Pastor Berseragam Loreng Peraih Rekor MURI Kini Lahir Baru di Usia 58
ASKARA - Saya mengenal Romo Kolonel (Purn) Yos Bintoro, Pr. sejak masa kecil saya. Tahun 80-an, ketika saya masih menjadi misdinar di Gereja Katedral Jakarta, beliau belum menjadi pastor, bahkan belum menjadi perwira TNI. Saat itu, ia masih seorang frater, menjalani Tahun Orientasi Pastoral, dan kami para misdinar hanya tahu satu hal, Frater Yote, demikian kami memanggilnya, selalu hadir dengan senyum ramah dan perhatian yang hangat.
Waktu berlalu, hidup membawa kami ke banyak tempat berbeda, tetapi jejak perjumpaan itu ternyata panjang. Saya kembali bertemu Romo Yote ketika ia sudah menjadi seorang perwira berpangkat kapten dan bertugas di Paroki St. Mikael di kompleks TNI AU Yogyakarta. Gereja yang ia layani waktu itu bukanlah bangunan megah, hanya sebuah hanggar pesawat yang kemudian ia sulap menjadi rumah ibadah yang pantas. Dari situ terlihat jelas bahwa Romo Yote bukan sekadar imam, ia pekerja keras, pembangun, dan penggerak.
Beberapa kali saya berkunjung lagi ke paroki itu, hingga dia naik pangkat menjadi Letnan Kolonel. Setiap periode hidupnya selalu ia isi dengan pelayanan dan perubahan nyata. Tidak ada tempat yang ditinggalkan dalam keadaan sama; semuanya selalu dibuat lebih baik, tertata, dan lebih hidup.
Ketika kemudian Romo Yos dipindahkan ke Jakarta, perjalanan kami kembali bersinggungan. Dari tugasnya di Mabes TNI Cilangkap hingga karya pelayanannya di Gereja St. Agustinus Halim, karakter khasnya tetap sama: membangun, memperbaiki, menghidupkan. Gereja St. Agustinus yang kini tampak jauh lebih baik adalah bukti nyata kerja sunyi itu. Meski begitu, dia masih menyimpan satu cita-cita besar, mewujudkan gereja yang lebih luas dan layak bagi sekitar 1.800 umat yang hingga kini harus berbagi tempat di gereja berkapasitas 350 orang, kendati hasil kolekte umatnya masuk dalam nomor 3 terendah dari 66 paroki di Keuskupan Agung Jakarta.
Yang membuat perjalanan Romo Yos semakin istimewa adalah sejarah yang ia ukir di luar pelayanan gereja. Pada 15 April 2018, Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) memberikan penghargaan untuknya sebagai "Pastor Pertama yang Sekolah Perwira Prajurit Karir di Akmil." Sebuah pencapaian yang bukan hanya membanggakan Gereja Katolik, tetapi juga mencatatkan namanya dalam sejarah pendidikan militer Indonesia. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Jaya Suprana, menegaskan bahwa jejak langkah Romo Yos memang bukan jejak biasa.
Dan hari ini, Minggu (30/11), pada ulang tahunnya yang ke-58, ia memasuki masa purnabakti dari dinas TNI. Namun, ada satu kalimat yang ia ucapkan yang terasa menyentuh dan memaknai seluruh perjalanan panjang itu:
“Saya merasa lahir baru.”
Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Dalam hidup seorang imam yang sekaligus seorang prajurit, mungkin inilah titik ketika semua perjuangan, karya, dan pengorbanan menemukan bentuk barunya, bukan sebagai akhir, melainkan permulaan babak baru.
Misa syukur hari ini bukan sekadar ungkapan terima kasih atas pengabdian panjang seorang imam berpakaian loreng. Lebih dari itu, ini adalah perayaan atas seorang manusia yang setia berjalan di jalannya, mendengarkan panggilan Tuhan dengan cara yang tidak biasa, tetapi justru memperkaya begitu banyak umat yang pernah ditemuinya.
Romo Kolonel Yos Bintoro tidak hanya membangun gereja-gereja. Ia membangun kenangan, kedekatan, dan teladan tentang arti pengabdian yang tidak bersuara keras, tetapi hadir lewat tindakan nyata.
Dan bagi saya, pertemuan pertama di Katedral Jakarta puluhan tahun lalu kini terasa seperti benang kecil yang diam-diam ditenun Tuhan untuk membentuk kisah panjang hari ini.

Komentar