Selasa, 21 Juli 2026 | 02:14
NEWS

Tiga Portal Energi Gunung Padang Terbuka

Tiga Portal Energi Gunung Padang Terbuka
Gunung Padang (Dok Askara)

ASKARA - Penutupan akhir tahun 2025 di Gunung Padang semakin dimaknai sebagai peristiwa spiritual, menyusul digelarnya pertunjukan budaya sakral pada 4 Desember lalu yang diyakini membuka tiga portal energi utama di kawasan situs megalitikum tersebut.

Pertunjukan musik sape dan tari Bedayan Nawasena oleh Grup Tari Arkamaya Sukma, serta tari Rejangsari yang dibawakan SlarasBudaya, berlangsung dalam suasana hening dan khidmat. Acara ini diinisiasi oleh pengamat spiritual Dar Edi Yoga, bersama Cahaya Adi Wibowo dan Kolonel Laut IGN. Pundjung.

Menurut Cahaya Adi Wibowo, pertunjukan tersebut bukan sekadar pagelaran seni, melainkan medium pemanggilan kesadaran leluhur melalui getaran bunyi, gerak, dan niat. Ia menyebut, sejak momen itu, terdeteksi terbukanya tiga portal energi di Gunung Padang, masing-masing berada di Teras 1, Teras 3, dan Teras 5.

"Teras 1 adalah portal pembuka, tempat manusia melepaskan ego dan beban duniawi. Teras 3 menjadi ruang penyelarasan batin. Sementara Teras 5 adalah puncak energi kesadaran, tempat niat diuji," ujar Adi Wibowo, Selasa (30/12).

Ia menjelaskan, musik sape menghasilkan frekuensi rendah yang menyatu dengan getaran batu, sementara tarian Bedayan Nawasena dan Rejangsari berfungsi sebagai bahasa tubuh sakral untuk membangunkan memori alam. Kombinasi ini diyakini menciptakan resonansi yang membuka jalur energi lama yang selama ini tertutup.

Sejak peristiwa 4 Desember tersebut, sejumlah pengunjung mengaku merasakan pengalaman batin yang tidak biasa, mulai dari rasa hangat di dada, kesedihan yang tiba-tiba muncul lalu menghilang, hingga mimpi-mimpi simbolik setelah turun dari Gunung Padang. Fenomena ini dinilai sebagai proses pembersihan energi personal.

Menurut Dar Edi Yoga, terbukanya portal energi bukan untuk kepentingan sensasi atau eksploitasi. Ia justru mengingatkan agar masyarakat datang dengan niat yang bersih dan sikap hormat. "Gunung Padang tidak memberi apa yang kita mau, tapi menunjukkan apa yang perlu kita lepaskan," katanya.

Menjelang akhir 2025, Gunung Padang kembali dipandang bukan hanya sebagai situs sejarah, melainkan ruang spiritual aktif, tempat budaya, alam, dan kesadaran manusia bertemu. Tiga portal yang terbuka menjadi penanda bahwa Gunung Padang sedang "berbicara", dan hanya mereka yang datang dengan keheningan batin yang mampu mendengarnya.

 

 

Komentar