagai janji kecil. Ia tidak memaksa. Ia hanya menunggu kebiasaan. Pithi tidak lapar keju atau ikan. Ia datang karena sesuatu yang lain, sesuatu yang memberi rasa hangat sesaat.

Beberapa hari berlalu. Keramik retak di lantai semakin terasa menyakitkan di telapak kaki. Aku menunda memperbaikinya karena uang harus dibagi bagi. Pagi itu seorang pria berseragam datang membawa map cokelat. Ia bicara sopan dan singkat. Ada angka angka yang harus dibayar. Ada tenggat. Ada ancaman yang dibungkus kalimat rapi.

Setelah ia pergi, rumah terasa hening. Aku duduk di lantai, tepat di tempat pithi dulu terjerat. Papan lem masih ada, belum sempat kubuang. Di sana menempel sisa bulu. Aku menarik napas panjang dan menyadari sesuatu yang pelan pelan merambat.

Aku menertawakan tikus karena tergoda botol. Aku memaki tikus besar di layar karena rakus. Namun aku sendiri menempel pada botol botol lain. Janji kecil yang menenangkan. Kebiasaan mengeluh tanpa berbuat. Rasa aman palsu karena merasa berada di pihak yang benar.

Aku berdiri dan melihat bayanganku di cermin. Wajah lelah, mata cekung, bahu turun. Tidak ada dasi. Tidak ada kekuasaan. Hanya seseorang yang terperangkap rapi oleh papan lem yang tak kasatmata. Aku mengangkat papan lem itu, lalu berhenti.

Foto itu bukan tentang tikus pithi. Foto itu tentang bingkai. Tentang bagaimana kita memilih melihat. Tentang umpan yang disesuaikan dengan kebiasaan. Tentang tawa yang menutupi kenyataan.

Aku meletakkan papan lem ke tempat sampah. Botol itu kusimpan kembali. Saat kembali ke ruang tengah, ponselku menyala dengan notifikasi baru. Foto yang sama muncul lagi. Komentar bertambah. Aku tidak ikut menertawakan. Aku mematikan layar dan duduk diam.

Di lantai yang retak itu, aku akhirnya mengerti. Bukan tikus yang membuatku terkejut. Melainkan kesadaran bahwa aku berada di dalam bingkai yang sama, menunggu umpan berikutnya sambil merasa aman. (Dwi Taufan Hidayat)

Komentar