Rabu, 22 Juli 2026 | 04:30
NEWS

Yulius Setiarto: Bersama Mbah Sadiman, Penghijauan Wonogiri Wujud Bela Negara Ekologis

Yulius Setiarto: Bersama Mbah Sadiman, Penghijauan Wonogiri Wujud Bela Negara Ekologis
Mbah Sadiman, pelaku penghijauan Wonogiri (Dok Askara)

ASKARA - Anggota DPR RI Komisi I dari Dapil Banten III, Yulius Setiarto, menegaskan bahwa gerakan penghijauan bukan sekadar aktivitas pelestarian lingkungan, melainkan bagian penting dari ketahanan nasional dan wujud nyata bela negara berbasis ekologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Yulius saat menghadiri Gerakan Penghijauan PAWONMAS bersama Laskar Sadiman di Wonogiri, Jawa Tengah. Meski kini mengabdi di Senayan mewakili wilayah Banten, Yulius menegaskan kehadirannya di Wonogiri didorong oleh ikatan batin sebagai putra daerah.

“Saya berdiri di sini bukan hanya sebagai Anggota DPR RI, tetapi sebagai anak Wonogiri. Tanah yang berbukit dan berbatu ini melahirkan manusia-manusia tangguh yang mampu hidup dan menciptakan kehidupan di mana pun,” ujar Yulius dalam keterangan, Minggu (28/12).

Ia menggambarkan Wonogiri sebagai wilayah dengan bentang alam beragam, mulai dari kawasan karst di selatan, perbukitan di wilayah tengah, hingga dataran dan waduk di bagian timur. Kondisi tersebut, menurutnya, melahirkan kearifan lokal yang menekankan harmoni antara manusia dan alam.

Yulius menuturkan, sejak lama masyarakat Wonogiri memiliki tradisi menjaga hutan dan sumber daya alam sebagai ruang hidup yang harus dihormati. Praktik menjaga sendang, melindungi pohon di sekitar sumber air, hingga larangan menebang pohon secara sembarangan menjadi fondasi etika ekologis masyarakat desa.

“Leluhur kita percaya, hutan yang dijaga akan menjaga manusia. Apa yang dilakukan Mbah Sadiman dan Laskar Sadiman hari ini adalah kelanjutan laku hidup itu. Ini bukan proyek, melainkan pengabdian,” tegasnya.

Dalam sambutannya, Yulius juga mengaitkan gerakan penghijauan di Wonogiri dengan sejarah Presiden pertama RI, Soekarno, yang menggagas penghijauan di Padang Arafah pada 1955. Pohon-pohon yang dikenal sebagai “Pohon Soekarno” hingga kini tumbuh rindang dan menjadi simbol warisan hijau Indonesia di Tanah Suci.

“Jika di tanah segersang Arafah penghijauan bisa dilakukan, maka di Wonogiri, meski kering dan berbatu, kita tidak punya alasan untuk menyerah. Menanam pohon berarti menanam harapan,” katanya.

Yulius juga mengutip pandangan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang menekankan bahwa krisis lingkungan merupakan krisis etika, serta pentingnya prinsip Memayu Hayuning Bawana, yakni merawat dunia agar tetap sejahtera.

Sebagai anggota Komisi I DPR RI, Yulius menegaskan bahwa persoalan lingkungan memiliki kaitan langsung dengan stabilitas nasional. “Tanpa hutan kita kehilangan air, tanpa air kita kehilangan pangan, dan tanpa pangan kita kehilangan stabilitas sosial. Karena itu, gerakan penghijauan adalah bagian dari ketahanan nasional,” ujarnya.

Ia menyebut gerakan Laskar Sadiman sebagai bentuk patriotisme sunyi yang lahir dari desa dan rakyat, namun berdampak lintas generasi. Menanam dan merawat pohon hari ini, menurutnya, merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa.

Menutup sambutannya, Yulius berharap generasi mendatang dapat mengenang upaya hari ini sebagai langkah penting dalam menjaga alam di tengah krisis ekologis. “Menanam hari ini, memanen masa depan. Merawat alam, dari Wonogiri untuk Indonesia,” pungkasnya.

 

 

Komentar