Kamis, 18 Juni 2026 | 00:31
COMMUNITY

FPPA Merauke Gelar Seminar 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

FPPA Merauke Gelar Seminar 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Sejumlah narasumber di Seminar 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Dok Winona)

ASKARA - Forum Peduli Perempuan dan Anak (FPPA) Merauke, bersama lintas stakeholder, menggelar Seminar 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan bertema “Kita Punya Andil, Kembalikan Ruang Aman” pada Senin (9/12) di Swiss-Belhotel Merauke. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye nasional untuk memperkuat perlindungan bagi perempuan dan anak di tengah meningkatnya kasus kekerasan di Indonesia.

Acara ini terselenggara melalui kerja sama berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar Selandia Baru, The Asia Foundation, Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Perkumpulan Petrus Vertenten, organisasi Berakhlak, serta Pemerintah Kabupaten Merauke dan Pemerintah Provinsi Papua Selatan melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan.

Seminar dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Merauke sekaligus Ketua FPPA Kabupaten Merauke, Dr. Fauzun Nihayah, SHi, MH. Dalam sambutannya, Fauzun menekankan tiga poin penting yang perlu diperkuat: regulasi dan SOP dalam pencegahan kekerasan, peningkatan langkah preventif yang berkelanjutan, serta kolaborasi lintas sektor sebagai kunci penanganan korban secara komprehensif.

Kegiatan sehari penuh ini menghadirkan sejumlah narasumber, yaitu Dr. Fauzun Nihayah, Ketua FPPA; Syafruddin, SH, MH, Ketua Pengadilan Negeri Merauke; AKBP Endang Sri Lestari, SH, MH dari Direktorat PPA & TPPO Bareskrim Polri; serta Kompol Nuryanty, SH, MH, Wakapolres Merauke. Peserta seminar hadir dari berbagai daerah, mulai dari Jayapura hingga Merauke, serta mengikuti secara daring dari Jakarta, Mappi, Asmat, Boven Digoel, dan anggota FPPA lainnya.

Kasus Kekerasan Masih Tinggi

Dalam seminar ini dipaparkan data Simfoni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) yang menunjukkan bahwa sejak Januari hingga Oktober 2025 terdapat 26.235 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia. Papua Selatan mencatat 139 kasus pada periode yang sama, dengan rincian: Merauke 75 kasus, Asmat 60 kasus, Boven Digoel 4 kasus, dan Mappi 0 kasus. Angka nol pada Mappi bukan berarti tidak ada kekerasan, melainkan adanya kendala dalam pelaporan dan pencatatan data.

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) menjadi kasus tertinggi di Papua Selatan, disusul kekerasan seksual. Situasi ini, menurut Fauzun, menjadi alarm serius bagi semua pihak untuk memperkuat sistem perlindungan.

Kolaborasi Jadi Kunci

FPPA Merauke menegaskan pentingnya sinergi pemerintah, swasta, lembaga pendamping korban, komunitas, dan tokoh masyarakat dalam mewujudkan ruang aman bagi perempuan dan anak. Komitmen bersama lintas sektor yang sudah berjalan di Merauke diharapkan menjadi model kolaborasi yang dapat direplikasi di daerah lain.

Seminar ini menutup rangkaian kegiatan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dengan pesan kuat: upaya perlindungan tidak boleh berhenti, dan setiap pihak memiliki andil dalam memastikan perempuan dan anak hidup bebas dari kekerasan.

 

 

Komentar