Prof. Rokhmin Dahuri: Kolaborasi Akademisi dan Komunitas Jadi Kunci Edukasi Perubahan Iklim di Cirebon
ASKARA — Sebuah Focus Group Discussion (FGD) yang digelar lintas komunitas bersama peneliti dari UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon pada Rabu (26/11) mendapat sambutan hangat dari pakar kelautan dan lingkungan sekaligus Anggota DPR RI periode 2024–2029, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor Universitas UMMI Bogor ini menekankan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan komunitas dalam memperkuat edukasi perubahan iklim, khususnya di Kabupaten Cirebon yang dikenal rentan terhadap dampak krisis iklim.
Diskusi yang berlangsung penuh antusiasme ini turut menghadirkan akademisi sekaligus dosen UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Sopidi, MA. Kedua tokoh ini menyoroti urgensi sinergi lintas sektor untuk membangun kesadaran masyarakat sekaligus memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Dalam paparannya, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan bahwa akademisi memiliki peran strategis dalam menyediakan pengetahuan dan teknologi yang relevan, sementara komunitas menghadirkan pengalaman serta kearifan lokal yang tak ternilai.
“Dengan kolaborasi ini, kita dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim,” ujar Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University.
Lebih lanjut, Prof.Rokhmin menekankan relevansi penerapan Model Hepta Helix sebagai strategi edukasi iklim di Cirebon. Model ini melibatkan tujuh elemen penting: pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, media, teknologi, dan lingkungan.
Menurutnya, keterlibatan semua unsur tersebut akan menciptakan ekosistem yang lebih tangguh dalam menghadapi ancaman iklim.
“Kolaborasi akademisi dan komunitas hijau sangat penting dalam edukasi perubahan iklim di Kabupaten Cirebon. Implementasi Model Hepta Helix dapat menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat,” tegas Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001–2004 itu.
Sementara itu, Dr. Sopidi menambahkan bahwa perubahan iklim merupakan tantangan global yang membutuhkan aksi nyata dari berbagai pihak. Ia menyoroti posisi Kabupaten Cirebon sebagai wilayah yang rentan terhadap dampak iklim, sehingga strategi edukasi dan kolaborasi menjadi kebutuhan mendesak.
“Kabupaten Cirebon memerlukan strategi yang efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim,” ungkapnya.
Diskusi ini menghasilkan sejumlah rekomendasi penting, di antaranya:
- Meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat melalui implementasi Model Hepta Helix.
- Memperkuat kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah dalam edukasi perubahan lingkungan.
- Mengembangkan pengetahuan dan teknologi yang relevan untuk mendukung program edukasi iklim.
Dengan adanya rekomendasi tersebut, FGD ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam membangun gerakan bersama menghadapi perubahan iklim di Kabupaten Cirebon. Kolaborasi lintas sektor bukan hanya menjadi wacana, melainkan sebuah strategi nyata untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan masa depan masyarakat.

Komentar